Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE
(Dekan FEB UNISLA)
Surabaya, KabarOneNews.com -Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kerap diumumkan sebagai indikator keberhasilan, ada realitas yang diam-diam semakin menguat di lapangan: bekerja saja tidak lagi cukup untuk hidup layak. Fenomena ini bukan sekadar keluhan pekerja urban atau perbincangan warganet di media sosial. Ini adalah gejala sosial-ekonomi yang semakin luas, melintasi kota dan desa, sektor industri maupun jasa, bahkan merambah hingga profesi yang selama ini dianggap mapan.
Hari ini, semakin banyak pekerja formal yang tetap tidak mampu menutupi biaya hidup bulanan. Gaji yang diterima habis untuk kebutuhan dasar: pangan, sewa rumah, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan digital. Dalam banyak kasus, pekerja yang memiliki status tetap sekalipun terpaksa mencari pemasukan tambahan. Ada yang menjadi pengemudi daring setelah pulang kantor, membuka jasa kecil-kecilan, menjual makanan, menjadi reseller, atau mengelola toko online. Pekerjaan formal yang dulu dianggap puncak keamanan ekonomi kini sering hanya menjadi “pondasi”, sementara ketahanan rumah tangga justru ditopang oleh kerja tambahan atau usaha mikro.
Situasi ini menandai perubahan penting dalam wajah ketenagakerjaan Indonesia. Jika sebelumnya sektor informal dipandang sebagai pilihan terakhir karena keterbatasan akses kerja formal, kini sektor informal tumbuh sebagai respon rasional atas ketidakcukupan pendapatan formal. Dalam konteks ini, sektor informal menjadi semakin mulia: bukan karena romantisasi kemiskinan, melainkan karena di sanalah banyak keluarga mempertahankan martabat hidupnya. Mereka bekerja keras bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar tetap bisa bertahan, membayar kebutuhan rumah tangga, dan menjaga masa depan anak-anak.
Fenomena tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang semakin nyata: UMKM bukan lagi sekadar pelengkap ekonomi nasional, melainkan benteng pertahanan sosial. UMKM tumbuh bukan hanya karena dorongan program pemerintah atau tren kewirausahaan, tetapi karena masyarakat semakin sadar bahwa menggantungkan hidup sepenuhnya pada pekerjaan formal tidak lagi cukup aman. Dalam realitas ekonomi yang bergerak cepat, UMKM menjadi jalur survival sekaligus jalur kebangkitan.
Transformasi ini tidak muncul tanpa sebab. Kenaikan biaya hidup berlangsung cepat, sementara peningkatan pendapatan tidak selalu sejalan. Harga bahan pokok, biaya pendidikan, tarif transportasi, kebutuhan perumahan, dan beban cicilan meningkat. Di sisi lain, dunia usaha menghadapi tekanan global, efisiensi, serta perubahan teknologi yang mempengaruhi struktur tenaga kerja. Banyak perusahaan menahan kenaikan upah, mengurangi tunjangan, atau menerapkan sistem kontrak yang membuat pekerja tidak memiliki kepastian jangka panjang. Maka, pilihan paling logis bagi banyak keluarga adalah mencari sumber pendapatan lain.
Pada titik inilah UMKM menjadi pilihan strategis. Bukan karena semua orang bermimpi menjadi pengusaha, melainkan karena semua orang ingin hidup layak. UMKM lahir dari keterampilan sederhana dan kebutuhan pasar yang dekat. Dari warung kecil, produksi makanan rumahan, usaha kerajinan, jasa jahit, laundry, katering, hingga perdagangan online melalui marketplace. UMKM tumbuh dari dapur, garasi, teras rumah, dan kini berkembang melalui layar ponsel.
Yang menarik, momentum kebangkitan UMKM sering kali dimulai dari momen musiman. Dalam konteks Indonesia, Ramadhan adalah salah satu momentum ekonomi terbesar. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan meningkatnya perputaran ekonomi masyarakat. Permintaan makanan berbuka, takjil, paket sahur, kue kering, minuman segar, hingga kebutuhan busana muslim meningkat tajam. Aktivitas belanja meningkat, baik secara langsung maupun digital. Sektor jasa seperti pengantaran, katering, dan penjualan online juga mengalami lonjakan.
