Oleh: DR. H. Abid Muhtarom, SE., SPd., MSE
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA
Jakarta, KabarOne News.com-Indonesia menorehkan capaian yang membanggakan dalam Global Flourishing Study (GFS) 2024–2025. Dalam riset berskala global yang melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara di enam benua, Indonesia menempati peringkat pertama dunia dalam indeks flourishing dengan skor sekitar 8,47. Angka ini mengungguli berbagai negara maju, termasuk Amerika Serikat yang berada pada kisaran skor 7,18. Studi yang dipimpin oleh peneliti dari Harvard University, Baylor University, dan Gallup tersebut mengukur kesejahteraan secara holistik, tidak semata-mata berbasis pendapatan atau pertumbuhan ekonomi, melainkan pada kualitas hidup yang utuh: kesehatan mental dan fisik, makna hidup, karakter, relasi sosial, stabilitas finansial, dan kualitas kehidupan secara keseluruhan.
Capaian ini bukan sekadar kebanggaan simbolik, tetapi memiliki implikasi ekonomi yang sangat besar, terutama bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selama ini, UMKM dikenal sebagai tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja di Indonesia. Namun, keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh akses modal, teknologi, atau kebijakan fiskal, melainkan juga oleh kualitas sosial dan psikologis masyarakatnya. Di sinilah hasil Global Flourishing Study menjadi relevan dan strategis.
Flourishing, atau kehidupan yang berkembang secara utuh, menempatkan relasi sosial, rasa makna, dan nilai-nilai kebajikan sebagai fondasi kesejahteraan. Indonesia unggul dalam aspek hubungan sosial dan makna hidup. Budaya gotong royong, kekeluargaan, spiritualitas, dan solidaritas komunitas menjadi kekuatan yang mungkin tidak sepenuhnya terukur dalam indikator ekonomi konvensional, tetapi sangat terasa dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dalam konteks UMKM, kekuatan sosial ini adalah modal sosial (social capital) yang luar biasa.
UMKM di Indonesia tumbuh bukan hanya karena logika pasar, tetapi karena jejaring sosial. Banyak usaha kecil lahir dari komunitas, keluarga, pesantren, kelompok arisan, koperasi, dan lingkungan desa. Ketika masyarakat memiliki tingkat flourishing yang tinggi merasa hidupnya bermakna, merasa didukung secara sosial, dan memiliki optimisme terhadap masa depan maka keberanian untuk berwirausaha juga meningkat. Wirausaha sejatinya adalah ekspresi dari harapan dan kepercayaan diri. Tanpa rasa percaya diri kolektif, ekonomi rakyat sulit bergerak.
Menariknya, studi ini justru menunjukkan bahwa negara-negara dengan pendapatan per kapita tinggi tidak otomatis memiliki tingkat flourishing tertinggi. Amerika Serikat, misalnya, meskipun merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia, berada jauh di bawah Indonesia dalam indeks ini. Hal ini menegaskan bahwa kemakmuran materi tidak selalu identik dengan kesejahteraan batin dan kualitas relasi sosial. Bagi Indonesia, ini adalah pelajaran penting bahwa pembangunan ekonomi harus tetap berpijak pada nilai-nilai sosial dan spiritual yang menjadi jati diri bangsa.
Dalam praktik UMKM, flourishing tercermin dalam daya tahan usaha menghadapi krisis. Kita melihat saat pandemi COVID-19 melanda, banyak UMKM bertahan bukan hanya karena bantuan pemerintah, tetapi karena dukungan komunitas. Konsumen membeli dari tetangga sendiri, jaringan pertemanan saling mempromosikan produk lokal, dan solidaritas sosial menjadi penyangga ekonomi. Tingginya indeks flourishing Indonesia dapat menjelaskan mengapa resiliensi sosial kita relatif kuat.
Namun, capaian ini tidak boleh membuat kita lengah. Flourishing harus diterjemahkan menjadi produktivitas dan inovasi. Rasa bahagia dan makna hidup perlu dikonversi menjadi energi kreatif. UMKM yang hidup dalam ekosistem sosial yang sehat memiliki peluang besar untuk bertransformasi digital, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas akses pasar. Literasi digital, inovasi, dan adaptasi tetap menjadi kunci. Flourishing memberikan fondasi psikologis; strategi bisnis memberikan arah pertumbuhan.
Sebagai akademisi dan praktisi pendidikan ekonomi, saya melihat bahwa hasil GFS ini harus direspons dengan kebijakan yang memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis komunitas. Perguruan tinggi, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA, memiliki tanggung jawab untuk menjembatani modal sosial masyarakat dengan pengetahuan manajerial modern. Pendidikan kewirausahaan tidak cukup mengajarkan perhitungan laba-rugi, tetapi juga membangun karakter, integritas, empati, dan kepemimpinan sosial. Inilah dimensi flourishing yang sesungguhnya.
Data skor 8,47 yang diraih Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat kita memiliki persepsi positif terhadap kualitas hidupnya. Ini adalah modal optimisme nasional. Dalam teori pembangunan, optimisme kolektif berpengaruh terhadap tingkat investasi dan partisipasi ekonomi. Masyarakat yang percaya pada masa depan akan lebih berani mengambil risiko usaha, lebih terbuka terhadap inovasi, dan lebih resilien terhadap kegagalan. Sebaliknya, masyarakat yang kehilangan makna dan kepercayaan diri cenderung stagnan.
Kita juga perlu melihat bahwa flourishing tidak identik dengan ketiadaan masalah. Tantangan UMKM tetap nyata: akses pembiayaan yang belum merata, persaingan dengan produk impor, transformasi digital yang belum optimal, hingga ketimpangan infrastruktur antarwilayah. Namun, keunggulan sosial Indonesia memberi kita daya tahan dan fleksibilitas. Dalam banyak kasus, UMKM mampu beradaptasi dengan cepat karena kedekatan dengan pasar lokal dan pemahaman terhadap kebutuhan komunitasnya.
Ke depan, strategi pembangunan UMKM harus memadukan tiga hal: modal sosial yang kuat, peningkatan kapasitas manajerial, dan dukungan kebijakan yang inklusif. Pemerintah dapat menjadikan hasil Global Flourishing Study sebagai dasar penguatan ekonomi berbasis komunitas. Koperasi, BUMDes, dan UMKM desa dapat dikembangkan dengan pendekatan partisipatif, memanfaatkan jaringan sosial yang sudah ada. Digitalisasi pun perlu dirancang dengan pendekatan human-centered, bukan sekadar teknologi, tetapi berbasis pada relasi dan kebutuhan riil pelaku usaha.
Sebagai bangsa, kita patut bersyukur atas capaian ini. Namun rasa syukur harus diikuti dengan kerja keras dan visi jangka panjang. Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bahwa kesejahteraan sejati tidak semata diukur dari kekayaan materi, tetapi dari kualitas relasi dan makna hidup. Jika kekuatan flourishing ini disinergikan dengan penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, maka Indonesia tidak hanya unggul dalam indeks kebahagiaan holistik, tetapi juga dalam daya saing ekonomi global.
Momentum ini adalah panggilan bagi kita semua akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk membangun ekonomi yang tidak kehilangan nurani. UMKM Indonesia harus tumbuh bukan hanya besar secara omzet, tetapi juga kuat secara nilai. Ketika kesejahteraan batin bertemu dengan inovasi dan produktivitas, di situlah Indonesia benar-benar akan menjadi bangsa yang bukan hanya berkembang, tetapi juga benar-benar flourishing.


















