kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Dari Indonesia Emas Menuju Indonesia Cemas: Analisis Krisis Multidimensi dan Tantangan Ketahanan UMKM

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
8 bulan yang lalu
Dari Indonesia Emas Menuju Indonesia Cemas: Analisis Krisis Multidimensi dan Tantangan Ketahanan UMKM
31
VIEWS

Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, MSE
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA

Lamongan, KabarOneNews.com-Wacana “Indonesia Emas” yang selama satu dekade terakhir digaungkan sebagai visi besar pembangunan nasional kini menghadapi ujian serius. Berbagai indikator ekonomi makro, dinamika politik, serta tekanan sosial-lingkungan menunjukkan bahwa Indonesia sedang memasuki fase risiko tinggi. Prediksi nilai tukar rupiah yang terus melemah bahkan berpotensi menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat bukan sekadar fenomena moneter, melainkan refleksi dari masalah struktural yang belum terselesaikan.

Berita‎ Terkait

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Dalam teori ekonomi makro, depresiasi nilai tukar yang berkelanjutan menunjukkan lemahnya fundamental ekonomi domestik, khususnya pada sektor produksi, neraca perdagangan, dan kepercayaan pasar. Ketika rupiah tertekan, biaya impor bahan baku meningkat, inflasi terdorong naik, dan daya beli masyarakat melemah. Dampak lanjutan yang paling signifikan adalah penurunan konsumsi rumah tangga komponen utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada saat yang sama, kapasitas fiskal negara semakin terbatas. APBN yang selama ini berperan sebagai instrumen stabilisasi melalui subsidi energi, pangan, dan bantuan sosial kini menghadapi tekanan berat. Beban utang yang meningkat, kebutuhan belanja wajib yang kaku, serta penerimaan negara yang tidak tumbuh sebanding membuat ruang fiskal semakin sempit. Dalam kondisi seperti ini, negara tidak lagi memiliki fleksibilitas untuk merespons guncangan ekonomi secara optimal.

Kondisi ekonomi tersebut diperburuk oleh ketidakpastian politik nasional. Ketegangan dan konflik naratif antara mantan Presiden Joko Widodo dan Presiden terpilih Prabowo Subianto terlepas dari motif dan kepentingan politik di baliknya menciptakan sinyal negatif bagi stabilitas kebijakan. Dalam perspektif ekonomi kelembagaan, stabilitas politik merupakan prasyarat utama bagi iklim investasi. Ketika elite politik tidak menunjukkan kesatuan arah, pelaku usaha cenderung menunda ekspansi, dan investor memilih sikap menunggu. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melambat sebelum krisis benar-benar terjadi.

Indonesia selama ini juga masih mengandalkan sumber daya alam sebagai penopang utama penerimaan negara. Namun ketergantungan berlebihan pada komoditas primer menjadikan ekonomi nasional sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Lebih jauh, eksploitasi sumber daya alam yang masif telah menimbulkan degradasi lingkungan dan polusi yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Angka harapan hidup yang stagnan di kisaran 64 tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, UMKM yang sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional berada pada posisi paling rentan. Secara empiris, UMKM sangat sensitif terhadap perubahan harga, suku bunga, dan daya beli. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi, sementara daya beli masyarakat yang menurun mempersempit pasar. Di sisi lain, liberalisasi perdagangan digital tanpa regulasi yang memadai membuka ruang bagi persaingan harga yang tidak seimbang, yang semakin menekan keberlangsungan UMKM domestik.

Realitas menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM saat ini tidak mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan dibandingkan satu dekade lalu. Banyak yang bertahan, tetapi tidak naik kelas. Dalam kondisi krisis multidimensi krisis moneter, fiskal, politik, dan lingkungan UMKM berisiko menjadi kelompok ekonomi yang paling terdampak dan paling lambat pulih.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka narasi “Indonesia Emas” berpotensi berubah menjadi “Indonesia Cemas”, yakni kondisi di mana pertumbuhan ekonomi kehilangan kualitas, ketimpangan meningkat, dan ketahanan ekonomi nasional melemah.

Oleh karena itu, dibutuhkan langkah kebijakan yang bersifat struktural dan jangka panjang. Pertama, Indonesia harus melakukan reorientasi strategi pembangunan ekonomi dari berbasis eksploitasi sumber daya alam menuju ekonomi berbasis nilai tambah, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia. Hilirisasi harus dipahami secara luas, tidak hanya untuk industri besar, tetapi juga sebagai mekanisme integrasi UMKM ke dalam rantai nilai nasional dan global.

Kedua, diperlukan reformasi kebijakan UMKM yang lebih substantif. Pendekatan bantuan jangka pendek harus digeser menuju penguatan produktivitas. Akses pembiayaan murah harus dibarengi dengan pendampingan manajerial, peningkatan teknologi produksi, serta perlindungan pasar domestik dari praktik perdagangan yang tidak adil. Tanpa perlindungan kebijakan yang rasional, UMKM akan terus kalah dalam kompetisi harga.

Ketiga, transformasi APBN menuju belanja produktif menjadi keharusan. Subsidi yang bersifat konsumtif perlu dievaluasi dan dialihkan secara bertahap menjadi investasi pada pendidikan vokasi, riset terapan, teknologi UMKM, serta energi dan pangan lokal. APBN tidak boleh hanya berfungsi sebagai alat distribusi, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan produktivitas nasional.

Keempat, stabilisasi politik dan konsistensi kebijakan harus menjadi prioritas bersama. Elite politik perlu menempatkan kepentingan ekonomi nasional di atas konflik jangka pendek. Tanpa stabilitas politik, seluruh strategi ekonomi akan kehilangan efektivitas.

Kelima, pembangunan ekonomi harus kembali pada esensi utamanya, yaitu pembangunan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Pertumbuhan yang mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat hanya akan menciptakan beban sosial di masa depan.

Indonesia masih memiliki peluang untuk keluar dari fase kecemasan ini. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika terdapat keberanian untuk melakukan koreksi kebijakan secara jujur dan konsisten. Tanpa perubahan mendasar, krisis bukan hanya akan menjadi episode sementara, melainkan kondisi struktural yang menghambat masa depan bangsa.

Indonesia dapat kembali menjadi emas. Tetapi emas tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kebijakan rasional, stabilitas politik, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat.

SendShareTweet

Related‎ Posts

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji
Opini

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Agustus 25, 2026
80
Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif
Opini

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Agustus 1, 2026
60
Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan
Opini

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Juli 22, 2026
16
KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN
Opini

KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN

Juni 29, 2026
21
Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
38
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
45
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
45
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
53
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
57
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
97

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

INKAI Kotabaru Gelar UKT Semester I 2026, Diikuti 57 Karateka

INKAI Kotabaru Gelar UKT Semester I 2026, Diikuti 57 Karateka

8 bulan yang lalu
28
Hari Kedua, KPK Periksa 7 Pejabat Pemkab Lamongan Terkait Dugaan Korupsi Proyek Gedung Rp151 M

Hari Kedua, KPK Periksa 7 Pejabat Pemkab Lamongan Terkait Dugaan Korupsi Proyek Gedung Rp151 M

1 tahun yang lalu
26
MTQ Ke-21 Tanah Bumbu Resmi Dibuka, Wakil Ketua DPRD Hadiri Pembukaan

MTQ Ke-21 Tanah Bumbu Resmi Dibuka, Wakil Ketua DPRD Hadiri Pembukaan

10 bulan yang lalu
44

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUGAAN PENYALAHGUNAAN DANA BUMDES KETAHAN PANGAN RP158 JUTA DI DESA KEBUNAGUNG Sapi Beli 5 Ekor Tinggal 1, Pembangunan Kandang Tak Terealisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JPU Tuntut 4 Tahun Penjara Pelaku Importasi HP Ilegal, Berpotensi Melarikan Diri Sebelum Vonis Dibacakan Hakim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Serbu Waduk Gondang! Vespa Party 2 Bagi 500 Pecel Lele Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakim PN Jakut Diduga Langgar Kode Etik Membiarkan Terdakwa Bebas Demi Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA