PALU – kabaronenews.com – Embun pagi masih menyelimuti Kelurahan Lere pada Rabu (06/05/2026), namun denyut semangat gotong royong sudah berdetak kencang sejak pukul 06.00 WITA.
Di balik sejuknya udara pagi, ada kehangatan yang tercipta dari sebuah kebersamaan yang tulus.
Kawasan belakang Kampus UIN Datokarama dan area sekitar dekat Palu Grand Mall hari itu tidak hanya dibersihkan secara fisik, tetapi juga dibalut dengan rasa kekeluargaan yang kental.
Tim Sapu Rata Kotoran Dengan Senyum (Sarkodes) Palu Barat bersama anggota Padat Karya Kelurahan Lere turun dengan satu tekad, mengembalikan keasrian lingkungan mereka.
Namun, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Di tengah kerumunan petugas yang berpeluh keringat, nampak Camat Palu Barat, Khomaeni, S.Sos., hadir bukan sebagai pejabat yang sekadar memberi instruksi di bawah tenda teduh.
Masih mengenakan seragam Dinas Keki, ia justru memilih membenamkan kaki ke tanah, membaur tanpa sekat.Tanpa canggung, Khomaeni memegang pokare (alat pembersih rumput khas daerah setempat).
Dengan ayunan tangan yang terampil, ia memangkas rumput liar yang tumbuh rimbun hingga “menggunung” di pinggir jalan.
Pemandangan ini seolah meruntuhkan tembok birokrasi, antara pemimpin dan rakyat, mereka kini adalah saudara yang sedang bahu-membahu menata rumah sendiri.
Kehadiran sang Camat menjadi suntikan energi luar biasa bagi 25 anggota Tim Sarkodes. Lelah mereka seolah luruh saat melihat pemimpinnya ikut merasakan peluh yang sama.
“Kehadiran kami di sini adalah bentuk cinta. Saya ingin memberikan dukungan moral bahwa mereka tidak sendirian. Saat kita bekerja bersama, beban seberat apa pun akan terasa ringan, dan ikatan kekeluargaan kita pun semakin kuat,” ungkap Khomaeni dengan nafas yang masih terengah, namun tetap melempar senyum.
Khomaeni menegaskan bahwa aksi ini bukanlah seremoni belaka. Ini adalah bagian dari “Rencana Aksi” besar di enam kelurahan se-Kecamatan Palu Barat.
Dengan target yang nyata, ia mematok tanggal 31 Juni sebagai batas waktu bagi Palu Barat untuk benar-benar bersih dan tertata.
“Kami sudah bergerak dua bulan terakhir. Setiap Sabtu dan Minggu, RT dan RW bersama masyarakat telah rutin kerja bakti. Ini bukan sekadar membersihkan sampah, tapi membersihkan hati kita agar lebih peduli pada lingkungan tempat anak-cucu kita tumbuh,” tambahnya.
Aksi nyata ini menyentuh hati warga sekitar. Melihat pemimpinnya turun langsung mencangkul, warga merasa dihargai.
Mereka melihat ini bukan lagi sekadar program pemerintah, melainkan gerakan bersama untuk mewujudkan wajah Kota Palu yang lebih bersih, asri, dan nyaman bagi siapa saja yang singgah.
Lere hari ini bukan sekadar bersih dari rumput liar, namun juga dipenuhi benih kesadaran kolektif, bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan pemimpin yang dicintai adalah ia yang tak segan kotor demi kesejahteraan rakyatnya.
NK



















