Surabaya, KabarOneNews.com-Suasana hangat, santai, dan penuh keakraban mewarnai pertemuan kolaboratif Tridarma Perguruan Tinggi yang sekaligus menjadi ruang belajar bersama mengenai manajemen sumber daya manusia dan pengembangan karier dosen bersama Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D., Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi strategis tentang masa depan dosen, penguatan budaya akademik, serta pengelolaan karier yang berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam pertemuan tersebut hadir Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISLA, Dr. Abid Muhtarom, S.E., S.Pd., M.SE., yang secara aktif berdialog dan berbagi pandangan tentang pentingnya sinergi lintas fakultas dan lintas disiplin dalam menguatkan pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Hadir pula Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI), Dr. Hayyan Ahmad Ulul Albab, S.Pd.I., M.Pd.I., Dosen PIAUD Mohammad Luthfillah, S.Psi., M.Psi., serta Dosen PGMI Ahmad Faidullah Akbar, S.Pd., M.Pd., yang turut memperkaya diskusi dengan perspektif keilmuan dan pengalaman masing-masing.
Pertemuan yang dikemas dalam format ngobrol santai dan bersahabat ini justru menghadirkan diskusi yang substantif dan mendalam. Prof. Masdar Hilmy, dengan gaya komunikasinya yang cair namun tajam, menekankan bahwa pengembangan karier dosen tidak dapat dilepaskan dari pemahaman utuh tentang manajemen sumber daya manusia di perguruan tinggi. Menurutnya, dosen bukan hanya aktor pengajar di ruang kelas, tetapi juga peneliti, pengabdi masyarakat, dan pemimpin intelektual yang memiliki peran strategis dalam membentuk arah dan reputasi institusi.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Masdar Hilmy menyoroti pentingnya perencanaan karier dosen sejak dini, mulai dari penataan beban kerja, penguatan kapasitas riset, publikasi ilmiah, hingga kepemimpinan akademik. Ia menegaskan bahwa institusi perlu hadir sebagai fasilitator yang adil dan visioner, menyediakan ekosistem yang memungkinkan dosen berkembang secara profesional tanpa kehilangan idealisme dan integritas akademik. Pengelolaan SDM dosen, menurutnya, harus berbasis merit, kinerja, dan keberlanjutan, bukan sekadar administratif.
Dekan FEB UNISLA, Dr. Abid Muhtarom, dalam suasana dialog yang terbuka, menyampaikan bahwa kolaborasi Tridarma menjadi kunci dalam menjawab tantangan perguruan tinggi di era kompetisi global. Ia menekankan bahwa penguatan kapasitas dosen harus berjalan seiring dengan penguatan institusi. Dalam pandangannya, dosen yang memiliki arah karier yang jelas dan didukung oleh manajemen yang sehat akan mampu menghasilkan karya akademik yang berdampak, baik bagi mahasiswa, masyarakat, maupun institusi.
Dr. Abid Muhtarom juga menambahkan bahwa pertemuan semacam ini menjadi ruang belajar yang sangat penting, karena menghadirkan praktik baik dan perspektif strategis dari perguruan tinggi lain yang telah lebih dahulu membangun sistem pengelolaan pascasarjana dan karier dosen secara terstruktur. Ia berharap dialog santai namun bermakna ini dapat ditindaklanjuti dengan kerja sama konkret dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Kaprodi Magister PAI, Dr. Hayyan Ahmad Ulul Albab, menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai keislaman, profesionalisme, dan pengembangan karier dosen. Ia menyampaikan bahwa penguatan Tridarma di lingkungan program studi tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada budaya akademik yang mendorong kolaborasi, keterbukaan, dan semangat belajar sepanjang hayat. Diskusi bersama Prof. Masdar Hilmy, menurutnya, memberikan inspirasi baru tentang bagaimana membangun roadmap karier dosen yang realistis namun progresif.
Kontribusi pemikiran juga datang dari Mohammad Luthfillah, S.Psi., M.Psi., Dosen PIAUD, yang melihat pengembangan karier dosen dari perspektif psikologi dan kesejahteraan kerja. Ia menekankan bahwa manajemen SDM dosen perlu memperhatikan aspek motivasi, kepuasan kerja, dan keseimbangan antara tuntutan profesional dan kehidupan personal. Dalam suasana ngobrol santai, gagasan-gagasan ini mengalir secara natural dan diterima sebagai bagian penting dari pengembangan institusi yang humanis.
Ahmad Faidullah Akbar, S.Pd., M.Pd., Dosen PGMI, menambahkan bahwa dosen di era saat ini dituntut untuk adaptif dan kolaboratif. Menurutnya, pertemuan ini membuka wawasan tentang pentingnya jejaring akademik dan kolaborasi lintas institusi sebagai strategi pengembangan karier dan peningkatan kualitas Tridarma. Ia menilai bahwa pendekatan santai dan bersahabat justru membuat diskusi lebih jujur, reflektif, dan aplikatif.
Sepanjang pertemuan, diskusi mengalir tanpa sekat formalitas yang kaku. Canda ringan, pengalaman personal, dan refleksi kritis berpadu dalam satu ruang dialog yang egaliter. Namun di balik suasana santai tersebut, tersimpan keseriusan untuk membangun masa depan perguruan tinggi yang lebih kuat, adaptif, dan berdaya saing. Prof. Masdar Hilmy menegaskan bahwa perguruan tinggi yang unggul lahir dari dosen-dosen yang dikelola dengan baik, dihargai kontribusinya, dan didukung pengembangan kariernya secara berkelanjutan.
Pertemuan kolaboratif ini menjadi bukti bahwa penguatan Tridarma Perguruan Tinggi tidak selalu harus dilakukan dalam forum resmi yang kaku. Melalui ngobrol santai dan bersahabat, gagasan-gagasan besar tentang manajemen sumber daya manusia, pengembangan karier dosen, dan kolaborasi akademik justru dapat tumbuh secara organik dan bermakna. Diharapkan, pertemuan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan, serta menjadi inspirasi bagi dosen dan pimpinan perguruan tinggi untuk terus belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.



















