Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., SPd., MSE
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA
Lamongan, KabarOne News.com-Hari Pers Nasional bukan sekadar momentum seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi bersama tentang posisi strategis pers dalam menjaga nalar publik, memperkuat demokrasi, dan merawat harapan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, peran pers justru semakin krusial bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi sebagai penjernih fakta dan penjaga akal sehat bangsa.
Pers hari ini berada di persimpangan yang tidak mudah. Di satu sisi, teknologi digital membuka ruang yang sangat luas bagi penyebaran informasi secara cepat dan masif. Namun di sisi lain, ruang yang sama juga dipenuhi disinformasi, hoaks, polarisasi opini, hingga konten yang mengaburkan batas antara fakta dan kepentingan. Dalam situasi seperti ini, pers nasional dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga cermat; tidak hanya berani, tetapi juga bertanggung jawab.
Sejarah telah membuktikan bahwa pers Indonesia selalu hadir dalam setiap fase penting perjalanan bangsa. Dari masa perjuangan kemerdekaan, era transisi demokrasi, hingga masa pembangunan dan transformasi digital saat ini, pers konsisten menjadi suara publik yang mengawal kekuasaan agar tetap berada di rel konstitusi dan kepentingan rakyat. Fungsi kontrol sosial inilah yang membuat pers menjadi pilar demokrasi yang tidak tergantikan.
Dalam konteks pembangunan ekonomi dan sosial, pers memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan dan realitas lapangan. Pers mampu menyuarakan denyut nadi masyarakat kecil, UMKM, petani, nelayan, hingga pelaku ekonomi lokal yang sering luput dari perhatian. Di sinilah pers bukan hanya melaporkan angka pertumbuhan, tetapi juga mengungkap kualitas pertumbuhan dan keadilan distribusinya.
Bagi dunia pendidikan dan akademik, pers adalah mitra intelektual yang sangat penting. Pers membantu mentransformasikan gagasan ilmiah, hasil riset, dan pemikiran kritis kampus agar dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Ketika pers dan akademisi berjalan beriringan, maka literasi publik akan tumbuh, diskursus kebijakan menjadi lebih sehat, dan kualitas pengambilan keputusan publik meningkat.
Namun, tantangan terbesar pers saat ini bukan hanya eksternal, melainkan juga internal: menjaga independensi di tengah tekanan ekonomi, algoritma digital, dan kepentingan modal. Profesionalisme, etika jurnalistik, dan keberpihakan pada kebenaran harus tetap menjadi kompas utama. Kepercayaan publik adalah modal terbesar pers, dan kepercayaan itu hanya dapat dijaga dengan konsistensi pada nilai-nilai jurnalistik yang luhur.
Hari Pers Nasional juga menjadi momentum untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para insan pers wartawan, editor, redaktur, hingga pekerja media yang dengan dedikasi tinggi terus bekerja di lapangan, sering kali dalam keterbatasan dan risiko. Kerja jurnalistik bukan pekerjaan yang ringan; ia menuntut keberanian, integritas, dan keteguhan moral.
Ke depan, pers nasional diharapkan semakin adaptif tanpa kehilangan jati diri. Adaptif terhadap teknologi, format baru, dan perilaku audiens, namun tetap teguh pada prinsip kebenaran, keberimbangan, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Pers yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kritis, dan masyarakat yang kritis adalah fondasi bagi bangsa yang maju dan berkeadilan.
Selamat Hari Pers Nasional. Teruslah menjadi lentera di tengah kabut informasi, penjaga nurani demokrasi, dan suara jujur bagi Indonesia yang lebih beradab dan berkemajuan.



















