BALIKPAPAN – kabaronenews.com – Di bawah pendar lampu Ballroom Hotel Grand Senyiur, Senin (6/4/2026), Pemerintah Kota Balikpapan membedah lembar demi lembar catatan keuangan daerah dalam Rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025.
Di hadapan para wakil rakyat, Pemkot menegaskan bahwa setiap rupiah yang keluar bukan sekadar barisan angka, melainkan napas pembangunan bagi warga Balikpapan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, M.M., yang hadir mewakili Wali Kota, menyampaikan pesan mendalam terkait filosofi anggaran. Baginya, keberhasilan pemerintah tidak diukur dari seberapa habis kas daerah, melainkan seberapa besar manfaat yang singgah di pintu rumah masyarakat.
“Yang paling sakral bukanlah angka realisasi di atas kertas, tetapi bagaimana anggaran tersebut benar-benar menjelma menjadi dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Bagus dengan nada penuh optimisme.
Rapor Hijau di Tengah Tantangan
Sepanjang tahun 2025, dinamika ekonomi tak menyurutkan langkah Pemkot. Dari target pendapatan daerah sebesar Rp4,26 triliun, Balikpapan berhasil mengumpulkan Rp4,13 triliun atau mencapai angka impresif 97,10 persen.
Di sisi belanja, dari alokasi Rp4,75 triliun, terealisasi sebesar Rp4,27 triliun (89,90 persen).
Menariknya, denyut pembangunan fisik terlihat sangat agresif dengan belanja modal yang menyentuh angka 95,32 persen—sebuah sinyal bahwa infrastruktur tetap menjadi prioritas utama. Sementara itu, belanja transfer berhasil tuntas seratus persen tanpa sisa.
Menjawab Persoalan Silpa
Mengenai Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa), Bagus memberikan penjelasan jernih untuk meredam spekulasi. Menurutnya, Silpa adalah residu dari sebuah prinsip kehati-hatian.
“Silpa lahir dari efisiensi lelang dan sikap pragmatis kita untuk tidak memaksakan proyek yang berisiko cacat administrasi di penghujung tahun. Kami lebih memilih menjaga integritas pembangunan daripada mengejar serapan namun mengabaikan kualitas,” jelasnya.
Sinergi untuk Masa Depan
Menutup paparannya, Bagus menitipkan pesan reflektif tentang pentingnya fungsi pengawasan DPRD. Ia memandang kritik dan evaluasi legislatif bukan sebagai hambatan, melainkan kompas untuk memperbaiki arah pembangunan di masa depan.
Dengan capaian serapan yang tinggi, Balikpapan kini menatap jalan panjang pembangunan dengan optimisme baru.
Anggaran telah dikucurkan, program telah dijalankan, dan kini saatnya memastikan setiap jejak pembangunan tersebut menjadi warisan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat kota Minyak.
NK



















