kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
12 detik yang lalu
Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?
1
VIEWS

Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE (Dekan FEB UNISLA)

Malang, KabarOne News.com-Wacana penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Merah Putih pada dasarnya lahir dari niat baik negara untuk menghadirkan keadilan ekonomi, memperpendek rantai distribusi, dan memperkuat posisi masyarakat kecil di tengah arus pasar yang kian liberal. Namun, di balik niat mulia tersebut, muncul satu pertanyaan krusial yang perlu dijawab secara jujur dan terbuka: apakah kehadiran Koperasi Merah Putih justru akan menjadi pesaing baru bagi warung-warung UMKM desa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat?

Berita‎ Terkait

Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)

UMKM Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026: Di Antara Harapan Musiman dan Tekanan Nyata Pasar

UMKM Jangan Tumbang di 2026: Spirit Satu Abad NU sebagai Solusi Bertahan di Pasar yang Tak Konsisten

Pertanyaan ini bukan sekadar kegelisahan teoritis, melainkan refleksi dari realitas di lapangan. Warung UMKM desa selama puluhan tahun telah menjadi denyut nadi ekonomi lokal. Mereka bukan hanya tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang sosial, penyangga ekonomi keluarga, dan simbol kemandirian rakyat kecil. Ketika sebuah koperasi yang didukung oleh kebijakan, modal besar, dan akses distribusi luas masuk ke desa dengan menjual produk yang sama sembako, gas, kebutuhan harian maka potensi gesekan ekonomi menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Secara ekonomi, persaingan antara koperasi dan warung UMKM akan timpang jika koperasi beroperasi layaknya ritel modern. Dengan kemampuan membeli dalam skala besar, koperasi dapat menawarkan harga lebih murah. Di satu sisi, ini menguntungkan konsumen. Namun di sisi lain, warung kecil yang beroperasi dengan modal terbatas dan margin tipis akan kesulitan bertahan. Jika kondisi ini dibiarkan, maka yang terjadi bukanlah penguatan ekonomi desa, melainkan pergeseran pasar dari pelaku kecil ke institusi yang lebih besar, meski berlabel koperasi.

Di sinilah letak persoalan utamanya. Masalahnya bukan pada nama “koperasi” atau pada produk yang dijual, melainkan pada desain kebijakan dan orientasi kelembagaannya. Koperasi sejatinya adalah alat kolektif, bukan pemain pasar yang berdiri berhadap-hadapan dengan anggotanya sendiri. Jika koperasi hadir sebagai pengecer yang bersaing langsung dengan warung desa, maka ia telah kehilangan ruh ekonomi kerakyatan. Koperasi semacam itu hanya akan menjadi “warung besar” yang dibungkus dengan legitimasi sosial.

Padahal, koperasi memiliki potensi jauh lebih strategis dan bermartabat. Koperasi bisa menjadi agregator, grosir bersama, dan penyangga UMKM desa. Dalam posisi ini, koperasi tidak menjual langsung ke konsumen akhir, tetapi memasok barang ke warung-warung anggota dengan harga lebih murah dan stabil. Dengan demikian, yang turun bukan omzet warung, melainkan biaya usaha mereka. Ini adalah perbedaan mendasar yang sering luput dalam perumusan kebijakan.

Jika Koperasi Merah Putih ditempatkan sebagai pusat logistik desa, penyedia akses pembiayaan mikro, serta penghubung UMKM dengan pasar yang lebih luas, maka keberadaannya justru akan memperkuat warung desa. Warung tidak lagi berjuang sendiri menghadapi fluktuasi harga, permainan distributor besar, dan tekanan produk luar. Mereka berdiri bersama dalam satu ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.

Lebih jauh, koperasi juga dapat berperan sebagai instrumen transformasi digital UMKM desa. Banyak warung kecil yang tertinggal bukan karena malas atau tidak mau berkembang, tetapi karena keterbatasan literasi digital, akses teknologi, dan skala usaha. Koperasi dapat menjadi pintu masuk digitalisasi, mulai dari pencatatan keuangan sederhana, sistem pemesanan kolektif, hingga integrasi dengan platform pemasaran lokal. Dalam konteks ini, koperasi bukan pesaing, melainkan fasilitator kemajuan.

Namun semua potensi itu akan gugur jika koperasi didesain secara top-down, berorientasi pada target omzet, dan diperlakukan sebagai proyek ekonomi semata. Koperasi bukan minimarket desa, dan desa bukan laboratorium eksperimen kebijakan. Ketika koperasi diberi karpet merah sementara UMKM dibiarkan berjuang sendiri, maka yang lahir adalah ketidakadilan baru atas nama pemerataan.

Kita perlu belajar dari banyak kegagalan kebijakan ekonomi rakyat di masa lalu, ketika program yang mengatasnamakan pemberdayaan justru berujung pada ketergantungan atau peminggiran pelaku kecil. Koperasi Merah Putih tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Keberhasilannya harus diukur bukan dari besarnya omzet koperasi, melainkan dari seberapa banyak UMKM desa yang naik kelas, bertahan, dan berkembang bersama.

