kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
3 bulan yang lalu
Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan
25
VIEWS

Lamongan, KabarOne News.com-Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan hanya seremoni belaka, melainkan bentuk penghargaan atas peran penting santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Di balik penampilan mereka yang bersahaja—dengan peci, sarung, dan kehidupan pesantren—terkandung kekuatan karakter, kedalaman intelektual, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Santri bukan sekadar kaum bersarung; mereka adalah penjaga nilai moral, penggerak perubahan, dan pondasi kebangsaan.

*Sarung: Lambang Kehidupan Sederhana yang Penuh Makna*

Berita‎ Terkait

UMKM di Persimpangan Zaman: Dari Bertahan Hidup Menuju Naik Kelas Berkelanjutan

UMKM Tidak Harus Viral: Kunci Bertahan Ada pada Repeat Order

Rupiah Tertekan, UMKM Tertatih, dan Tantangan Fiskal Nasional di Tengah Overload AI dan Crypto

Sarung identik dengan santri—digunakan saat salat, mengaji, maupun dalam kegiatan sehari-hari di pesantren. Namun, kesederhanaan sarung bukan berarti simbol ketertinggalan. Justru di balik kain yang sederhana ini, tersimpan nilai-nilai kedisiplinan, etika, dan kemandirian.

Tak hanya itu, sarung juga menjadi saksi perjuangan para ulama dan santri dalam melawan penjajahan. Pidato Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti nyata keberanian para santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Meski berpenampilan sederhana, semangat mereka begitu luar biasa.

*Santri: Identitas yang Terbentuk dari Ilmu dan Akhlak*

Jati diri santri dibentuk tidak hanya melalui penguasaan ilmu agama dan hafalan kitab, tetapi juga melalui proses panjang pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Santri diajarkan bukan hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga santun dalam perilaku. Inilah keistimewaan mereka—tumbuh dalam lingkungan yang mendidik secara spiritual dan sosial.

Di pesantren, mereka dididik untuk menjunjung tinggi kejujuran, kesabaran, gotong royong, dan saling membantu. Santri menjalani hidup yang sederhana namun penuh arti. Meski tidur beralas tikar atau makan seadanya, hati mereka dipenuhi dengan semangat kasih sayang dan cita-cita besar.

*Santri Zaman Now: Melek Teknologi, Siap Berkarya*

Santri masa kini bukan lagi sosok yang terbatas pada lingkungan pesantren semata. Mereka kini aktif di dunia digital, memanfaatkan teknologi untuk belajar, berdakwah, dan bahkan berkarya. Banyak santri yang menjadi pemimpin, akademisi, wirausahawan, atau konten kreator—semuanya tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.

Meskipun bersarung, wawasan mereka mendunia. Walau tinggal di pelosok, pemikiran mereka menembus batas. Ini membuktikan bahwa identitas santri bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi kuat untuk melangkah ke depan.

*Melawan Label Kampungan*

Salah satu tantangan yang masih sering dihadapi adalah cap negatif terhadap santri. Masih ada yang menganggap santri itu kampungan, ketinggalan zaman, atau kolot. Padahal, para santri justru merupakan pribadi tangguh yang dibentuk oleh latihan hidup dan nilai-nilai luhur.

Kampungan bukan ditentukan oleh cara berpakaian atau tempat tinggal, melainkan oleh sikap dan pola pikir. Tidak sedikit orang kota yang secara penampilan modern, namun masih berpikiran sempit dan bersikap intoleran. Sebaliknya, santri yang hidup sederhana justru menunjukkan toleransi, ketenangan, dan kedalaman spiritual yang tinggi.

*Penutup: Santri untuk Negeri, Dunia, dan Akhirat*

Menjadi santri bukan hanya soal status, tapi merupakan bagian dari jati diri. Kaum sarungan bukan berarti kampungan—mereka adalah representasi keaslian Indonesia, penjaga nilai luhur bangsa, dan benteng terakhir akhlak masyarakat. Di tengah derasnya arus zaman, eksistensi santri tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan.

Hari ini, santri patut berbangga dengan identitasnya. Mereka bukan warga kelas dua, melainkan anak-anak bangsa yang lahir dari semangat perjuangan dan dibesarkan oleh nilai-nilai kebaikan. Santri adalah harapan masa kini, dan cahaya bagi masa depan.

Oleh :
*Ali Fuad Hasyim, S.H.,M.H.*
Wakil Ketua I
PC. ISNU Kabupaten Lamongan

SendShareTweet

Related‎ Posts

UMKM di Persimpangan Zaman: Dari Bertahan Hidup Menuju Naik Kelas Berkelanjutan
Opini

UMKM di Persimpangan Zaman: Dari Bertahan Hidup Menuju Naik Kelas Berkelanjutan

Januari 17, 2026
8
UMKM Tidak Harus Viral: Kunci Bertahan Ada pada Repeat Order
Opini

UMKM Tidak Harus Viral: Kunci Bertahan Ada pada Repeat Order

Januari 16, 2026
25
Rupiah Tertekan, UMKM Tertatih, dan Tantangan Fiskal Nasional di Tengah Overload AI dan Crypto
Opini

Rupiah Tertekan, UMKM Tertatih, dan Tantangan Fiskal Nasional di Tengah Overload AI dan Crypto

Januari 13, 2026
12
Gaya Kepemimpinan Jadi Penentu Hidup-Matinya UMKM: Ketika Benevolent Leadership Menguatkan Kinerja dan Otoritarianisme Justru Melemahkan
Opini

Gaya Kepemimpinan Jadi Penentu Hidup-Matinya UMKM: Ketika Benevolent Leadership Menguatkan Kinerja dan Otoritarianisme Justru Melemahkan

Januari 12, 2026
6
Marketing Gaya Nyamuk: Strategi Mengganggu yang Relevan bagi UMKM di Era Digital
Opini

Marketing Gaya Nyamuk: Strategi Mengganggu yang Relevan bagi UMKM di Era Digital

Januari 8, 2026
9
Dari Tridarma ke Pancadarma: Saatnya Dosen Menjadi Wajah, Merek, dan Daya Tarik Kampus
Opini

Dari Tridarma ke Pancadarma: Saatnya Dosen Menjadi Wajah, Merek, dan Daya Tarik Kampus

Januari 4, 2026
19
Paradoks Pariwisata Indonesia: Saat Liburan ke Luar Negeri Terasa Lebih Masuk Akal daripada Menjelajah Negeri Sendiri
Opini

Paradoks Pariwisata Indonesia: Saat Liburan ke Luar Negeri Terasa Lebih Masuk Akal daripada Menjelajah Negeri Sendiri

Desember 30, 2025
26
Menjahit Rantai Pasok MBG Lamongan dari Hulu ke Hilir: Jalan Strategis Hortikultura Murah dan Berkelanjutan
Opini

Menjahit Rantai Pasok MBG Lamongan dari Hulu ke Hilir: Jalan Strategis Hortikultura Murah dan Berkelanjutan

Desember 26, 2025
30
Menjemput 2026 dari Kebijakan 2025: Warisan Fiskal, Daya Tahan UMKM, dan Masa Depan Lapangan Kerja
Opini

Menjemput 2026 dari Kebijakan 2025: Warisan Fiskal, Daya Tahan UMKM, dan Masa Depan Lapangan Kerja

Desember 23, 2025
24
Bonorowo Lamongan: Dari Wilayah Rentan Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Adaptif
Opini

Bonorowo Lamongan: Dari Wilayah Rentan Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Adaptif

Desember 16, 2025
12

Hari Besar Nasional:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Sidang Rasman Nasution Gaduh Gegara Majelis Tetapkan Sidang Tertutup

Sidang Rasman Nasution Gaduh Gegara Majelis Tetapkan Sidang Tertutup

12 bulan yang lalu
56
Trabas Hebat 2 Guncang Kotabaru, Ketua DPRD Suwanti Dukung Penuh Olahraga Otomotif Daerah

Trabas Hebat 2 Guncang Kotabaru, Ketua DPRD Suwanti Dukung Penuh Olahraga Otomotif Daerah

9 bulan yang lalu
6
Pemprov Kalsel Waspadai Lonjakan Inflasi Jelang Akhir Tahun, Siapkan Stok Pangan dan Antisipasi Program MBG

Pemprov Kalsel Waspadai Lonjakan Inflasi Jelang Akhir Tahun, Siapkan Stok Pangan dan Antisipasi Program MBG

2 bulan yang lalu
9

Advertorial : Gempur Rokok Ilegal

Dirgahayu TNI ke 80:

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Praperadilan Dikabulkan, Hakim Nyatakan Supaya Polisi Melanjutkan Penyidikan

    Praperadilan Dikabulkan, Hakim Nyatakan Supaya Polisi Melanjutkan Penyidikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kades Taman Prijek Kecamatan Laren di laporkan ke Kejaksaan Negeri Lamongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aliansi Masyarakat dusun Prijeklor Desa Taman Prijek Benahi jalan Rusak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ansor–Banser Sekaran Tanam 5.000 Bibit Cabai, Awali Program Menuju Desa Cabai Mandiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menanam Khidmah untuk Masa Depan: Inaugurasi PAC GP Ansor Sekaran dengan sabahat dirham wakil bupati Lamongan Teguhkan Komitmen Ketahanan Pangan dan Kemandirian Organisasi Berkelanjutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA