Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA
Surabaya, KabarOne News.com-Ketika nilai tukar rupiah menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar Amerika, kegelisahan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar besar dan investor, tetapi justru paling nyata menghantam pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional kembali diuji ketangguhannya. Kenaikan harga bahan baku impor, biaya logistik yang semakin mahal, serta daya beli masyarakat yang cenderung menahan konsumsi membuat pelaku UMKM berada dalam posisi serba sulit. Di tengah ketidakpastian ini, satu pilihan rasional yang banyak diambil adalah fokus pada penjualan skala kecil yang cepat berputar, bukan lagi pada ambisi besar membangun konten, branding mahal, atau ekspansi agresif yang berisiko.
Fenomena ini sesungguhnya mencerminkan kedewasaan UMKM dalam membaca situasi. Pada fase ekonomi yang tidak stabil, orientasi bertahan hidup menjadi prioritas utama. Cash flow menjadi raja. Penjualan harian, repeat order, dan pelanggan loyal jauh lebih penting daripada sekadar viral di media sosial. Konten tetap dibutuhkan, namun bukan konten yang menguras biaya dan energi tanpa konversi penjualan. UMKM mulai menyadari bahwa likes dan views tidak selalu berbanding lurus dengan omzet. Dalam konteks inilah, kolaborasi UMKM dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence menjadi relevan, bahkan strategis.
AI tidak lagi identik dengan teknologi mahal milik korporasi besar. Saat ini, AI hadir dalam bentuk yang sangat praktis dan terjangkau, mulai dari chatbot layanan pelanggan, analisis perilaku konsumen, desain kemasan sederhana, penulisan caption promosi, hingga prediksi permintaan berbasis data penjualan. Bagi UMKM, AI dapat menjadi asisten digital yang membantu mengambil keputusan cepat dan efisien di tengah keterbatasan sumber daya. Ketika rupiah melemah dan biaya operasional meningkat, efisiensi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Kolaborasi UMKM dengan AI seharusnya dimaknai sebagai alat bantu untuk memperkuat penjualan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. AI dapat membantu UMKM menentukan produk mana yang paling laku di skala kecil, kapan waktu terbaik untuk promosi, dan segmen konsumen mana yang masih memiliki daya beli di tengah tekanan ekonomi. Dengan pendekatan ini, UMKM tidak terjebak pada produksi berlebihan atau promosi yang salah sasaran. Data sederhana yang diolah dengan bantuan AI mampu memberikan insight yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pelaku usaha kecil.
Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, banyak UMKM memilih strategi “kecil tapi jalan”. Artinya, volume penjualan mungkin tidak besar, namun perputaran cepat dan risiko rendah. AI dapat memperkuat strategi ini dengan membantu mengelola stok secara lebih presisi, memprediksi kebutuhan bahan baku, dan menghindari pemborosan. Ketika harga dolar naik, kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berdampak besar pada keberlangsungan usaha. Di sinilah peran AI sebagai alat mitigasi risiko menjadi sangat penting.
Namun demikian, kolaborasi dengan AI tidak boleh menggeser nilai-nilai dasar UMKM. Keunggulan UMKM Indonesia selama ini terletak pada kedekatan dengan konsumen, fleksibilitas, dan sentuhan manusiawi. AI harus ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengganti. Pelaku UMKM tetap harus memahami pelanggannya secara empatik, menjaga kualitas produk, dan membangun kepercayaan. Teknologi tanpa nilai akan kehilangan makna, sementara nilai tanpa adaptasi teknologi berisiko tertinggal.
Menariknya, tekanan ekonomi justru dapat menjadi momentum transformasi. Ketika kondisi normal, banyak UMKM cenderung nyaman dengan cara lama. Namun saat rupiah melemah dan pasar tidak pasti, keterpaksaan untuk berinovasi muncul. AI dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk naik kelas secara bertahap. Tidak harus langsung kompleks, cukup dimulai dari hal sederhana seperti pencatatan keuangan digital, analisis penjualan mingguan, atau otomatisasi balasan pesan pelanggan. Langkah kecil ini, jika dilakukan konsisten, akan membangun fondasi usaha yang lebih kuat.
Di sisi lain, ekosistem juga memiliki peran penting. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping UMKM harus hadir sebagai fasilitator literasi AI yang membumi. Jangan sampai AI hanya menjadi jargon elit yang jauh dari realitas pelaku usaha kecil. Pendampingan harus berorientasi pada kebutuhan nyata UMKM, yaitu bagaimana teknologi membantu penjualan, menekan biaya, dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah fluktuasi ekonomi. Di sinilah kolaborasi antara dunia akademik dan UMKM menemukan relevansinya.
Kita juga perlu jujur bahwa tidak semua UMKM siap dengan transformasi digital yang cepat. Oleh karena itu, pendekatan yang inklusif dan bertahap menjadi kunci. Fokus utama tetap pada penguatan penjualan riil. Konten digital tetap penting, tetapi harus fungsional, sederhana, dan berorientasi konversi. AI dapat membantu menyederhanakan proses pembuatan konten yang efektif tanpa harus mahal dan rumit. Dengan demikian, UMKM tidak terjebak pada euforia digital, tetapi memanfaatkan teknologi secara rasional.
Ketika rupiah berada di level Rp17.000 per dolar, tantangan ekonomi memang nyata, tetapi sejarah menunjukkan bahwa UMKM Indonesia selalu mampu bertahan dalam krisis. Dari krisis 1998 hingga pandemi, UMKM menjadi penopang ekonomi nasional. Kali ini pun, dengan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, UMKM memiliki peluang yang sama. AI bukan solusi ajaib, tetapi alat strategis yang, jika digunakan dengan tepat, dapat membantu UMKM bertahan bahkan tumbuh di tengah ketidakpastian.
Pada akhirnya, masa depan UMKM bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa bijak teknologi digunakan untuk menjawab kebutuhan pasar. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan, orientasi pada penjualan nyata, efisiensi, dan keberlanjutan harus menjadi kompas utama. Kolaborasi UMKM dengan AI adalah ikhtiar rasional untuk menjawab tantangan zaman, bukan sekadar mengikuti arus. Dari bertahan hidup menuju naik kelas, UMKM Indonesia kembali diuji, dan sejarah optimisme itu masih layak kita pertahankan.

















