kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home News Daerah

Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
3 bulan yang lalu
Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu
99
VIEWS

PALU – kabaronenews.com – Di sebuah sudut sunyi Perumahan Puskud, Kelurahan Palupi, sebuah rumah berdiri bukan sekadar sebagai perlindungan dari hujan dan panas.IMG 20260416 WA0007

Ia adalah sebuah laboratorium kegelisahan—sebuah kawah candradimuka bagi gagasan yang mendidih.

Berita‎ Terkait

Merawat Memori Banua, Dispersip Kotabaru Ajak Masyarakat Selamatkan Naskah Kuno sebagai Warisan Sejarah

Pemkab Kotabaru dan Kodim 1004 Resmi Buka TMMD Ke-129

Rapat Paripurna DPRD Bahas Perubahan Kedua Perda Pajak dan Retribusi Daerah

Di sinilah Endeng Mursalin, pria yang akrab disapa Aba, menghabiskan nafasnya bukan untuk memoles warna yang sekadar cantik, melainkan untuk “menjahit” kembali robekan sosial Kota Palu yang bernanah, yang selama ini luput dari sapuan pandangan mata publik.

Aba bukanlah pelukis dekoratif untuk pemanis ruang tamu.

Ia adalah seorang penyair visual yang menggunakan anatomi tubuhnya sebagai pena dan kanvasnya sebagai palagan perang.

Dengan aliran ekspresionisme yang meledak-ledak, setiap goresannya bukanlah sekadar warna, melainkan jeritan yang dibekukan dalam pigmen.

Kanvas yang Berdarah: Tekstur Protes yang Nyata

Bagi Aba, estetika tanpa kritik adalah kemunafikan artistik. Karya-karyanya adalah distorsi kenyataan yang jujur—mentah, kasar, dan sering kali menyakitkan untuk ditatap.

Ia menolak mengagungkan kemolekan Teluk Palu yang artifisial; ia justru memilih menguliti rintihan pesisir yang sekarat akibat eksploitasi dan kebijakan yang mencekik nadi rakyat jelata.

Karyanya yang bertajuk “Kudeta”—yang sempat menggetarkan dinding Galeri Nasional Indonesia pada 2013—adalah sebuah monumen peringatan.

Lukisan itu bukan sekadar komposisi warna, melainkan tamparan kinetik terhadap kebijakan impor yang membunuh perlahan para petani lokal.

Di tangan Aba, seni adalah sebuah “alarm darurat” yang harus segera dipadamkan dengan api kesadaran.

Tubuh sebagai Manifesto: Teatrikalitas “Sang Liyan”

Aba adalah seniman yang meruntuhkan sekat-sekat galeri yang angkuh dan steril.

Ia memilih debu jalanan dan amis pasar sebagai panggungnya.

Dengan tubuh bertelanjang dada dan lilitan sarung putih—metafora kesucian yang ringkih di tengah polusi kekuasaan—ia turun ke Pasar Inpres Manonda hingga pelataran Bank Indonesia.

Di sana, ia melakoni peran sebagai “orang gila”. Sebuah simbol ekspresionis yang getir: bahwa di dalam tatanan dunia yang telah kehilangan kewarasannya akibat ketidakadilan, hanya mereka yang “gila”-lah yang sanggup meneriakkan kebenaran tanpa filter, tanpa rasa takut, dan tanpa topeng.

“Lelah Otak”: Menolak Amnesia Kolektif
Tragedi 2018—saat tanah berguncang, air menyerbu, dan bumi menelan apa saja—bukan sekadar catatan kelam bagi Aba, melainkan luka terbuka yang terus mengucurkan trauma.

Melalui aksi “Lelah Otak” (2020), ia memprotes lambatnya pemulihan jiwa raga kota ini. Ia adalah musuh utama dari amnesia kolektif.

Di atas puing-puing sisa likuifaksi, Aba berdiri tegak, memaksa penguasa dan publik untuk tidak memalingkan muka dari janji-janji yang mulai memudar seperti cat murah di bawah terik matahari.

RoaKids: Menyemai Pigmen Harapan
Namun, di balik gertakan kuasnya yang liar dan penuh amarah, Aba menyimpan samudera kasih bagi masa depan.

