PALU – kabaronenews.com – Ketika ufuk di ufuk Teluk Palu menyisakan rona jingga yang magis pada Minggu sore (19/4/2026), sebuah “prasasti” baru dalam ekosistem seni Indonesia Timur mulai dipahat.
Di selasar Kafe Nebula yang riuh, sebuah pertemuan bukan lagi sekadar obrolan di meja kopi, melainkan saksi bisu lahirnya sebuah kolaborasi akbar yang menghubungkan empat denyut nadi budaya: Palu, Balikpapan, Sigi, dan Makassar.
Dialog yang mulanya hanya berupa estafet program “Dua Kota Satu Panggung” itu kini bermetamorfosis menjadi entitas yang lebih raksasa.
Namun, menyatukan empat ruh budaya berbeda bukanlah perkara membalik telapak tangan.
Suasana rapat sore itu sempat memanas, berubah menjadi arena adu gagasan yang sengit, cair, sekaligus sakral.
Gugatan Estetika Endeng Mursalin
Endeng Mursalin, maestro perupa asal Kota Palu yang dikenal dengan guratannya yang liar dan tak lazim, hadir sebagai pemantik api diskusi.
Dengan nada yang dalam dan tegas, ia meruntuhkan sekat-sekat lama yang selama ini mengurung pemikiran para pelaku seni.
“Tak perlu lagi kita mengkotak-kotakkan diri dengan narasi wilayah seperti ‘Timur Bergerak’. Seolah kita sedang melakukan invasi atau memisahkan diri dari keutuhan seni nasional,” tegas Endeng di tengah keheningan audiens.
Baginya, seni adalah “Linguua Franca”—bahasa universal yang harusnya melampaui ego teritorial dan batas administratif.
Benturan Gagasan: Menuju Harmoni Empat Kota
Ketegangan intelektual tersebut justru menjadi bumbu penyedap dalam meramu komposisi acara yang paripurna.
Kota Palu menerjunkan “pasukan” seniman kawakan; mulai dari Udhin FM, Emhansaja, Faizal Rasyid, S.Sn., hingga Koko Merapi.
Sementara itu, dari jantung Kabupaten Sigi, hadir Akbar (Ketua Dewan Kesenian Sigi) bersama Ucal, Emen, Budi, Haikal, dan Amar, yang membawa napas tradisi yang kental namun tetap inovatif.
Faizal Rasyid, S.Sn, sempat menawarkan tajuk Nomore—sebuah akronim filosofis dari Nasionalisme, Moralisme, dan Revolusioner.
Namun, pencarian jati diri perhelatan ini menemukan titik terang saat delegasi Sigi mengusulkan “Bantaya”, sebuah nama yang lekat dengan lembaga seni milik Udhin FM, sebagai fondasi utama.
Melalui dialektika kolektif, lahirlah sebuah nama yang kini menjadi panji bersama: Bantaya Lingu@rt.
Bantaya Lingu@rt: Ruang Sakral di Era Digital
“Bantaya” bukan sekadar kata; ia merepresentasikan bangsal pertemuan komunal yang sakral dalam tradisi lokal.
Ketika ia bersenyawa dengan “Lingu@rt”, ia menjadi pernyataan sikap tentang bahasa seni yang adaptif dan inklusif di era digital.
Udhin FM, yang tahun lalu menakhodai delegasi Palu di Balikpapan, memandang perdebatan sengit ini sebagai sebuah simfoni yang indah.
“Inilah dinamika keberagaman pola pikir. Kita sedang membangun ekosistem yang lebih hebat. Hari ini empat kota, esok bukan tidak mungkin seluruh Nusantara akan melingkar (berkumpul) di sini,” ungkapnya dengan nada optimis.
Pertemuan tersebut tidak hanya berhenti pada filosofi, tapi juga menyentuh aspek teknis yang mendalam, mulai dari manajemen logistik, akomodasi, hingga strategi kemitraan yang solid.
Menanti Getaran di Taman Budaya
Perhelatan akbar Bantaya Lingu@rt dijadwalkan akan menggetarkan panggung Taman Budaya selama tiga hari berturut-turut, mulai 12 hingga 15 Juni 2026.
Ini bukan sekadar festival tahunan. Bantaya Lingu@rt adalah sebuah manifesto dari Tanah Tadulako; bahwa kolaborasi lintas batas, lintas disiplin seni adalah kunci untuk mendefinisikan ulang wajah seni masa depan Indonesia.
Di sini, di Palu, harmoni empat penjuru telah resmi ditenun.
“Maka, biarkanlah angin lembah membawa kabar ini ke seluruh penjuru negeri. Bantaya Lingu@rt adalah sebuah manifesto bahwa kolaborasi adalah napas masa depan. Di tengah dunia yang kian terkotak-kotak, para penjaga gawang kebudayaan ini memilih untuk berpegangan tangan. Dari empat kota, untuk satu Indonesia—sebuah persembahan cinta bagi kemanusiaan melalui estetika. Juni mendatang, Taman Budaya tidak hanya akan menjadi saksi sebuah pertunjukan, melainkan saksi lahirnya sejarah; saat seni kembali pulang ke rumah sejatinya: yakni hati masyarakat yang rindu akan harmoni.”
NK



















