Oleh: DR.H.Abid Muhtarom,SE.,MSE (Dekan FEB UNISLA)
Lamongan, KabarOneNews.com-Ketika nilai tukar rupiah kembali tertekan dan dolar Amerika Serikat menembus angka psikologis di atas Rp17.000, denyut ekonomi nasional kembali diuji. Di tengah situasi global yang tidak menentu, ketegangan geopolitik, serta dinamika kebijakan politik dalam negeri yang terus bergerak, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali berada di garis depan. Seperti krisis-krisis sebelumnya, UMKM bukan hanya menjadi sektor yang paling rentan, tetapi sekaligus yang paling adaptif dan menentukan arah ketahanan ekonomi nasional.
Data resmi dari berbagai lembaga negara menunjukkan bahwa UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Jumlahnya mencapai lebih dari 65 juta unit usaha dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, sekaligus berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka-angka ini menegaskan satu hal penting: setiap gejolak nilai tukar, perubahan kebijakan fiskal dan moneter, hingga arah politik nasional, akan selalu bermuara pada nasib UMKM di lapangan.
Kenaikan dolar di atas Rp17.000 membawa konsekuensi langsung bagi UMKM, terutama yang bergantung pada bahan baku impor, mesin produksi, kemasan, dan logistik. Biaya produksi meningkat, margin keuntungan tergerus, dan harga jual produk terpaksa disesuaikan. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih, sehingga ruang menaikkan harga menjadi sangat terbatas. Kondisi ini memaksa pelaku UMKM untuk berpikir ulang, bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga soal strategi bertahan dan memenangkan pasar.
Di sinilah personal branding pelaku UMKM mulai memainkan peran yang semakin penting. Pasar hari ini tidak lagi hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, nilai, dan kepercayaan. Konsumen generasi muda, khususnya, cenderung memilih produk yang memiliki identitas kuat, narasi autentik, dan kedekatan emosional. UMKM yang mampu membangun citra personal pemilik usahanya sebagai sosok yang jujur, kreatif, dan relevan dengan isu kekinian, memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Tren pasar saat ini menunjukkan bahwa produk UMKM yang laris bukan semata-mata produk murah, melainkan produk yang mampu menjawab kebutuhan dan gaya hidup masyarakat. Produk makanan dan minuman siap saji dengan konsep lokal, sehat, dan praktis masih mendominasi. Kuliner berbasis kearifan lokal dengan kemasan modern, frozen food rumahan, kopi lokal dengan cerita asal-usul petani, hingga camilan khas daerah yang dipasarkan melalui media sosial, terus menunjukkan performa positif. Di sektor non-kuliner, produk fesyen sederhana namun fungsional, produk perawatan diri berbahan alami, serta kerajinan bernilai estetika tinggi juga masih menjadi primadona.
Media sosial dan platform digital menjadi etalase utama UMKM hari ini. TikTok, Instagram, dan marketplace bukan hanya tempat jualan, tetapi ruang membangun personal branding. Pelaku UMKM yang aktif tampil, bercerita tentang proses produksi, tantangan usaha, hingga nilai-nilai yang mereka pegang, terbukti lebih mudah mendapatkan kepercayaan konsumen. Dalam konteks ini, personal branding bukan soal pencitraan semu, tetapi tentang konsistensi antara produk, perilaku, dan pesan yang disampaikan.
Tekanan nilai tukar dolar juga secara tidak langsung mendorong UMKM untuk kembali melirik pasar domestik sebagai kekuatan utama. Ketika impor menjadi mahal, produk lokal justru memiliki peluang untuk menggantikan. Namun peluang ini hanya bisa dimanfaatkan jika UMKM mampu menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, dan kepercayaan pasar. Di sinilah peran kebijakan pemerintah menjadi krusial, mulai dari stabilisasi harga, insentif fiskal, perlindungan pasar domestik, hingga keberpihakan nyata dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Dinamika kebijakan politik dalam negeri turut memengaruhi iklim usaha UMKM. Tahun-tahun politik, perubahan regulasi, hingga arah kebijakan anggaran sering kali menimbulkan ketidakpastian di tingkat pelaku usaha kecil. UMKM membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji. Kepastian akses pembiayaan, kepastian perlindungan usaha, dan kepastian keberlanjutan program pendampingan menjadi faktor penting agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas.
Di tengah kondisi tersebut, adaptasi menjadi kata kunci. UMKM yang bertahan adalah mereka yang cepat membaca tren, berani berinovasi, dan tidak bergantung pada satu pasar saja. Diversifikasi produk, penyesuaian ukuran kemasan, kolaborasi antar pelaku UMKM, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi yang semakin relevan. Bahkan dalam kondisi rupiah tertekan, UMKM yang mampu menembus pasar ekspor niche justru mendapatkan keuntungan dari nilai tukar, asalkan didukung kesiapan kualitas dan legalitas produk.
Personal branding kembali menjadi pengikat dari seluruh strategi tersebut. Di era ketidakpastian global dan politik, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. UMKM yang memiliki wajah, suara, dan nilai yang jelas di mata konsumen, akan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Konsumen cenderung tetap membeli dari brand yang mereka percaya, meskipun harga sedikit naik, karena ada rasa keterikatan dan keyakinan terhadap kualitas.
Situasi hari ini mengajarkan bahwa UMKM tidak bisa lagi hanya mengandalkan strategi bertahan konvensional. Kenaikan dolar, fluktuasi ekonomi global, dan dinamika kebijakan politik harus dijawab dengan kecerdasan membaca pasar dan kekuatan membangun identitas usaha. UMKM Indonesia telah berkali-kali membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi krisis. Tantangannya kini bukan sekadar bertahan hidup, tetapi bagaimana menjadikan setiap krisis sebagai momentum untuk memperkuat posisi di pasar.
Ketika ekonomi global bergejolak dan arah politik terus bergerak, UMKM yang mampu menggabungkan kualitas produk, kepekaan terhadap tren, serta personal branding yang kuat, akan tetap berdiri tegak. Di tangan jutaan pelaku UMKM inilah, masa depan ekonomi Indonesia terus dipertaruhkan, sekaligus harapan untuk tumbuh lebih mandiri dan berdaulat.

















