No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
Home Opini

Likuiditas Deras dan Jalan Sunyi UMKM: Menata Kolam Ikan Ekonomi Indonesia

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
6 bulan yang lalu
Likuiditas Deras dan Jalan Sunyi UMKM: Menata Kolam Ikan Ekonomi Indonesia
30
VIEWS

Oleh Dr. Abid Muhtarom, SE., MSE.(Dekan FEB UNISLA)

Lamongan, KabarOne News.com-Kebijakan likuiditas yang digagas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan mengalirkan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun ke bank-bank Himbara merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi karena bertujuan untuk menurunkan biaya dana perbankan, memperkuat kredit produktif, serta mendorong aktivitas sektor riil agar bergerak lebih cepat. Analogi yang digunakan cukup sederhana sekaligus filosofis: likuiditas diibaratkan sebagai air dalam kolam ikan, yang jika mengalir deras akan membuat ikan-ikan di dalamnya hidup sehat dan berkembang.

Berita‎ Terkait

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Namun, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah konsepnya karena air yang melimpah di hulu tidak selalu sampai ke hilir, begitu pula dengan kebijakan likuiditas yang berpotensi berhenti pada neraca bank tanpa benar-benar menjangkau pelaku usaha kecil. Pertanyaan mendasar pun muncul, apakah Rp200 triliun dana segar ini benar-benar akan mampu menyentuh sektor riil yang paling banyak menopang ekonomi nasional, yaitu UMKM, atau justru hanya menguntungkan korporasi besar yang lebih bankable?

UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia karena berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024, jumlah UMKM telah mencapai 65,1 juta unit usaha, menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Angka ini jelas menunjukkan bahwa denyut nadi ekonomi Indonesia berada pada usaha-usaha kecil yang tersebar hingga pelosok desa, mulai dari warung makan, bengkel motor, pengrajin, hingga pelaku usaha digital. Namun, ironisnya, meskipun memiliki peran dominan, akses UMKM terhadap pembiayaan formal masih sangat rendah karena rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan baru berkisar 20 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Tiongkok yang mencapai lebih dari 40 persen atau Jepang yang lebih dari 50 persen.

Keterbatasan jaminan, kurangnya dokumen legal formal, dan stigma sebagai usaha berisiko tinggi membuat UMKM selalu menjadi pihak yang paling sulit mendapatkan kucuran kredit murah dari bank. Akibatnya, UMKM sering terjebak dalam jalan sunyi: diandalkan untuk menopang ekonomi rakyat dan penyerapan tenaga kerja, tetapi jarang memperoleh akses nyata terhadap kebijakan likuiditas. Jika kondisi ini dibiarkan, maka likuiditas Rp200 triliun yang digelontorkan pemerintah akan berakhir sebagai kolam luas tanpa arus, air memang ada tetapi tidak menghidupkan ekosistem.

Untuk itu, keberhasilan kebijakan ini tidak boleh hanya diukur dari seberapa besar dana ditempatkan di bank, melainkan dari seberapa jauh dampaknya terhadap kehidupan nyata masyarakat, khususnya UMKM. Oleh karena itu, jalur khusus harus disediakan agar likuiditas benar-benar mengalir ke sektor produktif UMKM. Salah satu mekanisme yang bisa ditempuh adalah melalui program kredit berbunga rendah yang sebagian risikonya dijamin oleh pemerintah melalui lembaga penjaminan, sehingga bank lebih berani menyalurkan dana tanpa terlalu khawatir pada risiko kredit macet.

Program tersebut harus diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memiliki efek ganda terhadap perekonomian seperti pertanian yang menyerap tenaga kerja desa, industri makanan-minuman yang menopang konsumsi rumah tangga, kerajinan yang berbasis budaya lokal, hingga UMKM digital yang semakin berkembang pasca pandemi. Dengan cara ini, dana segar tidak sekadar memperbesar cadangan bank, tetapi benar-benar menggerakkan ekonomi rakyat dari akar rumput.

Namun, kebijakan likuiditas tidak akan efektif tanpa koordinasi lintas otoritas. Kementerian Keuangan perlu menyiapkan insentif fiskal seperti subsidi bunga dan keringanan pajak, Bank Indonesia harus memperluas instrumen *credit guarantee* serta memperkuat pembiayaan inklusif, sementara OJK memiliki peran vital dalam mengawasi agar penyaluran dana benar-benar tepat sasaran. Kolaborasi ini mutlak diperlukan agar kebijakan tidak terjebak dalam tumpang tindih administratif atau kehilangan arah karena lemahnya pengawasan.

Selain itu, aspek permintaan agregat juga tidak boleh diabaikan. Likuiditas hanya akan menjadi angka di atas kertas jika masyarakat tidak memiliki daya beli atau pelaku usaha kehilangan kepercayaan untuk memperluas usaha. Maka dari itu, kebijakan ini harus diiringi stimulus riil seperti pembangunan rumah rakyat, program koperasi desa, bantuan sosial produktif, hingga program Makan Bergizi Gratis yang mendorong konsumsi langsung. Dengan kombinasi seperti ini, arus dana akan bertemu dengan kebutuhan riil masyarakat, sehingga tercipta efek pengganda yang memperkuat daya beli, menciptakan lapangan kerja, dan menghidupkan sektor riil.

Kita juga perlu mewaspadai risiko yang mungkin muncul, mulai dari kemungkinan kredit bermasalah jika penyaluran tidak diiringi pendampingan usaha, hingga risiko stagnasi likuiditas jika bank terlalu berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Lebih dari itu, ada potensi moral hazard jika dana justru dialihkan ke instrumen spekulatif yang tidak berdampak langsung pada produktivitas. Oleh sebab itu, indikator keberhasilan harus dirumuskan secara jelas, misalnya berapa persen dana benar-benar disalurkan ke UMKM, sejauh mana kontribusinya terhadap PDB, serta berapa banyak tenaga kerja baru yang tercipta. Dengan indikator yang terukur, evaluasi bisa dilakukan secara objektif, sehingga kebijakan dapat disesuaikan bila tidak sesuai target.

Kebaruan yang harus ditegaskan dalam konteks kebijakan ini adalah menempatkan UMKM sebagai pusat gravitasi, bukan sekadar pelengkap. Selama ini, UMKM sering hanya diposisikan sebagai objek kebijakan tanpa benar-benar menjadi prioritas utama, padahal justru mereka yang menopang stabilitas ekonomi nasional dalam situasi krisis. Jika kebijakan likuiditas Rp200 triliun ini berhasil diarahkan kepada UMKM, maka kita bukan hanya menjaga kestabilan ekonomi, tetapi juga membangun fondasi pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak ditopang oleh segelintir korporasi besar, melainkan oleh jutaan UMKM yang tersebar di setiap sudut negeri. Di pasar tradisional, di warung makan sederhana, di bengkel kecil, hingga di lapak digital, mereka terus bergerak menjaga konsumsi dan membuka lapangan kerja. Oleh karena itu, likuiditas deras yang digagas pemerintah hanya akan bermakna jika mampu memberi ruang bernapas bagi UMKM untuk bertahan, berkembang, dan naik kelas.

Jika itu yang terjadi, maka kolam ikan ekonomi Indonesia akan benar-benar hidup. Air yang deras tidak hanya menyehatkan ikan besar, tetapi juga memastikan ikan-ikan kecil tetap tumbuh kuat. Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan likuiditas tidak diukur dari besarnya dana yang dipindahkan ke bank, melainkan dari seberapa nyata manfaatnya dirasakan rakyat kecil yang menjadi fondasi ekonomi bangsa. Dengan cara itu, kebijakan ini tidak berhenti sebagai wacana teknokratis, tetapi menjadi energi nyata bagi transformasi ekonomi rakyat.

SendShareTweet

Related‎ Posts

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
16
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
19
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
18
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
38
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
25
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
76
“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”
Opini

“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”

Februari 15, 2026
44
Indonesia Nomor Satu Dunia dalam Global Flourishing Study: Energi Sosial bagi Kebangkitan UMKM
Opini

Indonesia Nomor Satu Dunia dalam Global Flourishing Study: Energi Sosial bagi Kebangkitan UMKM

Februari 11, 2026
16
Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?
Opini

Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?

Februari 10, 2026
24
Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)
Opini

Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)

Februari 10, 2026
21

Hari Besar Nasional:

Ramadhan 2026 :

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Bupati Bojonegoro Ajukan Raperda Dana Abadi Pendidikan Rp3 Triliun

Bupati Bojonegoro Ajukan Raperda Dana Abadi Pendidikan Rp3 Triliun

12 bulan yang lalu
13
DWP Kotabaru Gelar Penyuluhan “Ayo Makan Ikan” untuk Kesehatan Keluarga dan Kecerdasan Anak

DWP Kotabaru Gelar Penyuluhan “Ayo Makan Ikan” untuk Kesehatan Keluarga dan Kecerdasan Anak

9 bulan yang lalu
5
Dandim 0812 Lamongan Bersama Bang Takir FC Jalin Silaturahmi dengan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) Melalui Laga Sepakbola

Dandim 0812 Lamongan Bersama Bang Takir FC Jalin Silaturahmi dengan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) Melalui Laga Sepakbola

7 bulan yang lalu
11

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Merajut Ukhuwah dalam Balutan Budaya: Ratusan Paket Takjil Warnai Langit Ramadan di Monpera Balikpapan

    Merajut Ukhuwah dalam Balutan Budaya: Ratusan Paket Takjil Warnai Langit Ramadan di Monpera Balikpapan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakim Bebaskan Terdakwa, Tak Terbukti Melakukan Penyerobotan Tanah Milik Orang Lain

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Insan Dangdut Tanah Bumbu- Kotabaru Gelar Buka Puasa Bersama di Pantai Pagatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Warga Luruk Balai Desa Waru wetan Lamongan, Minta Kades Dan Oknum Perangkat Desa Dipecat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengukir Takwa di Atas Aspal: Aksi Kolosal Persinas ASAD Balikpapan Tebbar 500 Paket Kebaikan di Bulan Suci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA