kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
11 bulan yang lalu
Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan
56
VIEWS

Lamongan, KabarOne News.com-Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan hanya seremoni belaka, melainkan bentuk penghargaan atas peran penting santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Di balik penampilan mereka yang bersahaja—dengan peci, sarung, dan kehidupan pesantren—terkandung kekuatan karakter, kedalaman intelektual, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Santri bukan sekadar kaum bersarung; mereka adalah penjaga nilai moral, penggerak perubahan, dan pondasi kebangsaan.

*Sarung: Lambang Kehidupan Sederhana yang Penuh Makna*

Berita‎ Terkait

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Sarung identik dengan santri—digunakan saat salat, mengaji, maupun dalam kegiatan sehari-hari di pesantren. Namun, kesederhanaan sarung bukan berarti simbol ketertinggalan. Justru di balik kain yang sederhana ini, tersimpan nilai-nilai kedisiplinan, etika, dan kemandirian.

Tak hanya itu, sarung juga menjadi saksi perjuangan para ulama dan santri dalam melawan penjajahan. Pidato Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti nyata keberanian para santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Meski berpenampilan sederhana, semangat mereka begitu luar biasa.

*Santri: Identitas yang Terbentuk dari Ilmu dan Akhlak*

Jati diri santri dibentuk tidak hanya melalui penguasaan ilmu agama dan hafalan kitab, tetapi juga melalui proses panjang pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Santri diajarkan bukan hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga santun dalam perilaku. Inilah keistimewaan mereka—tumbuh dalam lingkungan yang mendidik secara spiritual dan sosial.

Di pesantren, mereka dididik untuk menjunjung tinggi kejujuran, kesabaran, gotong royong, dan saling membantu. Santri menjalani hidup yang sederhana namun penuh arti. Meski tidur beralas tikar atau makan seadanya, hati mereka dipenuhi dengan semangat kasih sayang dan cita-cita besar.

*Santri Zaman Now: Melek Teknologi, Siap Berkarya*

Santri masa kini bukan lagi sosok yang terbatas pada lingkungan pesantren semata. Mereka kini aktif di dunia digital, memanfaatkan teknologi untuk belajar, berdakwah, dan bahkan berkarya. Banyak santri yang menjadi pemimpin, akademisi, wirausahawan, atau konten kreator—semuanya tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.

Meskipun bersarung, wawasan mereka mendunia. Walau tinggal di pelosok, pemikiran mereka menembus batas. Ini membuktikan bahwa identitas santri bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi kuat untuk melangkah ke depan.

*Melawan Label Kampungan*

Salah satu tantangan yang masih sering dihadapi adalah cap negatif terhadap santri. Masih ada yang menganggap santri itu kampungan, ketinggalan zaman, atau kolot. Padahal, para santri justru merupakan pribadi tangguh yang dibentuk oleh latihan hidup dan nilai-nilai luhur.

Kampungan bukan ditentukan oleh cara berpakaian atau tempat tinggal, melainkan oleh sikap dan pola pikir. Tidak sedikit orang kota yang secara penampilan modern, namun masih berpikiran sempit dan bersikap intoleran. Sebaliknya, santri yang hidup sederhana justru menunjukkan toleransi, ketenangan, dan kedalaman spiritual yang tinggi.

*Penutup: Santri untuk Negeri, Dunia, dan Akhirat*

Menjadi santri bukan hanya soal status, tapi merupakan bagian dari jati diri. Kaum sarungan bukan berarti kampungan—mereka adalah representasi keaslian Indonesia, penjaga nilai luhur bangsa, dan benteng terakhir akhlak masyarakat. Di tengah derasnya arus zaman, eksistensi santri tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan.

Hari ini, santri patut berbangga dengan identitasnya. Mereka bukan warga kelas dua, melainkan anak-anak bangsa yang lahir dari semangat perjuangan dan dibesarkan oleh nilai-nilai kebaikan. Santri adalah harapan masa kini, dan cahaya bagi masa depan.

Oleh :
*Ali Fuad Hasyim, S.H.,M.H.*
Wakil Ketua I
PC. ISNU Kabupaten Lamongan

SendShareTweet

Related‎ Posts

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji
Opini

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Agustus 25, 2026
80
Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif
Opini

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Agustus 1, 2026
60
Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan
Opini

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Juli 22, 2026
16
KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN
Opini

KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN

Juni 29, 2026
21
Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
38
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
45
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
45
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
53
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
57
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
97

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Pengusaha Developer Perumahan Tikung Kotabaru (TKB) Di Laporkan ke Polres Lamongan

Pengusaha Developer Perumahan Tikung Kotabaru (TKB) Di Laporkan ke Polres Lamongan

8 bulan yang lalu
85
3 Imbauan Kakorlantas Polri Bagi Calon Pemudik Lebaran 2025

3 Imbauan Kakorlantas Polri Bagi Calon Pemudik Lebaran 2025

2 tahun yang lalu
44
Semarak Ramadhan 1446H: Lomba Keagamaan TPA dan Santunan Yatim Piatu di Wilayah Ring-1

Semarak Ramadhan 1446H: Lomba Keagamaan TPA dan Santunan Yatim Piatu di Wilayah Ring-1

1 tahun yang lalu
20

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUGAAN PENYALAHGUNAAN DANA BUMDES KETAHAN PANGAN RP158 JUTA DI DESA KEBUNAGUNG Sapi Beli 5 Ekor Tinggal 1, Pembangunan Kandang Tak Terealisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Serbu Waduk Gondang! Vespa Party 2 Bagi 500 Pecel Lele Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JPU Tuntut 4 Tahun Penjara Pelaku Importasi HP Ilegal, Berpotensi Melarikan Diri Sebelum Vonis Dibacakan Hakim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakim PN Jakut Diduga Langgar Kode Etik Membiarkan Terdakwa Bebas Demi Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA