Oleh: Dr. Abidah Dwi Rahmi Satiti, S.Pd., M.Pd.
Dosen Doktor Prodi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA
Lamongan, KabarOne News.com-Ketika berbicara tentang akuntansi, sebagian orang mungkin langsung membayangkan angka, laporan keuangan, dan rumus-rumus yang rumit. Namun di tangan para akademisi Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Lamongan (UNISLA), ilmu ini menjadi lebih dari sekadar perhitungan laba dan rugi. Kami di FEB UNISLA percaya bahwa akuntansi juga bisa menjadi alat untuk menyelamatkan bumi melalui apa yang disebut akuntansi hijau dan pengelolaan emisi karbon.
Lamongan hari ini sedang bergerak menuju daerah yang lebih sadar lingkungan. Di tengah berkembangnya industri kecil, pertanian modern, hingga aktivitas ekonomi pesisir, tantangan lingkungan semakin nyata. Udara yang mulai tidak sebersih dulu, tumpukan sampah yang tak kunjung habis, dan limbah industri yang mengalir ke sungai menjadi peringatan bahwa pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan kesadaran ekologis. Di sinilah peran akuntansi hijau (green accounting) menjadi relevan dan Prodi Akuntansi FEB UNISLA hadir untuk memberikan solusi akademik sekaligus praktik nyata bagi masyarakat.
Sebagai dosen yang menekuni bidang emisi karbon dan akuntansi hijau, saya melihat bahwa persoalan lingkungan sebenarnya tidak lepas dari aspek keuangan. Banyak perusahaan di Lamongan belum menyadari pentingnya menganggarkan dana untuk kegiatan penghijauan, efisiensi energi, atau pengelolaan limbah. Padahal, dari perspektif akuntansi, hal-hal tersebut bisa dicatat, diawasi, bahkan diukur secara ekonomis. Inilah yang sedang dikembangkan dan diajarkan di Prodi Akuntansi FEB UNISLA bagaimana ilmu akuntansi bisa bertransformasi menjadi instrumen pengendali perilaku ekonomi yang lebih beretika dan berkelanjutan.
Mahasiswa di prodi ini tidak hanya belajar tentang debit dan kredit, tetapi juga bagaimana menghitung “nilai lingkungan” dari setiap keputusan bisnis. Kami membimbing mereka untuk memahami bahwa setiap angka dalam laporan keuangan membawa konsekuensi sosial dan ekologis. Misalnya, ketika sebuah perusahaan membeli bahan bakar, mahasiswa dilatih untuk menghitung tidak hanya biayanya, tetapi juga emisi karbon yang dihasilkan. Dengan cara ini, akuntansi menjadi ilmu yang hidup yang mampu menilai dampak ekonomi sekaligus mengukur tanggung jawab terhadap bumi.
Prodi Akuntansi FEB UNISLA juga aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam upaya pemberdayaan UMKM dan desa-desa di Lamongan. Kami membantu pelaku usaha kecil agar memahami bagaimana mereka bisa menjalankan bisnis secara berkelanjutan termasuk mengatur keuangan untuk program daur ulang, pengurangan limbah, atau efisiensi energi. Dalam beberapa pelatihan, kami memperkenalkan konsep sederhana tentang carbon accounting agar masyarakat mulai terbiasa menghitung emisi dari aktivitas sehari-hari.
Bayangkan, jika seluruh pelaku UMKM di Lamongan mulai mencatat dan mengelola penggunaan energinya secara sadar, betapa besar dampak positifnya bagi lingkungan. Udara bisa lebih bersih, biaya produksi bisa ditekan, dan citra usaha mereka pun meningkat karena dinilai peduli lingkungan. Dan semua itu bisa dimulai dari langkah kecil dari pencatatan yang baik dan akuntabilitas yang jujur.
Di sisi lain, kami di FEB UNISLA juga terus memperkuat penelitian tentang akuntansi hijau dan emisi karbon. Mahasiswa didorong untuk menjadikan isu lingkungan sebagai topik penelitian, agar hasilnya bisa bermanfaat langsung bagi daerah. Lamongan punya banyak potensi untuk dijadikan studi kasus mulai dari sektor industri tahu-tempe, pertanian, hingga pariwisata berbasis alam. Dengan penelitian yang tepat, Prodi Akuntansi FEB UNISLA ingin menjadi pionir dalam membangun sistem pelaporan hijau yang bisa diadopsi oleh pemerintah daerah maupun dunia usaha.
Namun perjalanan menuju “Lamongan hijau” tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara akademisi, pengusaha, masyarakat, dan pemerintah daerah. FEB UNISLA siap menjadi jembatan kolaborasi itu. Kami ingin kampus tidak hanya menjadi menara gading, tapi juga rumah pengetahuan yang membumi yang turun langsung melihat tumpukan sampah, berbincang dengan pelaku usaha, dan membantu merumuskan strategi keuangan yang berpihak pada kelestarian alam.
Bagi saya pribadi, akuntansi hijau bukan sekadar bidang keahlian, tapi panggilan moral. Mengajar di FEB UNISLA memberi saya kesempatan untuk menyebarkan kesadaran ini, terutama kepada generasi muda yang akan memegang kendali ekonomi di masa depan. Saya ingin mahasiswa akuntansi UNISLA tidak hanya menjadi akuntan yang pandai menghitung laba, tetapi juga menjadi penjaga keseimbangan bumi. Mereka harus tahu bahwa setiap rupiah yang dicatat bisa berdampak pada udara yang mereka hirup dan air yang mereka minum.
Jika kita ingin Lamongan menjadi daerah yang maju, kita harus memastikan bahwa kemajuan itu tidak merusak alam. Perusahaan yang sukses bukan hanya yang meraih laba besar, tetapi juga yang mampu menjaga kualitas lingkungan sekitarnya. Dan Prodi Akuntansi FEB UNISLA hadir untuk memastikan hal itu terjadi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berorientasi pada keberlanjutan.
Maka dari itu, mari kita ubah cara pandang terhadap akuntansi. Ia bukan sekadar catatan keuangan, tapi bahasa moral yang menghubungkan ekonomi dengan ekologi. Melalui akuntansi hijau, kita bisa menghitung bukan hanya berapa besar uang yang kita hasilkan, tetapi juga berapa banyak udara bersih yang kita selamatkan.
Lamongan bisa menjadi contoh daerah yang tidak hanya cerdas secara ekonomi, tetapi juga bijak terhadap lingkungan. Dan langkah itu dimulai dari kampus, dari ruang kelas Prodi Akuntansi FEB UNISLA, di mana angka dan kepedulian berjalan seiring untuk satu tujuan: menciptakan bumi yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan bagi semua.



















