Lamongan, KabarOne News com– Pendidikan dan Latihan Pertama (DIKLATAMA) VII Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, yang digelar pada 26–28 Desember 2025 di MTs Darussalam Getung, Kecamatan Turi, berlangsung sukses dan penuh semangat. Selama tiga hari, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan kader muda Nahdlatul Ulama agar siap berorganisasi, berkhidmat, dan hadir memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa.
Sebanyak 46 peserta mengikuti DIKLATAMA VII dengan antusias. Mereka berasal dari berbagai unsur pimpinan komisariat dan ranting, di antaranya Pimpinan Komisariat MTs Bahrul Ulum, Pimpinan Komisariat SMP Al Ma’ruf, Pimpinan Komisariat SMP Diniyah Gowa, Pimpinan Ranting Desa Putat Kumpul, Pimpinan Ranting Desa Geger, serta Pimpinan Ranting Desa Kemlagi Gede. Kegiatan ini dipandu oleh Instruktur Pelatih DKC CBP KPP Lamongan (Dewan Koordinasi Cabang) bersama DKAC CBP KPP Kecamatan Turi sebagai panitia pelaksana.
Sejak hari pertama, suasana DIKLATAMA sudah terasa dinamis. Materi pengenalan IPNU dan IPPNU yang disampaikan PC IPNU IPPNU Lamongan membuka kegiatan dengan pendekatan komunikatif dan dialogis. Peserta diajak memahami kembali jati diri kader pelajar NU, posisi strategis pemuda dalam organisasi, serta tantangan yang dihadapi di era perubahan sosial yang cepat. Materi ini menjadi fondasi awal agar peserta memiliki arah dan visi yang sama dalam berorganisasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan materi Aswaja dan Ke-NU-an yang disampaikan oleh Saiful Munir, MM. Dalam sesi ini, peserta kembali diteguhkan pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Materi ini menekankan bahwa kader NU harus tetap moderat, toleran, dan berakar pada tradisi, tanpa kehilangan daya adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Masih di hari pertama, materi kepemimpinan dan keorganisasian yang disampaikan Dr. Winarto Eka Wahyudi memberi penguatan penting tentang peran pemimpin di tingkat ranting dan komisariat. Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan kemampuan menggerakkan, melayani, dan menjaga kepercayaan anggota. Diskusi berjalan hidup meski materi disampaikan hingga larut malam, menandakan tingginya antusiasme peserta.
Memasuki hari kedua, DIKLATAMA VII diisi dengan materi-materi yang bersifat teknis dan aplikatif. Materi CBP KPP oleh DKC Lamongan memberikan pemahaman mendalam tentang peran strategis CBP dan KPP sebagai unsur pengamanan organisasi dan kegiatan sosial. Selanjutnya, materi PPGD dan PK yang disampaikan Basada Korcab Lamongan membekali peserta dengan keterampilan dasar pertolongan pertama dan kesiapsiagaan, yang sangat dibutuhkan dalam aktivitas lapangan.
Materi wawasan kebangsaan yang disampaikan Kapolsek Turi, AKP Suroto, SH., MH., menjadi salah satu sesi yang mendapat perhatian besar. Dalam paparannya, ia menegaskan pentingnya peran pemuda NU dalam menjaga persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat di tingkat desa. Peserta diajak memahami bahwa nasionalisme dan keislaman bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Namun, di antara seluruh rangkaian materi yang disampaikan, sesi komunikasi dan kerja sama tim yang dibawakan oleh Dr. H. Abid Muhtarom, S.E., S.Pd., M.SE., menjadi salah satu momen paling menonjol dan berkesan bagi peserta. Sebagai akademisi Universitas Islam Lamongan (UNISLA), dosen, sekaligus tokoh NU yang aktif dalam dunia organisasi dan pengabdian masyarakat, Dr. Abid menghadirkan materi yang terasa dekat dengan realitas kader di lapangan.
Dalam penyampaiannya, Dr. Abid Muhtarom menekankan bahwa kekuatan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya program atau struktur yang rapi, melainkan oleh kualitas komunikasi dan soliditas kerja tim. Ia menyampaikan bahwa banyak organisasi mengalami stagnasi bahkan konflik internal bukan karena perbedaan tujuan, tetapi karena miskomunikasi, ego sektoral, dan kurangnya kepercayaan antar anggota. “Organisasi akan kuat kalau komunikasinya sehat dan timnya solid,” ungkapnya di hadapan peserta.
Dr. Abid juga menekankan bahwa kader NU harus mampu menjadi perekat sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, kader tidak cukup hanya aktif di internal organisasi, tetapi harus hadir sebagai solusi atas persoalan nyata di desa, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan sosial keagamaan. Untuk itu, kemampuan membangun kerja sama tim dan berkomunikasi dengan berbagai pihak menjadi modal utama yang tidak bisa ditawar.
Dengan gaya penyampaian yang lugas, membumi, dan disertai contoh konkret dari pengalaman akademik maupun organisasi, materi Dr. Abid Muhtarom mampu menghidupkan suasana kelas. Peserta terlihat aktif berdiskusi, menyampaikan pengalaman, serta mengaitkan materi dengan tantangan yang mereka hadapi di masing-masing ranting dan komisariat. Diskusi yang dipandu Komandan Habib ini berlangsung hangat dan interaktif hingga akhir sesi.
Materi ini sekaligus menegaskan peran penting dunia akademik dalam proses kaderisasi NU. Seluruh rangkaian DIKLATAMA VII diketahui melibatkan pemateri yang merupakan dosen maupun alumni Universitas Islam Lamongan. Hal ini menjadi bukti nyata kontribusi UNISLA dalam mendukung penguatan sumber daya manusia NU, khususnya di tingkat akar rumput.
Selain materi utama tersebut, peserta juga mendapatkan pembekalan metode belajar dan bermain oleh Alvina Gayu Anggraini. Materi ini memberi inspirasi bagi kader agar lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan kaderisasi dan pendampingan pelajar. Sementara itu, materi LBB dan tata laksana upacara oleh Komandan Amalan melatih kedisiplinan, kekompakan, dan ketepatan gerak sebagai bagian dari pembentukan karakter kader yang siap terjun di masyarakat.
Secara keseluruhan, DIKLATAMA VII Kecamatan Turi Lamongan tidak hanya menjadi agenda rutin kaderisasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kolektif yang mempertemukan nilai keislaman, kebangsaan, kedisiplinan, dan pemikiran akademik. Harapannya, seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu dan nilai yang diperoleh selama pelatihan untuk kepentingan masyarakat desa masing-masing serta berkontribusi aktif dalam penguatan organisasi Nahdlatul Ulama.
Dengan semangat kebersamaan dan pengabdian, DIKLATAMA VII diharapkan melahirkan kader-kader muda NU yang tangguh, komunikatif, dan siap menjadi penggerak perubahan. Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju kaderisasi yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi umat dan bangsa.


















