Oleh: (Redaksi Akademika FEB UNISLA)
Lamongan, KabarOne News.com-Di tengah derasnya arus perubahan global, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (FEB UNISLA) kembali menorehkan capaian membanggakan. Tiga generasi muda akademisi Moh. Heru Budi Santoso, S.E., M.M., Danu Kusbandono, S.E., M.M., dan Sabilar Rosad, S.E., M.M.—telah menuntaskan ujian tertutup program doktoral mereka dan kini menyandang status promovendus kandidat doktor. Kolaborasi intelektual tiga figur muda ini bukan hanya menandai kematangan keilmuan FEB UNISLA, tetapi juga membuka babak baru dalam diskursus manajemen sumber daya manusia dan pemasaran yang berakar pada nilai-nilai spiritual, humanistik, dan kontekstual.
Ketiganya datang dari bidang yang saling berkaitan dan saling memperkuat: Heru Budi Santoso menggali konsep kepemimpinan transformasional komunitas, Danu Kusbandono mengkaji kepemimpinan umum dan karakter sumber daya manusia, sedangkan Sabilar Rosad berfokus pada perilaku konsumen, religiusitas, dan nilai fungsional produk. Jika ditarik dalam satu benang merah, ketiganya sedang membangun ekosistem ilmiah yang memadukan manusia sebagai subjek perubahan, spiritualitas sebagai energi moral, dan pasar sebagai ruang pengabdian nilai.
Kolaborasi mereka menjadi cerminan “trilogi ilmiah FEB UNISLA”—suatu gagasan akademik yang menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari karakter manusia, perilaku sosial, serta orientasi nilai. Heru Budi Santoso, dengan fokus pada kepemimpinan transformasional komunitas, menempatkan manusia bukan sekadar pengikut dalam sistem, melainkan agen perubahan yang memiliki daya cipta. Dalam risetnya, Heru mengangkat pentingnya transformasi sosial melalui pemimpin yang mampu menginspirasi, memberdayakan, dan menumbuhkan semangat kolektif di tengah komunitas. Kepemimpinan transformasional, baginya, bukan tentang jabatan atau hierarki, melainkan tentang kemampuan untuk menggerakkan hati dan kesadaran bersama.
Sementara itu, Danu Kusbandono membawa perspektif yang lebih luas tentang kepemimpinan umum dalam ranah manajemen sumber daya manusia. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemampuan manajerial dan empati sosial. Menurut Danu, organisasi modern menghadapi tantangan kompleks dari digitalisasi, disrupsi pasar, hingga pergeseran budaya kerja. Karena itu, pemimpin masa depan harus memiliki sensitivitas ganda: rasional dalam pengambilan keputusan dan emosional dalam membangun kepercayaan. Dengan demikian, kepemimpinan bukan hanya sekadar kompetensi teknis, melainkan seni memanusiakan sistem.
Berbeda namun sejalan, Sabilar Rosad menempuh jalur pemikiran yang berakar pada pemasaran religius dan perilaku konsumen. Risetnya menggali dimensi religiuitas dan nilai fungsional produk dalam membentuk persepsi dan keputusan pembelian konsumen. Dalam pandangan Sabilar, pasar bukanlah ruang netral tanpa nilai, tetapi arena di mana moralitas dan spiritualitas menemukan bentuk aplikatifnya. Di tengah maraknya konsumerisme digital, ia menekankan bahwa perilaku konsumen tidak hanya digerakkan oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh nilai keimanan, identitas, dan kepercayaan terhadap keberkahan sebuah produk.
Tiga arah riset ini kepemimpinan transformasional, kepemimpinan umum, dan perilaku konsumen religius menciptakan sinergi keilmuan yang unik. Di bawah payung FEB UNISLA, mereka memperlihatkan bahwa ilmu manajemen tidak boleh berhenti pada teori rasional Barat semata, tetapi harus ditanamkan dalam konteks nilai-nilai lokal dan spiritual Islam yang menjadi jati diri kampus. Dalam hal ini, ketiganya adalah arsitek paradigma baru manajemen Islami yang berkarakter, adaptif, dan humanis.
Kolaborasi tiga promovendus ini memiliki makna strategis dalam lanskap akademik Lamongan dan Indonesia secara umum. Pertama, ia menunjukkan bagaimana generasi muda akademisi mampu berperan sebagai jembatan antara dunia teori dan praktik sosial. Heru, Danu, dan Sabilar bukan hanya menulis disertasi untuk rak perpustakaan, melainkan menyiapkan peta jalan konseptual bagi pengembangan sumber daya manusia dan strategi pemasaran berbasis nilai. Kedua, mereka membawa warna baru bagi FEB UNISLA sebagai laboratorium intelektual progresif, di mana ilmu ekonomi dan bisnis dikembangkan tidak hanya untuk kepentingan profit, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan mereka menempuh tahap ujian tertutup juga menjadi sinyal penting bagi regenerasi akademik di FEB UNISLA. Fakultas ini kini memiliki barisan calon doktor muda yang siap memperkuat fondasi tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam konteks keilmuan, kolaborasi tiga promovendus ini membuka peluang riset lintas bidang misalnya tentang pengaruh gaya kepemimpinan terhadap perilaku konsumsi berbasis religiusitas, atau tentang strategi transformasional dalam pemasaran komunitas mikro dan UMKM.
Dari sisi implementasi, gagasan mereka sangat relevan dengan konteks Indonesia saat ini. Dunia usaha dan organisasi publik sedang berhadapan dengan tantangan perubahan perilaku generasi milenial dan Gen Z yang cenderung otonom, digital savvy, dan berorientasi nilai. Dalam situasi ini, konsep kepemimpinan transformasional dan religiusitas konsumen menjadi kunci memahami pola pikir baru masyarakat ekonomi.
Heru dengan teorinya tentang kepemimpinan komunitas menawarkan pendekatan bottom-up: bagaimana komunitas diberdayakan melalui partisipasi dan rasa memiliki. Danu menambahkan dengan pendekatan middle up down di mana kepemimpinan harus berjalan secara dialogis antara struktur dan kultur organisasi. Sabilar kemudian melengkapi dengan pendekatan pasar berbasis nilai di mana produk dan jasa harus mampu berbicara kepada hati dan moral konsumen, bukan sekadar menarik dengan promosi.
Ketika ketiganya bersinergi, lahirlah gagasan “kepemimpinan bernilai dan pemasaran beretika” dua konsep yang menjadi fondasi masa depan manajemen Islam modern. Hal ini menjadi kontribusi nyata FEB UNISLA dalam menjawab krisis kepemimpinan dan krisis nilai yang melanda dunia bisnis dewasa ini. Di tengah orientasi materialistik yang semakin dominan, muncul suara dari Lamongan yang mengingatkan bahwa ekonomi seharusnya menjadi sarana ibadah, dan bisnis seharusnya menjadi ladang keberkahan.
Kedalaman akademik mereka juga tercermin dari cara berpikir yang sistematis namun tetap kontekstual. Heru tidak hanya berhenti pada teori Burns atau Bass tentang kepemimpinan transformasional, tetapi menafsirkannya kembali dalam konteks sosial masyarakat Lamongan yang berbasis gotong royong. Danu pun tidak sekadar mengutip teori trait atau behavioral leadership, tetapi menempatkan kepemimpinan sebagai proses dialog antara visi dan empati. Sabilar juga tidak berhenti pada model-model perilaku konsumen klasik seperti Engel-Kollat-Blackwell, tetapi memadukannya dengan dimensi religiusitas yang khas masyarakat muslim Indonesia.
Dalam ranah kampus, kolaborasi tiga promovendus ini menjadi contoh konkret bagaimana FEB UNISLA melahirkan kader ilmuwan yang berpikir integratif. Mereka membuktikan bahwa ilmu ekonomi dan bisnis bisa dikembangkan dengan sentuhan spiritualitas dan moralitas tanpa kehilangan relevansinya di pasar global. Inilah wajah baru FEB UNISLA: akademik, dinamis, dan bernilai.
Ke depan, kontribusi mereka diharapkan tidak hanya berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, tetapi juga hadir dalam bentuk pengabdian nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha. Heru dengan program pemberdayaan komunitas, Danu dengan pengembangan model kepemimpinan berkarakter di organisasi, dan Sabilar dengan edukasi konsumen Islami di sektor UMKM semuanya adalah bagian dari misi besar FEB UNISLA dalam mencetak pemimpin dan entrepreneur berakhlak.
Kolaborasi tiga promovendus ini menjadi simbol kebangkitan generasi muda akademik di daerah. Mereka membuktikan bahwa dari Lamongan bisa lahir gagasan besar tentang manajemen transformasional, kepemimpinan nilai, dan perilaku pasar beretika yang relevan bagi dunia. FEB UNISLA melalui para kandidat doktor ini sedang mengirim pesan kuat ke dunia akademik nasional: bahwa ilmu ekonomi dan bisnis tidak boleh kering dari nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Pada akhirnya, perjalanan Moh. Heru Budi Santoso, Danu Kusbandono, dan Sabilar Rosad bukan hanya kisah sukses pribadi, tetapi momentum kolektif bagi FEB UNISLA untuk terus menyalakan obor keilmuan. Mereka adalah wajah baru akademisi muda yang berpikir besar, bertindak ilmiah, dan berjiwa sosial. Dari ruang ujian tertutup menuju ruang terbuka perubahan, mereka sedang menulis babak baru sejarah intelektual UNISLA sebuah trilogi inspiratif tentang manusia, nilai, dan perubahan.



















