kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
10 bulan yang lalu
Jati Diri Santri: Kaum Sarungan, Bukan Tanda Ketertinggalan
49
VIEWS

Lamongan, KabarOne News.com-Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan hanya seremoni belaka, melainkan bentuk penghargaan atas peran penting santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Di balik penampilan mereka yang bersahaja—dengan peci, sarung, dan kehidupan pesantren—terkandung kekuatan karakter, kedalaman intelektual, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Santri bukan sekadar kaum bersarung; mereka adalah penjaga nilai moral, penggerak perubahan, dan pondasi kebangsaan.

*Sarung: Lambang Kehidupan Sederhana yang Penuh Makna*

Berita‎ Terkait

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN

Sarung identik dengan santri—digunakan saat salat, mengaji, maupun dalam kegiatan sehari-hari di pesantren. Namun, kesederhanaan sarung bukan berarti simbol ketertinggalan. Justru di balik kain yang sederhana ini, tersimpan nilai-nilai kedisiplinan, etika, dan kemandirian.

Tak hanya itu, sarung juga menjadi saksi perjuangan para ulama dan santri dalam melawan penjajahan. Pidato Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti nyata keberanian para santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Meski berpenampilan sederhana, semangat mereka begitu luar biasa.

*Santri: Identitas yang Terbentuk dari Ilmu dan Akhlak*

Jati diri santri dibentuk tidak hanya melalui penguasaan ilmu agama dan hafalan kitab, tetapi juga melalui proses panjang pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Santri diajarkan bukan hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga santun dalam perilaku. Inilah keistimewaan mereka—tumbuh dalam lingkungan yang mendidik secara spiritual dan sosial.

Di pesantren, mereka dididik untuk menjunjung tinggi kejujuran, kesabaran, gotong royong, dan saling membantu. Santri menjalani hidup yang sederhana namun penuh arti. Meski tidur beralas tikar atau makan seadanya, hati mereka dipenuhi dengan semangat kasih sayang dan cita-cita besar.

*Santri Zaman Now: Melek Teknologi, Siap Berkarya*

Santri masa kini bukan lagi sosok yang terbatas pada lingkungan pesantren semata. Mereka kini aktif di dunia digital, memanfaatkan teknologi untuk belajar, berdakwah, dan bahkan berkarya. Banyak santri yang menjadi pemimpin, akademisi, wirausahawan, atau konten kreator—semuanya tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.

Meskipun bersarung, wawasan mereka mendunia. Walau tinggal di pelosok, pemikiran mereka menembus batas. Ini membuktikan bahwa identitas santri bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi kuat untuk melangkah ke depan.

*Melawan Label Kampungan*

Salah satu tantangan yang masih sering dihadapi adalah cap negatif terhadap santri. Masih ada yang menganggap santri itu kampungan, ketinggalan zaman, atau kolot. Padahal, para santri justru merupakan pribadi tangguh yang dibentuk oleh latihan hidup dan nilai-nilai luhur.

Kampungan bukan ditentukan oleh cara berpakaian atau tempat tinggal, melainkan oleh sikap dan pola pikir. Tidak sedikit orang kota yang secara penampilan modern, namun masih berpikiran sempit dan bersikap intoleran. Sebaliknya, santri yang hidup sederhana justru menunjukkan toleransi, ketenangan, dan kedalaman spiritual yang tinggi.

*Penutup: Santri untuk Negeri, Dunia, dan Akhirat*

Menjadi santri bukan hanya soal status, tapi merupakan bagian dari jati diri. Kaum sarungan bukan berarti kampungan—mereka adalah representasi keaslian Indonesia, penjaga nilai luhur bangsa, dan benteng terakhir akhlak masyarakat. Di tengah derasnya arus zaman, eksistensi santri tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan.

Hari ini, santri patut berbangga dengan identitasnya. Mereka bukan warga kelas dua, melainkan anak-anak bangsa yang lahir dari semangat perjuangan dan dibesarkan oleh nilai-nilai kebaikan. Santri adalah harapan masa kini, dan cahaya bagi masa depan.

Oleh :
*Ali Fuad Hasyim, S.H.,M.H.*
Wakil Ketua I
PC. ISNU Kabupaten Lamongan

SendShareTweet

Related‎ Posts

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif
Opini

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Agustus 1, 2026
46
Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan
Opini

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Juli 22, 2026
13
KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN
Opini

KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN

Juni 29, 2026
15
Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
35
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
35
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
38
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
48
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
50
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
91
“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”
Opini

“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”

Februari 15, 2026
61

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Kasudin SDA Jak-ut Diminta Bongkar Dan Perbaiki Kembali Saluran PHB Kelapa Gading.

Kasudin SDA Jak-ut Diminta Bongkar Dan Perbaiki Kembali Saluran PHB Kelapa Gading.

1 tahun yang lalu
69
Penjual Tanah Digugat PMH Lantaran Luas Tanah Tidak Sesuai Perjanjian

Penjual Tanah Digugat PMH Lantaran Luas Tanah Tidak Sesuai Perjanjian

12 bulan yang lalu
69
Bupati Kotabaru Tinjau Lokasi Pembangunan Cluster Percontohan Budidaya Udang di Pulau Laut Timur

Bupati Kotabaru Tinjau Lokasi Pembangunan Cluster Percontohan Budidaya Udang di Pulau Laut Timur

1 tahun yang lalu
33

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Jisman Hutapea Divonis Bebas dalam Perkara GPS di PN Tangerang, Hakim Pulihkan Hak Dan Martabatnya

    Jisman Hutapea Divonis Bebas dalam Perkara GPS di PN Tangerang, Hakim Pulihkan Hak Dan Martabatnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Berdiri Tanpa PBG, Walikota Arifin Belum Bongkar Tower BTS di Cempaka Baru Warga minta Pemkot Bertindak Tegas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tagihan Rp 2,1 Miliar Diklaim Belum Dibayar, CV Anugrah Surya Pratama dan PT Adhara Prima Energi Ajukan PKPU terhadap PetroChina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Greenlove Edelweiss Ibanna Hutabarat’ Siswi SMAN 1 Kota Tangerang, Raih Tiga Gelar Sekaligus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JAMWAS Kejagung Diminta Pantau Kinerja Kajari Jakarta Utara Diduga Bermain Lelang Timah, Bawa PT Titipan Dari Batam Sebagai Pemenang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA