(BALIKPAPAN) – kabarOnenews.com – Di bawah pendar cahaya studio yang sarat akan aroma cat minyak dan gema kreativitas, sebuah pertemuan tak lazim namun puitis tersaji.
Kediaman maestro lukis Cadio Tarompo bukan sekadar menjadi ruang pameran, melainkan titik temu antara diskursus estetika dan tanggung jawab sosial.
Komunitas Seni Bergerak Balikpapan baru saja merajut dialog strategis bersama jajaran Binmas Polda Kalimantan Timur, sebuah audiensi yang melampaui formalitas birokrasi, Selasa (28/04/2026).
Pertemuan ini merupakan pengejawantahan dari konsep social-artistic synergy, di mana seni tidak lagi dipandang sebagai entitas soliter di dalam menara gading, melainkan instrumen aktif dalam pembangunan karakter bangsa.
Di hadapan AKBP Windia dan tim Binmas, para seniman memaparkan manifestasi misi mereka menuju Bantaya Lingu@rt 2026 di Palu, Juni mendatang.
Ini bukan sekadar perjalanan fisik lintas pulau, melainkan sebuah ziarah kebudayaan untuk mengibarkan panji artistik Kalimantan Timur di kancah yang lebih luas.
Panca, representasi dari nafas pergerakan komunitas ini, bersama Cadio Tarompo, menekankan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyentuh relung psikologis generasi muda.
Secara akademis, pendekatan ini menyentuh ranah art therapy dan pendidikan karakter informal—sebuah upaya preventif terhadap degradasi sosial melalui stimulasi kreatif yang positif.
Menanggapi visi tersebut, AKBP Windia memberikan apresiasi tinggi melalui perspektif ketertiban masyarakat.
Beliau menggarisbawahi bahwa organisasi seni yang sehat adalah cermin dari ekosistem sosial yang stabil.
Dalam konteks ini, sinergi antara kepolisian dan seniman merupakan bentuk nyata dari kolaborasi lintas disiplin demi menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
Puncak dari rangkaian diplomasi kultural ini nantinya akan bermuara pada audiensi eksklusif bersama Kapolda Kaltim.
Sebuah prosesi pelepasan kontingen yang sarat makna telah dipersiapkan, mencakup penyerahan potret kurasi wajah Kapolda serta aksi sketch on the spot—sebuah pertunjukan seni kinetik yang menangkap momentum kejujuran visual secara langsung.
Sebagai simbol pengikat komitmen, AKBP Windia menyerahkan plakat Binmas Polda Kaltim, sebuah artefak simbolis yang menandai bahwa di Balikpapan, seni dan ketertiban tidak berjalan beriringan, melainkan berpadu dalam satu langkah yang seirama.
Melalui kemitraan ini, diharapkan ruang kreatif bukan hanya menjadi tempat berekspresi, melainkan laboratorium kemanusiaan yang membentuk pemuda berkarakter luhur.
NK



















