Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE
Dekan FEB UNISLA
Surakarta, Perubahan dunia kerja saat ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu. Teknologi, disrupsi ekonomi, pandemi, hingga dinamika global telah menciptakan realitas baru yang tidak selalu ramah bagi generasi muda, khususnya Generasi Z. Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul dua konsep penting yang saling berkelindan dan berdampak besar terhadap arah pilihan karier Gen Z, yakni kepemimpinan yang memberdayakan dan fenomena career shock. Keduanya tidak hanya membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja formal, tetapi juga secara signifikan memengaruhi minat mereka terhadap dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang adaptif terhadap teknologi, kritis terhadap sistem, dan memiliki keberanian untuk mempertanyakan makna kerja. Bagi mereka, pekerjaan bukan semata-mata soal gaji, melainkan ruang aktualisasi diri, kebebasan berekspresi, dan nilai kebermanfaatan. Namun, di sisi lain, Gen Z juga merupakan generasi yang paling sering berhadapan dengan career shock. Career shock dapat dimaknai sebagai peristiwa tak terduga yang mengubah arah, persepsi, dan keputusan karier seseorang. Pemutusan hubungan kerja, sulitnya memperoleh pekerjaan sesuai kompetensi, ketidakstabilan ekonomi, hingga ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja menjadi pengalaman yang kian jamak dirasakan.
Dalam konteks inilah kepemimpinan memberdayakan memiliki peran strategis. Kepemimpinan tidak lagi cukup hanya bersifat instruktif dan hierarkis. Generasi Z membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan ruang partisipasi, kepercayaan, serta dukungan untuk berkembang. Kepemimpinan yang memberdayakan menempatkan individu sebagai subjek, bukan sekadar objek kerja. Ketika pemimpin mampu mendengar, membimbing, dan memberi kepercayaan, maka individu akan merasa memiliki kontrol atas masa depannya, termasuk dalam menghadapi guncangan karier.
Sayangnya, tidak semua lingkungan kerja formal mampu menghadirkan model kepemimpinan semacam ini. Banyak organisasi masih terjebak dalam pola lama yang kaku, minim dialog, dan kurang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Akibatnya, career shock yang dialami Gen Z tidak direspons dengan pembinaan dan penguatan, melainkan justru memperparah rasa tidak aman dan ketidakpuasan kerja. Pada titik inilah UMKM mulai dilirik sebagai alternatif ruang berkarya.
UMKM menawarkan karakteristik yang berbeda dibandingkan dunia kerja korporasi besar. Fleksibilitas, kedekatan relasi, serta peluang untuk terlibat langsung dalam pengambilan keputusan menjadi daya tarik tersendiri. Bagi Gen Z yang mengalami career shock, UMKM dapat menjadi arena pemulihan sekaligus pembelajaran. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar memahami proses bisnis secara utuh, mulai dari produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan. Dalam banyak kasus, pengalaman ini justru melahirkan kepercayaan diri dan semangat kewirausahaan.
Namun, minat Gen Z terhadap UMKM tidak akan tumbuh optimal tanpa kehadiran kepemimpinan yang memberdayakan di dalamnya. UMKM sering kali diasosiasikan dengan keterbatasan modal, sistem yang belum tertata, serta ketergantungan pada figur pemilik usaha. Jika pola kepemimpinan yang diterapkan bersifat otoriter dan tertutup, maka UMKM berpotensi kehilangan generasi muda yang sebenarnya memiliki energi, kreativitas, dan inovasi tinggi. Sebaliknya, ketika pelaku UMKM mampu berperan sebagai pemimpin yang memberdayakan, UMKM dapat menjadi magnet bagi Gen Z.
Kepemimpinan memberdayakan di UMKM dapat diwujudkan melalui pemberian ruang inovasi, pelibatan generasi muda dalam pengambilan keputusan, serta penghargaan terhadap ide dan inisiatif. Gen Z ingin merasa dihargai, bukan sekadar diperintah. Mereka ingin melihat dampak nyata dari kontribusinya. Ketika hal ini terpenuhi, career shock yang semula menjadi pengalaman negatif justru dapat bertransformasi menjadi titik balik menuju karier yang lebih bermakna di sektor UMKM.
Dari perspektif pendidikan tinggi, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan pencari kerja, tetapi harus mampu menyiapkan generasi pencipta lapangan kerja. Kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, hingga pengabdian kepada masyarakat perlu diarahkan untuk menanamkan nilai kepemimpinan memberdayakan dan kesiapan menghadapi career shock. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan adaptasi, resiliensi, dan keberanian mengambil risiko secara terukur.
Generasi Z harus disadarkan bahwa career shock bukanlah akhir dari perjalanan karier, melainkan bagian dari proses pembentukan diri. Dengan kepemimpinan yang tepat, guncangan karier dapat menjadi momentum untuk menemukan potensi baru. UMKM, sebagai tulang punggung perekonomian nasional, memiliki peluang besar untuk menjadi ruang tumbuh generasi muda yang tangguh dan mandiri. Namun, hal ini hanya akan terwujud jika UMKM berani bertransformasi dalam pola kepemimpinan.
Ke depan, sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan pelaku UMKM menjadi kunci. Pemerintah dapat mendorong ekosistem UMKM yang ramah generasi muda melalui kebijakan pendampingan dan akses permodalan. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai inkubator kepemimpinan dan kewirausahaan. Sementara itu, pelaku UMKM perlu membuka diri terhadap gaya kepemimpinan baru yang lebih inklusif dan memberdayakan.
Pada akhirnya, arah minat Generasi Z terhadap UMKM sangat ditentukan oleh pengalaman kepemimpinan yang mereka rasakan dan cara mereka memaknai career shock. Jika kepemimpinan mampu hadir sebagai kekuatan yang membangkitkan, bukan menekan, maka UMKM tidak hanya menjadi pilihan alternatif, tetapi justru menjadi tujuan utama. Di sanalah Generasi Z dapat membangun karier yang tidak hanya stabil secara ekonomi, tetapi juga bermakna bagi diri dan masyarakat luas.

















