DONGGALA – kabaronenews.com – Deru mesin kendaraan memecah keheningan pagi di pusat Kota Palu.
Tepat pukul 09.00 WITA, (11/4/2026). Sebuah rombongan pembawa risalah cinta berangkat membawa misi suci.
Bukan sekadar perjalanan biasa, ini adalah safari dakwah bertajuk Halal Bihalal yang dipimpin langsung oleh Sang Penyejuk Umat, Habib Muhammad Sholeh Al Aydrus, pendiri sekaligus pimpinan Majelis Dzikir Nuurul Khairaat.
Sekitar 100 jemaah setia mendampingi langkah sang Habib, bergerak menuju sebuah titik di peta yang nyaris terlupakan: Dusun 3 Tambaga, Desa Lumbu Lama, Kecamatan Banawa Selatan.
Sebuah wilayah yang masih menyandang kasta “3T” (Terdepan, Terluar, Tertinggal), di mana aspal adalah kemewahan dan debu adalah kawan perjalanan.
Menaklukkan Medan demi Ukhuwah
Perjalanan selama tiga jam itu menjadi saksi bisu perjuangan.
Medan yang berat, jalanan yang mendaki terjal, serta Lumpur dan lubang-lubang dalam yang merusak jalan, berkali-kali menahan laju kendaraan.
Namun, lelah fisik itu sirna seketika saat rombongan tiba di ambang Dusun Tambaga.
Tangis haru dan senyum tulus warga binaan Majelis Nuurul Khairaat menyambut kehadiran sosok yang mereka rindukan.
Tanpa menunda waktu, sujud syukur dilakukan dalam Shalat Dzuhur berjamaah. Suasana kian syahdu saat lantunan Maulid ad-Diba’i, dzikir, dan doa yang dipimpin langsung oleh Habib Sholeh menggema, menggetarkan langit Tambaga dan menyirami hati para mualaf dengan ketenangan batin.
Simbol Persatuan di “Bantaya”
Langkah dakwah berlanjut ke Bantaya, balai pertemuan masyarakat. Di sana, sekitar 200 warga dari berbagai dusun telah berkumpul.
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Kepala Desa Lumbu Lama, Forkopimda desa, hingga Majelis Adat Belota Malino dan Belota Pura, menambah kekhidmatan acara.
Kepala Desa Lumbu Lama, Beni, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran Majelis Nuurul Khairaat adalah perekat ukhuwah yang nyata.
“Ini bukan sekadar silaturahmi, tapi ajang mempererat persaudaraan antara umat Islam dan Kristen di desa kami,” ujarnya penuh takzim.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bukti cinta tanah air, disusul dengan senandung Qasidah “Allahul Kaafi” yang mengingatkan semua yang hadir bahwa hanya Allah-lah sebaik-baik pencukup kebutuhan hamba-Nya.
Jeritan dari Wilayah Terpencil
Kepala Dusun 3 Tambaga, Yence, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Namun, di balik rasa syukur itu, terselip sebuah asa.
Mengingat Tambaga adalah wilayah mualaf yang dibina sejak peletakan batu pertama Masjid Soupaguru pada 8 Januari 2018, ia menitipkan pesan mendalam bagi Pemerintah Provinsi.
“Kami memohon perhatian Bapak Gubernur Sulawesi Tengah. Infrastruktur jalan kami masih memprihatinkan. Kami rindu akses yang layak agar dakwah dan ekonomi kami tidak terisolasi,” ungkap Yence penuh harap.
Pesan Sang Habib: Jaga Akidah, Jaga Keluarga
Di penghujung acara, Habib Muhammad Sholeh Al Aydrus memberikan tausiyah yang menghujam jantung jamaah.
Beliau menekankan pentingnya menjaga kokohnya akidah di tengah tantangan zaman, sembari tetap menjunjung tinggi rasa hormat (tasamuh) terhadap sesama pemeluk agama lain.
Beliau juga memberikan peringatan keras terhadap bahaya narkoba yang dapat menghancurkan generasi.
“Jaga keluarga kalian, jaga akidah kalian. Di tanah ini, kita berdiri sebagai saudara dalam kemanusiaan dan ketaatan kepada Sang Pencipta,” pesan beliau menutup pertemuan yang penuh barakah tersebut.
Perjalanan pulang mungkin tetap terjal, namun cahaya iman yang ditinggalkan di Dusun Tambaga akan terus menyala, menjadi bukti bahwa dakwah tak akan pernah berhenti meski harus menembus gunung dan lembah.
NK



