Karena itu, Ramadhan 2026 harus dibaca sebagai peluang besar untuk memulai UMKM. Bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada gaji bulanan yang tidak mencukupi, Ramadhan 2026 bisa menjadi titik awal kemandirian ekonomi. Bahkan, bagi pekerja formal sekalipun, Ramadhan dapat menjadi kesempatan untuk membangun usaha sampingan yang kelak bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang stabil.
Memulai UMKM pada Ramadhan 2026 tidak harus dengan modal besar. Banyak usaha dapat dimulai dari modal kecil, bahkan dari peralatan yang sudah tersedia di rumah. Yang dibutuhkan adalah kejelian membaca kebutuhan pasar, konsistensi kualitas produk, serta kemampuan memasarkan. Di era digital, pemasaran tidak lagi bergantung pada lokasi. Foto produk yang baik, deskripsi yang jelas, layanan cepat, serta testimoni pelanggan bisa menjadi kekuatan utama. Bahkan usaha rumahan pun dapat menjangkau konsumen lintas wilayah.
Namun, Ramadhan bukan hanya soal “jualan musiman”. Ramadhan seharusnya menjadi pintu masuk membangun usaha yang berkelanjutan. Banyak UMKM besar hari ini memulai dari momen Ramadhan, lalu berkembang karena dikelola dengan serius. Yang menentukan keberlanjutan bukan semata besarnya omzet saat Ramadhan, tetapi kemampuan pelaku usaha mengelola keuangan, menjaga pelanggan, dan memperluas pasar setelah Ramadhan berakhir.
Di sinilah literasi ekonomi menjadi sangat penting. Banyak usaha kecil gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena manajemen keuangannya lemah. Modal bercampur dengan uang belanja rumah tangga, laba habis tanpa perencanaan, dan akhirnya usaha berhenti. Padahal, kunci UMKM bukan hanya produksi, tetapi juga pencatatan. Hal sederhana seperti menghitung biaya bahan, biaya tenaga, margin, serta laba bersih dapat menentukan apakah usaha bertahan atau tidak.
Lebih jauh, kebangkitan UMKM bukan hanya soal solusi individu, tetapi juga solusi sosial. Ketika UMKM tumbuh, ia menciptakan lapangan kerja baru. Satu usaha kecil dapat melibatkan tetangga, saudara, atau teman. UMKM yang kuat menciptakan rantai ekonomi lokal: petani menjadi pemasok bahan, pedagang menjadi distributor, kurir mendapatkan pekerjaan, dan masyarakat sekitar ikut menikmati perputaran uang. Dengan demikian, UMKM adalah wujud ekonomi kerakyatan yang nyata.
Fenomena “gaji tak lagi menyelamatkan” harus dibaca sebagai alarm sosial. Ini bukan semata persoalan individu yang kurang bekerja keras, tetapi tantangan struktural yang membutuhkan jawaban kebijakan, inovasi, dan solidaritas sosial. Namun di tengah tekanan itu, masyarakat Indonesia menunjukkan daya tahan yang luar biasa: mereka tidak menyerah, mereka beradaptasi, dan mereka menciptakan peluang.
UMKM adalah simbol ketahanan itu. Ia lahir dari kebutuhan, tumbuh dari ketekunan, dan menjadi penopang kehidupan. Ramadhan 2026, dengan segala keberkahan dan dinamika ekonominya, dapat menjadi momentum besar untuk memulai. Jangan menunggu sempurna. Jangan menunggu modal besar. Mulailah dari keterampilan yang ada dan dari kebutuhan pasar yang paling dekat. Sebab dalam ekonomi modern, yang bertahan bukan hanya yang besar, tetapi yang mampu membaca perubahan dan bergerak lebih cepat.
Pada akhirnya, ketahanan ekonomi rakyat tidak akan lahir dari satu kebijakan tunggal, melainkan dari sinergi. Pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat harus berjalan bersama. UMKM harus dipandang bukan sebagai ekonomi pinggiran, tetapi sebagai arus utama ekonomi bangsa. Ketika UMKM kuat, daya tahan ekonomi keluarga kuat. Ketika daya tahan keluarga kuat, maka daya tahan bangsa juga akan semakin kokoh.
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 2026. Semoga Ramadhan ini membawa berkah, menguatkan iman, dan membuka pintu rezeki serta kemandirian ekonomi bagi kita semua.


















