Oleh: Tim Investigasi_
LAMONGAN,KabarOneNews.com — Setiap pagi, atap rumah Roni Sumitro di Perumahan Graha Indah, Dsn. Sukowati, RT.04/RW.02, Ds. Drajat, Ds. Banjarwati, Kec. Paciran, Kab. Lamongan 62264 berubah warna. Dari genteng merah menjadi putih pucat. Bukan karena dicat. Itu lapisan debu dolomit setebal 2-3 milimeter yang turun dari langit sejak pabrik di Desa Banjarwati, 800 meter dari rumahnya, menyala.
“Cuci mobil hari ini, besok sudah putih lagi. Tanaman mangga mati. Anak salah satu warga perumahan batuk 3 bulan tidak sembuh,” kata Roni, Ketua RT Perum Graha Indah, sambil mengusap meja teras yang kembali berdebu 10 menit setelah dilap.
September 2026. Kemarau ekstrem. Angin utara bertiup kencang. Dan bersama angin itu, debu dari *PT. Sunan Drajat Lamongan / SDL ikut merangsek ke 400-an rumah warga Graha Indah dan 3 dusun sekitar.
Inilah cerita tentang sebuah perusahaan yang di atas kertas berikrar “Menjaga Kelestarian Alam”tapi di lapangan meninggalkan “salju putih” beracun di pemukiman warga.
1. RAJA DOLOMIT DI UJUNG UTARA
Berdiri sejak 2004, PT. Sunan Drajat Lamongan / SDL dengan merk dagang KAWASAN INDUSTRI SUNAN DRAJAT / KISDA adalah salah satu pemain besar pupuk fosfat di Jawa Timur.
Direktur Utamanya, *Anwar Mubarok SH*, memimpin 120 karyawan di atas lahan seluas 50 hektare tambang dan 3 hektare workshop di Desa Banjarwati, Kec. Paciran.
Klaim perusahaan besar: memiliki cadangan fosfat lebih dari 5 juta ton. Tak hanya menambang di lahan sendiri, SDL juga “mengambil” dari supplier di Lamongan, Tuban, Bojonegoro.
Prosesnya masif. 5 Excavator mengeruk. 5 Armada angkut hilir mudik. 3 mesin penggilingan dan 4 Pan Granulator bekerja 24 jam. Hasilnya: *60 ton powder/hari dan 50 ton granul/hari*. Produknya diekspor ke Jepang dan Malaysia, juga dikirim ke Sumatera dan NTB.
Visi mereka mulia: “Menjadi Pelopor Dalam Industri Pupuk Organik… Ramah Lingkungan dan Menjaga Kelestarian Alam”
Tapi visi itu kandas di pagar pabrik.
2. “KAMI HIDUP BERSAMA RACUN DEBU”
Jarak Banjarwati ke Graha Indah hanya sepelemparan batu. Saat kemarau, tak ada penyekat. Tak ada kabut air. Yang ada hanya cerobong dan tumpukan material terbuka.
Hasil investigasi Tim media online KabarOneNews.com* di lapangan 10-12 September 2026 menemukan:
1. Debu Putih Total: Seluruh permukaan rumah, kendaraan, jemuran warga tertutup debu putih. Uji visual menunjukkan partikel sangat halus, diduga PM10 dan PM2.5.
2. Tanaman Mati: Daun mangga, jambu, dan sayur warga menguning lalu rontok. “Fotosintesis tertutup. Pohon sesak napas,” ujar seorang warga.
3. Gangguan Kesehatan: 6 dari 10 warga yang diwawancarai mengeluh ISPA, iritasi mata, dan batuk kronis sejak 3 bulan terakhir.
“Kami hidup bersama racun debu! Rumah kami bukan gudang debu!” seru Roni Sumitro dalam aksi “Stop Polusi Dolomit” 11 September lalu.
Warga menuntut 2 hal: Pasang Dust Collector dan Uji Baku Mutu Udara.
L3. DIBALIK PROSES YANG “RAMAH LINGKUNGAN”
Dokumen perusahaan yang kami peroleh menyebut SDL punya Laboratorium untuk “menjaga kualitas”. Ada prosedur K3 dan pengelolaan lingkungan.
Prosesnya: fosfat digali -digiling jadi powder – digranulasi – dikeringkan pakai 2 unit Rotary Dryer -dikemas.
Masalahnya ada di 3 titik rawan: penambangan terbuka, proses penggilingan, dan pengangkutan. Ketiganya adalah sumber debu paling besar.
Aturan mainnya jelas. Sekretaris DLH Lamongan, Inganatul Muhimmah, S.T., M.T menegaskan kepada _Tim investigasi media KabarOneNews.com_, Sabtu 12/09/2026:
“Secara umum, kegiatan pengolahan kapur harus memasang alat pengendali emisi berupa dust collector atau cyclone. Kami akan pastikan kepemilikan persetujuan lingkungan dan komitmen pengelolaan emisi.”
“Kalau melihat aduannya, ini cukup parah debunya lepas ke pemukiman,” pungkasnya.
Senin 15 September 2026, DLH dijadwalkan turun cek lapangan.
4. ANTARA EKSPOR JEPANG DAN BATUK ANAK PACIRAN
Ironis. Pupuk KISDA dijual mahal ke Jepang dan Malaysia karena “kualitas dan akurasi”. Tapi untuk warga di sekitar pabrik, yang “dikirim gratis” adalah debu.
Kapasitas produksi 110 ton/hari itu ibarat pisau bermata dua. Menghidupi 120 karyawan, tapi juga berpotensi mematikan napas ratusan warga.
Hingga berita ini ditulis, manajemen PT SDL belum memberikan jawaban tertulis atas konfirmasi _KabarOneNews.com_. Upaya mendatangi kantor di Banjarwati hanya bertemu satpam yang berjanji “akan diteruskan ke Pak Direktur”.
5. SIAPA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB?
Kasus Graha Indah bukan sekadar polusi. Ini soal keadilan lingkungan.
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mewajibkan setiap usaha memiliki UKL-UPL dan alat pengendali pencemaran. Jika melanggar, sanksinya bisa administratif hingga pidana.
DPRD Lamongan didesak warga untuk menggelar RDP. Warga hanya punya satu tuntutan: hentikan debu, atau hentikan produksi.
“Negara tidak boleh kalah dengan asap pabrik,” kata salah seorang warga.
Sementara kemarau belum usai. Dan setiap pagi, debu putih itu kembali turun di Graha Indah. Menutup atap, menutup daun, dan mungkin… menutup masa depan anak-anak Paciran.
—
DATA PERUSAHAAN
Nama : PT. SUNAN DRAJAT LAMONGAN / SDL
Alamat : Ds. Banjarwati, Kec. Paciran, Kab. Lamongan
Produk : Pupuk Fosfat Powder & Granul Merk KISDA
Direktur Utama : Anwar Mubarok SH
Karyawan : 120 orang
Luas Tambang : 50 Ha | Kapasitas : 110 Ton/Hari
Pasar Ekspor : Jepang, Malaysia
SIDEBAR: APA ITU DEBU DOLOMIT?
Debu dolomit mengandung kalsium dan magnesium karbonat. Saat terhirup terus-menerus dapat menyebabkan iritasi saluran napas, gangguan paru, dan dalam jangka panjang berpotensi silikosis. Bagi tanaman, debu menutup stomata sehingga proses fotosintesis terganggu.


















