Oleh: Imron Hamzah, S.M., M.M. (Dosen FEB UNISLA)
Lamongan, KabarOne News.com-Ada semangat baru yang mengalir di kampus Universitas Islam Lamongan (UNISLA). Di tengah geliat perubahan dan dinamika mahasiswa yang semakin progresif, muncul satu gerakan yang tak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang peradaban, kompetensi, dan eksistensi mahasiswa di tingkat global. Gerakan itu bernama Jejak Mahasiswa Pencinta Alam atau Jemapala UNISLA sebuah wadah yang selama ini dikenal sebagai rumah bagi para petualang kampus, kini mulai menata arah baru di bawah pembinaan saya sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISLA.
Mungkin sebagian orang masih memandang kegiatan pencinta alam hanya sebatas naik gunung, susur sungai, atau menaklukkan tebing. Padahal, di balik itu semua tersimpan nilai-nilai penting tentang kepemimpinan, tanggung jawab sosial, keberanian mengambil keputusan, serta ketangguhan mental kualitas yang justru menjadi fondasi bagi mahasiswa unggul dan berdaya saing. Inilah yang saya lihat sebagai peluang besar untuk memperkuat kapasitas mahasiswa melalui Jemapala, bukan sekadar lewat petualangan alam, tetapi juga lewat pembentukan karakter dan pengembangan jejaring global.
Sejak dipercaya menjadi pembina, saya membawa satu visi besar: “Jemapala Go Internasional.” Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar ambisius. Namun bagi saya, mimpi besar harus dipupuk sejak dini. Dunia saat ini tak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Mahasiswa UNISLA harus memiliki keberanian dan kesiapan untuk menunjukkan jati dirinya di tingkat dunia baik dalam forum internasional, program pertukaran, maupun kompetisi lintas negara.
Langkah pertama tentu dimulai dari pembenahan internal. Saya dan rekan-rekan di Jemapala tengah merancang sistem pembinaan yang lebih terstruktur, mulai dari pelatihan kepemimpinan, manajemen kegiatan, hingga komunikasi lintas budaya. Tujuannya sederhana: membentuk anggota yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga unggul secara intelektual dan emosional. Alam adalah laboratorium kehidupan, dan Jemapala adalah ruang praktik nyata di mana mahasiswa belajar menghadapi tantangan dengan solusi, bukan keluhan.
Jemapala UNISLA sendiri bukan pemain baru dalam dunia pencinta alam. Prestasinya dalam bidang panjat tebing sudah diakui di berbagai ajang provinsi dan nasional. Beberapa anggota bahkan kerap menjadi wakil kampus dalam lomba dan pelatihan di luar daerah. Namun saya yakin, potensi ini bisa melesat lebih jauh jika dibarengi dengan visi global dan dukungan kelembagaan yang kuat. Karena itu, kami sedang mengupayakan kolaborasi dengan organisasi pencinta alam di luar negeri, seperti ASEAN Mountaineering Federation dan komunitas konservasi lingkungan di Malaysia serta Jepang. Kolaborasi semacam ini penting untuk membuka wawasan dan pengalaman baru bagi mahasiswa, sekaligus memperkenalkan UNISLA di kancah internasional.
Namun, membawa Jemapala ke tingkat internasional tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Ada tantangan yang harus dihadapi: keterbatasan dana, sumber daya manusia, serta adaptasi terhadap standar global kegiatan pencinta alam. Tapi saya percaya, semangat mahasiswa UNISLA adalah energi yang luar biasa. Mereka terbiasa bekerja keras, beradaptasi, dan mencari solusi di tengah keterbatasan. Sikap inilah yang akan menjadi modal utama menuju level yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pembinaan UKM seperti Jemapala juga sejalan dengan visi besar UNISLA yang mendorong mahasiswa agar tak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga memiliki pengalaman dan rekognisi di luar negeri. Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan UKM, mahasiswa belajar untuk menjadi bagian dari masyarakat global, bukan sekadar penonton dalam arus perubahan dunia.
Bagi saya, mahasiswa adalah agen perubahan yang tidak boleh puas hanya menjadi peserta kegiatan kampus. Mereka harus berani tampil, berani berjejaring, dan berani berkompetisi. Itulah sebabnya saya mendorong agar Jemapala tidak hanya fokus pada ekspedisi atau kegiatan lingkungan, tetapi juga mulai aktif menulis jurnal ilmiah, membuat film dokumenter tentang alam, atau menggelar seminar internasional bertema ekowisata dan konservasi. Mahasiswa yang mampu menulis dan berbicara di forum internasional adalah mahasiswa yang benar-benar siap menjadi pemimpin masa depan.
Selain itu, saya ingin menguatkan sinergi antara Jemapala dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Alam dan ekonomi, dua hal yang tampak berbeda, sebenarnya punya keterkaitan yang erat. Misalnya, konsep green economy dan ecotourism bisa menjadi jembatan antara kegiatan pencinta alam dan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Anggota Jemapala dapat berperan sebagai pelopor wisata berbasis konservasi di Lamongan, yang bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Saya percaya, penguatan kapasitas mahasiswa bukan hanya tentang menambah keterampilan teknis, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Saat seorang mahasiswa mendaki gunung, ia belajar tentang kesabaran dan kebersamaan. Saat ia menuruni lembah, ia belajar tentang kerendahan hati. Semua proses itu adalah pendidikan karakter yang tak tertulis di silabus kuliah, tetapi sangat berharga dalam kehidupan nyata.
Kehadiran Jemapala dengan semangat barunya juga menjadi simbol kebangkitan UKM di UNISLA. Ketika mahasiswa bergerak, kampus pun hidup. Ketika mahasiswa berani bermimpi besar, institusi pun ikut naik kelas. Maka, pembinaan UKM bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari strategi besar mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan memiliki orientasi global.
Visi “Jemapala Go Internasional” mungkin tampak besar, tetapi semua perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dari satu ekspedisi menjadi sepuluh, dari satu kolaborasi menjadi jaringan lintas negara. Saya ingin Jemapala menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa UNISLA mampu berbicara di panggung dunia, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai insan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Sebagai dosen, saya percaya bahwa mendidik bukan hanya di ruang kelas. Membimbing mahasiswa di lapangan, mendengarkan gagasan mereka, dan memberi ruang untuk berkembang adalah bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai pendidik. Melalui Jemapala, saya ingin menunjukkan bahwa pembinaan mahasiswa bisa menjadi jembatan antara teori dan realita, antara kampus dan dunia, antara cita-cita dan kenyataan.
Kini, perjalanan baru Jemapala UNISLA telah dimulai. Di pundak para anggotanya tersimpan harapan besar harapan agar UNISLA dikenal bukan hanya sebagai universitas yang religius dan unggul, tetapi juga sebagai kampus yang melahirkan generasi tangguh yang mencintai alam dan siap bersaing di level internasional. Dan selama semangat itu terus menyala, saya yakin, langit dunia pun tak akan terlalu tinggi untuk dijangkau oleh mahasiswa UNISLA.(*).



