Pada akhirnya, pertanyaan apakah Koperasi Merah Putih menjadi pesaing warung UMKM tidak bisa dijawab secara hitam-putih. Ia sangat bergantung pada keberpihakan kebijakan dan kesadaran kolektif para pengelolanya. Jika koperasi berdiri di atas, bersaing di pasar yang sama, maka ia akan menjadi ancaman. Namun jika koperasi berdiri di samping, menguatkan dan melindungi, maka ia akan menjadi solusi.

Ekonomi desa tidak membutuhkan pemain baru yang lebih kuat, tetapi sistem yang lebih adil. Koperasi Merah Putih harus ditempatkan sebagai alat negara untuk menurunkan biaya ekonomi rakyat, bukan sebagai instrumen persaingan yang mematikan. Jika ini yang dipilih, maka koperasi akan benar-benar menjadi simbol kedaulatan ekonomi desa, bukan sekadar nama yang indah tanpa makna substantif.

SendShareTweet

Related‎ Posts

Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)
Opini

Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)

Februari 10, 2026
11
UMKM Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026: Di Antara Harapan Musiman dan Tekanan Nyata Pasar
Opini

UMKM Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026: Di Antara Harapan Musiman dan Tekanan Nyata Pasar

Februari 8, 2026
11
UMKM Jangan Tumbang di 2026: Spirit Satu Abad NU sebagai Solusi Bertahan di Pasar yang Tak Konsisten
Opini

UMKM Jangan Tumbang di 2026: Spirit Satu Abad NU sebagai Solusi Bertahan di Pasar yang Tak Konsisten

Februari 8, 2026
21
Ketika Kepemimpinan Memberdayakan Bertemu Career Shock: Menakar Arah Baru Generasi Z ke Dunia UMKM
Opini

Ketika Kepemimpinan Memberdayakan Bertemu Career Shock: Menakar Arah Baru Generasi Z ke Dunia UMKM

Februari 6, 2026
16
Dari Indonesia Emas Menuju Indonesia Cemas: Analisis Krisis Multidimensi dan Tantangan Ketahanan UMKM
Opini

Dari Indonesia Emas Menuju Indonesia Cemas: Analisis Krisis Multidimensi dan Tantangan Ketahanan UMKM

Januari 29, 2026
9
UMKM Terjepit di Negeri Sendiri: Ketika Perdagangan Murah Asing Menggerus Keadilan Pasar
Opini

UMKM Terjepit di Negeri Sendiri: Ketika Perdagangan Murah Asing Menggerus Keadilan Pasar

Januari 29, 2026
14
UMKM di Tengah Guncangan Dolar tembus Rp.17.000,- dan Politik: Personal Branding Jadi Senjata Bertahan di Pasar yang Terus Berubah
Opini

UMKM di Tengah Guncangan Dolar tembus Rp.17.000,- dan Politik: Personal Branding Jadi Senjata Bertahan di Pasar yang Terus Berubah

Januari 23, 2026
34
UMKM di Tengah Guncangan Rupiah: Kolaborasi dengan AI sebagai Jalan Bertahan dan Naik Kelas
Opini

UMKM di Tengah Guncangan Rupiah: Kolaborasi dengan AI sebagai Jalan Bertahan dan Naik Kelas

Januari 22, 2026
29
UMKM di Persimpangan Zaman: Dari Bertahan Hidup Menuju Naik Kelas Berkelanjutan
Opini

UMKM di Persimpangan Zaman: Dari Bertahan Hidup Menuju Naik Kelas Berkelanjutan

Januari 17, 2026
13
UMKM Tidak Harus Viral: Kunci Bertahan Ada pada Repeat Order
Opini

UMKM Tidak Harus Viral: Kunci Bertahan Ada pada Repeat Order

Januari 16, 2026
56

Hari Besar Nasional:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Kelumpang Tengah Berlangsung Khidmat dan Meriah

Upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Kelumpang Tengah Berlangsung Khidmat dan Meriah

6 bulan yang lalu
48
Paradoks Pariwisata Indonesia: Saat Liburan ke Luar Negeri Terasa Lebih Masuk Akal daripada Menjelajah Negeri Sendiri

Paradoks Pariwisata Indonesia: Saat Liburan ke Luar Negeri Terasa Lebih Masuk Akal daripada Menjelajah Negeri Sendiri

1 bulan yang lalu
29
Berkat Dana Hibah Sebuku Coal Group, Pembangunan RSUD PJS Kembali Dilanjutkan

Berkat Dana Hibah Sebuku Coal Group, Pembangunan RSUD PJS Kembali Dilanjutkan

8 bulan yang lalu
53

Advertorial : Gempur Rokok Ilegal

Dirgahayu TNI ke 80:

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Deklarasi MIXI Chapter Jakarta Metropolis (MIXI JakPol)

    Deklarasi MIXI Chapter Jakarta Metropolis (MIXI JakPol)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PT. Sumber Daya Energi (SDE) Gelar Pengobatan dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelapkan Mobil Kredit ke Oknum Disersi, Debitur CSUL Finance Jalani Sidang di PN Balikpapan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sambut Ramadan, Masjid Baitussalam GBM Gelar Arwah Jamak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terdakwa Ditahan Melebihi Batas Waktu, Pengacara Protes Dan Melansir Melanggar HAM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA