Oleh: Dr. Agung Hirmantono
(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan / Tim Pengembangan Promosi FEB/ Anggota FAME Jawa Timur)
Bojonegoro, KabarOneNews.com- Memasuki 2026, Indonesia berada pada posisi yang relatif kuat dari sisi perdagangan dan permintaan domestik. Sepanjang 2025, perekonomian tumbuh sekitar 5,04 persen secara tahunan pada triwulan ketiga, dengan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi motor utama melalui peningkatan mobilitas dan belanja masyarakat. Di sisi eksternal, neraca perdagangan Januari–Oktober 2025 mencatat surplus sekitar 35,88 miliar dolar AS, didorong oleh kenaikan ekspor yang mendekati 7 persen dan impor yang juga tumbuh seiring aktivitas produksi dan investasi. Ini menandakan bahwa permintaan domestik dan kinerja ekspor berjalan beriringan, memberi ruang yang cukup lebar untuk pelaku usaha terutama di sektor ritel, distribusi, dan manufaktur untuk melakukan lompatan berikutnya. Namun, data makro yang indah tidak otomatis berubah menjadi peluang nyata bila tidak diterjemahkan menjadi strategi marketing yang tajam dan pembangunan jaringan yang serius di tingkat perusahaan, komunitas bisnis, maupun daerah.
Pertumbuhan perdagangan domestik bukan hanya soal bertambahnya angka transaksi, tetapi juga berubahnya pola interaksi antara produsen, distributor, ritel, dan konsumen. Ribuan pasar tradisional yang tercatat dalam direktori resmi pemerintah dan BPS menjadi tulang punggung sirkulasi barang kebutuhan sehari-hari di seluruh provinsi, sekaligus berhadapan dengan ekosistem ritel modern dan platform digital yang terus berkembang. Di titik inilah kekuatan marketing dan jaringan menentukan siapa yang akan memimpin pasar 2026. Pelaku usaha yang mampu memadukan kedekatan sosial khas pasar tradisional dengan strategi pemasaran modern mulai dari pemanfaatan data pelanggan, promosi terpadu offline online, hingga kolaborasi lintas pelaku akan berada beberapa langkah di depan. Keberadaan surplus perdagangan dan pertumbuhan PDB hanyalah “angin belakang”; kapal tetap harus dikemudikan dengan strategi pemasaran yang cerdas agar tidak terjebak menjadi penonton di tengah arus pergerakan barang yang semakin dinamis.
Marketing 2026 tidak lagi cukup berhenti pada promosi produk dan harga. Kekuatan sebenarnya justru terletak pada kemampuan membangun brand dan kepercayaan di dalam jaringan yang berlapis: jaringan pemasok, jaringan distributor, jaringan komunitas, hingga jaringan pelanggan loyal. Pertama, di tingkat pemasok, pelaku usaha perlu memastikan kontinuitas pasokan dengan kualitas yang konsisten, harga yang relatif stabil, dan mekanisme komunikasi yang cepat ketika terjadi gangguan logistik. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok ketika terjadi gangguan bahan baku atau kenaikan biaya distribusi; di sini, kemitraan jangka panjang jauh lebih berharga dibanding sekadar mengejar pemasok termurah sesaat. Kedua, di level distribusi, penguatan hubungan dengan agen, pengecer, dan pengelola pasar baik tradisional maupun modern menjadi kunci agar produk mendapat ruang pajang, promosi bersama, dan prioritas penyaluran saat kapasitas terbatas. Banyak produsen lokal yang kalah bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak punya jejaring kuat dengan para penggerak distribusi di lapangan.
Ketiga, jejaring komunitas dan pelanggan menjadi aspek yang sering diremehkan, padahal justru di sinilah marketing paling efektif terjadi. Di era media sosial, komunitas tidak lagi sekadar kumpulan orang di satu lokasi, tetapi juga kumpulan minat yang tersebar di berbagai kota. Bagi pelaku usaha ritel dan produsen barang konsumsi, membangun komunitas pengguna misalnya melalui program anggota, forum diskusi, acara daring dan luring, maupun konten edukatif akan menciptakan efek word of mouth yang jauh lebih kuat dibanding iklan satu arah. Dalam konteks perdagangan domestik yang tumbuh didorong konsumsi rumah tangga, kemampuan menciptakan narasi dan kedekatan emosional dengan konsumen akan menjadi pembeda utama di 2026. Bagi kampus seperti FEB, hal ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa: tidak hanya mempelajari teori pemasaran, tetapi juga ikut terlibat dalam perancangan kampanye, pengelolaan media sosial, dan riset pasar untuk UMKM mitra kampus. Sinergi ini bukan hanya menguntungkan dunia usaha, tetapi juga memperkuat relevansi pendidikan tinggi di mata masyarakat.
Kekuatan jaringan juga akan menentukan bagaimana pelaku usaha di daerah memanfaatkan peluang dari surplus perdagangan nasional. Surplus yang berkelanjutan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa produk Indonesia masih kompetitif di pasar global, terutama di sektor manufaktur pengolahan dan komoditas unggulan. Namun, sebagian besar pelaku di tingkat lokal masih berfokus pada pasar sekitar kota atau kabupaten, bahkan banyak yang belum menembus pasar antardaerah secara serius. Tahun 2026 harus menjadi momen di mana jaringan distribusi antardaerah diperkuat melalui kolaborasi B2B, pameran dagang, serta pemanfaatan platform logistik dan marketplace yang menghubungkan produsen kecil dengan pembeli grosir di kota lain. Di sinilah peran pemerintah daerah, asosiasi bisnis, dan perguruan tinggi menjadi penting sebagai “broker pengetahuan” dan fasilitator jejaring. Kegiatan business matching, klinik ekspor, dan pelatihan negosiasi dagang dapat membantu pelaku usaha melompat dari pasar lokal ke pasar nasional, dan pada gilirannya siap memanfaatkan peluang ekspor ketika kapasitas sudah mencukupi.
Menjelang 2026, strategi marketing yang hanya mengandalkan diskon besar dan promosi sesaat berisiko menggerus margin tanpa membangun kekuatan jangka panjang. Pendekatan yang lebih berkelanjutan perlu menekankan tiga hal: pemahaman data, diferensiasi nilai, dan integrasi kanal. Pertama, pemahaman data berarti pelaku usaha mulai membaca pola penjualan, waktu puncak permintaan, jenis produk yang paling laris di wilayah tertentu, hingga respon pelanggan terhadap kampanye yang diluncurkan. Data tersebut sebenarnya sudah tersedia melalui catatan penjualan, aplikasi kasir, dan dashboard marketplace; yang kurang sering kali adalah kebiasaan membaca dan mengolahnya. Kedua, diferensiasi nilai tidak hanya berarti produk unik, tetapi juga layanan purna jual, kecepatan respon, kemasan, dan cerita di balik produk. Dalam pasar yang semakin jenuh, konsumen memilih bukan hanya dengan kalkulator harga, tetapi juga dengan rasa percaya dan kesesuaian nilai. Ketiga, integrasi kanal menuntut pelaku usaha untuk tidak lagi memisahkan toko fisik, marketplace, dan media sosial sebagai unit terpisah, melainkan melihatnya sebagai satu ekosistem. Dengan demikian, pengalaman pelanggan menjadi lebih mulus: mereka bisa mengenal produk di media sosial, membelinya via aplikasi, dan mengambil atau mengembalikannya di gerai fisik terdekat.
Sebagai bagian dari tim pengembangan promosi di lingkungan fakultas, pandangan yang mengemuka dari dialog dengan mahasiswa dan pelaku usaha mitra cukup jelas: 2026 akan menguntungkan mereka yang mampu “bermain dalam tim” melalui jaringan yang saling menguatkan. Kampus dapat menjadi simpul yang menghubungkan pelaku UMKM dan ritel dengan mahasiswa yang memiliki kemampuan digital marketing, desain konten, dan analisis data. Pemerintah daerah membawa kebijakan, data lokal, dan akses pada program dukungan; sementara perbankan dan lembaga keuangan menyediakan dukungan pembiayaan bagi usaha yang menunjukkan prospek baik. Dengan kinerja perdagangan dan permintaan domestik yang relatif solid, tugas utama 2026 bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan penjualan, tetapi membangun kekuatan marketing dan jaringan yang membuat pelaku usaha Indonesia tahan guncangan, adaptif, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global. Jika kekuatan ini disadari dan diorganisasi dengan serius, maka angka-angka surplus dan pertumbuhan yang saat ini hanya tertulis di laporan resmi akan benar-benar menjelma menjadi peningkatan kesejahteraan yang dirasakan luas hingga ke tingkat rumah tangga dan pasar-pasar rakyat di seluruh Indonesia.



















