Oleh: DR.H.Abid Muhtarom,SE.,SPd.,MSE (Dekan FEB UNISLA / wakil dewan pengupahan kabupaten Lamongan)
Surabaya, KabarOne News.com-Tahun 2026 bukan tahun “normal”; ini tahun seleksi alam bagi organisasi dan individu yang masih nyaman dengan cara lama. Yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi mereka yang mampu memadukan kecerdasan buatan, pengelolaan data, tata kelola yang rapi, dan keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Pada titik ini, bekerja keras saja tidak cukup; yang menentukan adalah bekerja cerdas, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Di banyak sektor, perubahan paling tajam terjadi karena AI tidak lagi menjadi proyek sampingan, tetapi “mesin utama” yang menggerakkan pemasaran, operasi, layanan pelanggan, hingga keuangan. Organisasi yang dulu mengandalkan intuisi kini mulai dipaksa menaruh keputusan pada fondasi data. Akibatnya, siapa pun yang tidak bisa membaca data akan seperti pilot yang terbang tanpa instrumen: bisa saja bergerak cepat, tetapi berisiko salah arah. Inilah mengapa literasi data menjadi keterampilan dasar yang wajib dimiliki, bukan hanya oleh analis, tetapi juga oleh manajer, pemilik usaha, dan pengambil keputusan di semua level. Di 2026, pertanyaan penting bukan lagi “apakah kita pakai teknologi?”, melainkan “apakah teknologi kita menghasilkan keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih aman?”
Ledakan otomasi juga mengubah arti profesionalisme, terutama di bidang manajemen dan akuntansi. Pekerjaan repetitif yang selama ini menyita energi manusia akan semakin mudah dikerjakan sistem: pencatatan, klasifikasi transaksi, konsolidasi laporan, hingga deteksi pola tertentu. Jika peran manusia hanya sebatas mengulang rutinitas, maka nilainya akan menurun. Sebaliknya, nilai akan naik drastis bagi mereka yang mampu naik level: menafsirkan angka, menguji kewajaran, membaca risiko, lalu menerjemahkannya menjadi rekomendasi yang bisa dieksekusi. Akuntansi masa depan bukan sekadar “mencatat benar”, tetapi menjaga kualitas keputusan: memastikan data valid, kontrol berjalan, risiko dipetakan, dan transparansi tidak bocor. Manajemen masa depan bukan sekadar “mengatur orang”, tetapi mengorkestrasi perubahan memimpin tim agar sanggup menyesuaikan proses, teknologi, dan target secara simultan.
Namun 2026 tidak hanya tentang AI. Ada gelombang yang tak kalah besar: ESG dan keberlanjutan. Dunia usaha sedang bergerak menuju fase di mana reputasi, akses modal, dan loyalitas pelanggan ikut ditentukan oleh dampak sosial-lingkungan dan mutu tata kelola. Ini bukan lagi “program CSR agar terlihat baik”, melainkan tuntutan pasar dan regulasi yang semakin konkret. Banyak perusahaan akan diminta membuktikan klaimnya melalui data, pengukuran, dan pelaporan yang dapat diuji. Di sinilah jebakan terbesar muncul: banyak organisasi ingin tampak hijau, tetapi lemah pada data dan sistem pengendalian. Ketika ESG hanya dijadikan kosmetik, risikonya bukan hanya kritik publik, tetapi juga masalah hukum, hilangnya kepercayaan, dan runtuhnya valuasi. Maka, persiapan 2026 harus menempatkan ESG sebagai strategi inti: bagaimana keberlanjutan masuk ke desain produk, rantai pasok, efisiensi energi, kebijakan SDM, dan budaya integritas bukan sekadar slide presentasi.
Jika AI adalah mesin percepatan, ESG adalah kompas moral sekaligus kompas risiko. Bisnis yang bergerak cepat tanpa kompas bisa menabrak. Bisnis yang punya kompas tetapi lambat bisa tertinggal. Tahun 2026 menuntut keseimbangan yang sulit tetapi wajib: cepat dan benar sekaligus. Perusahaan dan talenta yang unggul adalah mereka yang mampu mengeksekusi inovasi dengan disiplin tata kelola. Artinya, bukan hanya mengadopsi sistem baru, tetapi juga memperkuat kontrol internal, keamanan data, dan mekanisme audit yang relevan dengan lingkungan digital. Kepercayaan adalah mata uang paling mahal, dan ia tidak bisa dibeli dengan promosi; ia dibangun dari konsistensi, transparansi, dan akuntabilitas.
Di atas semua itu, ketidakpastian geopolitik membuat 2026 menjadi tahun manajemen risiko yang sesungguhnya. Gangguan rantai pasok, perubahan kebijakan dagang, gejolak kurs, hingga pergeseran aliansi ekonomi akan menguji daya tahan organisasi. Banyak perusahaan akan dipaksa memikirkan ulang sumber bahan baku, jalur distribusi, sampai ketergantungan pada pasar tertentu. Ini menuntut pola pikir “multi-skenario”: tidak cukup punya satu rencana, harus punya beberapa kemungkinan dan respons cepat. Dalam situasi seperti ini, keuangan dan akuntansi bukan sekadar fungsi pelaporan, tetapi alat navigasi. Manajemen bukan sekadar penetapan target, tetapi seni menyeimbangkan efisiensi hari ini dan ketahanan besok. Mereka yang menguasai dua bahasa sekaligus bahasa strategi dan bahasa angka akan memimpin.
Persiapan menghadapi 2026 karena itu harus dimulai dari perubahan kebiasaan, bukan hanya penambahan pengetahuan. Pertama, biasakan pengambilan keputusan berbasis data: mulai dari hal sederhana seperti mengukur kinerja dengan indikator yang jelas, hingga kebiasaan memeriksa asumsi sebelum menyimpulkan. Kedua, jadikan teknologi sebagai sistem kerja, bukan sekadar aplikasi: pahami alur proses, siapa melakukan apa, di mana risiko muncul, dan bagaimana kontrol dipasang. Ketiga, perkuat kemampuan komunikasi profesional: data tidak akan berguna jika tidak bisa dijelaskan dengan ringkas, logis, dan meyakinkan. Keempat, bangun integritas sebagai identitas: di era digital, kesalahan kecil dapat menjadi viral; manipulasi kecil dapat menjadi bencana besar. Kelima, latih kemampuan belajar ulang: alat akan berubah, standar akan diperbarui, industri akan bergeser; yang tetap relevan adalah orang yang cepat belajar dan berani menyesuaikan diri.
Ada juga satu hal yang sering diabaikan: 2026 akan memperketat persaingan talenta. Banyak organisasi mencari profil “T-shaped”: paham dasar luas lintas fungsi, tetapi juga punya kedalaman pada satu bidang. Seorang manajer yang paham data akan lebih kuat. Seorang akuntan yang paham proses bisnis dan risiko operasional akan lebih bernilai. Seorang profesional yang paham ESG sekaligus paham kontrol dan pelaporan akan menjadi rebutan. Dunia tidak kekurangan gelar; dunia kekurangan kompetensi yang bisa langsung memberi dampak.
Pada akhirnya, 2026 adalah panggilan untuk dewasa dalam cara memimpin dan cara bekerja. Dunia tidak menunggu kesiapan siapa pun. Mereka yang menunda akan berhadapan dengan biaya adaptasi yang lebih mahal. Mereka yang menolak perubahan akan terdorong keluar dari relevansi. Tetapi mereka yang menyiapkan diri dari sekarang dengan literasi data, pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, penguatan tata kelola, dan integrasi ESG sebagai strategi akan menemukan bahwa 2026 bukan ancaman, melainkan panggung kemenangan.
Catatan transparansi: Pada pesan ini tidak tersedia akses untuk memuat ulang rujukan eksternal, sehingga sitasi tidak dapat disertakan. Jika akses rujukan diaktifkan pada balasan berikutnya, teks ini bisa dilengkapi sitasi dari sumber internasional yang sama seperti analisis sebelumnya agar memenuhi format akademik/penugasan.



