Melalui “RoaKids” (Roa: Sahabat), ia menyemai bibit-bibit baru di atas tanah yang pernah retak.

Di sini, anak-anak Palu tidak sekadar diajarkan teknik memegang kuas, tetapi diajak untuk mengasah “mata batin” yang peka.

Aba sedang memastikan bahwa kelak, Sulawesi Tengah tidak akan kekurangan suara-suara merdeka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Dialog Eksklusif: Estetika Luka dan Investasi Nurani

Wartawan (W): Aba, karya Anda terasa “berisik”, penuh tabrakan warna yang kasar, dan tidak nyaman dipandang. Mengapa Anda sengaja membiarkan ekspresionisme Anda begitu liar?

Aba (A): (Tersenyum getir, menatap tangannya yang terkena noda cat) Karena kenyataan kita memang sedang tidak cantik. Seni itu bukan bedak kosmetik untuk mendandani kebusukan. Bagi saya, ekspresionisme adalah kejujuran tanpa filter. Saat saya menggoreskan warna yang bertabrakan dan garis yang cacat, saya sedang memindahkan rintihan nelayan Teluk Palu atau jeritan petani yang tercekik impor ke atas kanvas. Kalau Anda merasa tidak nyaman melihat lukisan saya, artinya nurani Anda masih berfungsi. Seni perlawanan itu tugasnya satu: mengusik kenyamanan mereka yang tertidur lelap di atas penderitaan orang lain.

W: Artinya, kanvas bagi Anda bukan bidang datar, melainkan medan tempur?

A: Benar. Kanvas itu ruang kedaulatan terakhir yang saya miliki. Di sana, saya tidak bisa dibungkam oleh birokrasi. Tubuh saya saat menari di jalanan adalah manifesto bahwa manusia tidak boleh tunduk pada sistem yang mendehumanisasi. Setiap tetesan cat adalah peluru ideologi. Saya melukis bukan untuk mengisi dinding yang kosong, tapi untuk mengisi kekosongan jiwa bangsa ini yang mulai pikun terhadap keadilan.

W: Tentang RoaKids. Mengapa Anda menyebutnya “Investasi Nurani”?

A: RoaKids bukan tempat kursus menggambar agar anak bisa juara lomba dan membawa pulang piala plastik. Ini adalah bank nurani. Di tanah yang sering retak oleh bencana ini, yang paling pertama hancur biasanya adalah harapan. Saya investasi di situ agar 20 tahun lagi, Sulawesi Tengah punya pemimpin, pengusaha, atau guru yang punya “rasa”. Kalau mereka sejak kecil sudah berani mengekspresikan “kejujuran” di atas kertas, mereka tidak akan mudah disuap oleh kebohongan saat dewasa nanti.

W: Bagaimana cara Anda menanamkan benih perlawanan pada anak-anak tanpa merusak dunia bermain mereka?

A: Perlawanan bagi anak-anak itu sederhana: berani menjadi diri sendiri. Saya tidak mendikte mereka menggambar sawah dengan dua gunung yang monoton seperti pola pikir seragam zaman dulu. Saya biarkan mereka menggambar apa yang mereka rasakan saat bumi bergoyang, atau apa yang mereka lihat di pasar yang kumuh. Saya mengajar mereka untuk kritis terhadap warna. RoaKids adalah ruang merdeka. Mengajarkan mereka mencintai lingkungan dan sesama manusia adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap sifat rakus dan individualis.

W: Apa harapan terbesar Anda untuk masa depan Palu?

A: Saya ingin ketika nafas saya sudah tidak ada, teriakan saya tidak ikut padam. Saya ingin lahir “Endeng-Endeng” baru yang tidak takut lapar demi mempertahankan prinsip. Melalui anak-anak ini, saya sedang membangun benteng kebudayaan. Tanah boleh retak, gedung boleh rubuh, tapi nurani anak-anak Sulawesi Tengah harus tetap tegak. Itulah karya seni saya yang paling abadi.

NK

SendShareTweet

Related‎ Posts

Merawat Memori Banua, Dispersip Kotabaru Ajak Masyarakat Selamatkan Naskah Kuno sebagai Warisan Sejarah
Daerah

Merawat Memori Banua, Dispersip Kotabaru Ajak Masyarakat Selamatkan Naskah Kuno sebagai Warisan Sejarah

Juli 22, 2026
6
Pemkab Kotabaru dan Kodim 1004 Resmi Buka TMMD Ke-129
Daerah

Pemkab Kotabaru dan Kodim 1004 Resmi Buka TMMD Ke-129

Juli 21, 2026
10
Rapat Paripurna DPRD Bahas Perubahan Kedua Perda Pajak dan Retribusi Daerah
Daerah

Rapat Paripurna DPRD Bahas Perubahan Kedua Perda Pajak dan Retribusi Daerah

Juli 20, 2026
9
Reses Ketua DPRD, Warga Desa Barokah Sampaikan Beragam Usulan
Daerah

Reses Ketua DPRD, Warga Desa Barokah Sampaikan Beragam Usulan

Juli 20, 2026
7
Wakil Bupati Kotabaru Lantik 20 Pejabat Administrator dan Pengawas, Perkuat Kinerja Birokrasi
Daerah

Wakil Bupati Kotabaru Lantik 20 Pejabat Administrator dan Pengawas, Perkuat Kinerja Birokrasi

Juli 19, 2026
7
Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan Dorong UMKM Ciptakan Produk Inovatif Bernilai Jual Tinggi
Daerah

Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan Dorong UMKM Ciptakan Produk Inovatif Bernilai Jual Tinggi

Juli 18, 2026
7
Reses DPRD Tanah Bumbu, H. Hasanuddin Siap Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pakkattelu
Daerah

Reses DPRD Tanah Bumbu, H. Hasanuddin Siap Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pakkattelu

Juli 18, 2026
13
Saijaan League Futsal Competition Kotabaru Hebat 2026 Resmi Dibuka
Daerah

Saijaan League Futsal Competition Kotabaru Hebat 2026 Resmi Dibuka

Juli 18, 2026
7
Saijaan League Futsal Competition Kotabaru Hebat 2026 Resmi Dibuka
Daerah

Saijaan League Futsal Competition Kotabaru Hebat 2026 Resmi Dibuka

Juli 18, 2026
6
DPRD Kotabaru Gelar Paripurna, Pemkab Sampaikan KUA-PPAS 2027 dan Ajukan Tiga Raperda Prioritas
Daerah

DPRD Kotabaru Gelar Paripurna, Pemkab Sampaikan KUA-PPAS 2027 dan Ajukan Tiga Raperda Prioritas

Juli 18, 2026
9

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

UMKM di Tengah Guncangan Rupiah: Kolaborasi dengan AI sebagai Jalan Bertahan dan Naik Kelas

UMKM di Tengah Guncangan Rupiah: Kolaborasi dengan AI sebagai Jalan Bertahan dan Naik Kelas

6 bulan yang lalu
39
Terkait Akan Di Periksa Jampidsus Febrie Adriansyah,KPK diminta mengajukan permohonan kepada Jaksa Agung ST

Terkait Akan Di Periksa Jampidsus Febrie Adriansyah,KPK diminta mengajukan permohonan kepada Jaksa Agung ST

1 tahun yang lalu
20
Lisa Rahmat Nyatakan Kasasi Atas Putusan Banding 14 Tahun Penjara

Lisa Rahmat Nyatakan Kasasi Atas Putusan Banding 14 Tahun Penjara

10 bulan yang lalu
129

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Pernyataan Hotman Paris Tantang Penetapan Tersangka FA Harus Izin Presiden Menyesatkan Hukum

    Pernyataan Hotman Paris Tantang Penetapan Tersangka FA Harus Izin Presiden Menyesatkan Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dewan Koordinator Nasional( DKN) Kemaritiman Garda Prabowo Akomodir Nelayan Seluruh Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bilang “Wartawan Punya Otak Gak Sih” Hotman Paris Hutapea Dilaporkan Ke Polda Metro Jaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Silaturahmi Barsama Ketua Ketua RT 011 dan “Ketua RT 02”, Lurah Petojo Utara Berhasil Bikin Warga Selalu Rukun dan Kompak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sindikat Pengedar Narkotika Gunakan ‘Zangi’ Sebagai Alat Komunikasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA