PALU – kabaronenews.com Pagi itu, Sabtu, 21 Maret 2026, kabut tipis di Kelurahan Kabonena seolah ikut merunduk khusyuk.
Masjid Hijau Al-Amin yang berdiri kokoh di Komplek Bukit Tursina, menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan perindu cahaya Illahi.
Sesuai ketetapan pemerintah, gema takbir yang bersahut-sahutan menandai tibanya 1 Syawal 1447 Hijriah, sebuah hari kemenangan yang disambut dengan tarikan napas panjang penuh syukur.
Sejak buta panggung subuh, gelombang jamaah dari berbagai pelosok kota dan cabang Majelis Dzikir Nuurul Khairaat mulai memadati pelataran masjid.
Mereka datang dengan satu tujuan: membasuh jiwa yang kotor di hari yang suci.
Suasana kian syahdu saat Sang Guru, Habib Muhammad Sholeh bin Abu Bakar Al-Aydrus, hadir di tengah-tengah jamaah.
Beliau, sang pendiri sekaligus pimpinan Majelis Dzikir Nuurul Khairaat Pusat Kota Palu, bertindak langsung sebagai Imam Sholat Idul Fitri.
Di bawah bimbingan imamah beliau, barisan shaf merapat, menyatukan hati dalam rukuk dan sujud yang panjang.
Puncak keharuan membuncah saat Ustadz Muhammad Affan naik ke atas mimbar.
Membawakan khutbah bertajuk “Syafa’atul Udmha Hanya Bagi Nabi Muhammad SAW”, beliau membedah kemuliaan yang dinukil dari kitab legendaris karya Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani.
Dengan suara yang bergetar, Sang Khotib menceritakan pedihnya suasana Padang Mahsyar—saat matahari didekatkan sejengkal di atas kepala dan duka cita manusia mencapai puncaknya.
Di saat nabi-nabi lain berkata “diriku, diriku”, hanya Baginda Nabi Muhammad SAW yang bersujud dan berseru “umatku, umatku”.
Narasi tentang kerinduan Rasulullah kepada umatnya ini meruntuhkan pertahanan hati jamaah.
Suasana berubah drastis; Masjid Al-Amin tenggelam dalam Isak tangis yang memilukan. Air mata tumpah membasahi sajadah, menghadirkan penyesalan sekaligus harapan akan syafaat Sang Kekasih Allah di hari kiamat kelak.
Tak berhenti di situ, Habib Muhammad Sholeh Al-Aydrus—atau yang akrab dicintai dengan sapaan Habib Rotan—memberikan untaian hikmah pasca-Ramadhan.
Beliau berpesan dengan nada yang tegas namun menyejukkan bahwa Idul Fitri bukanlah garis finish.
“Ramadhan harus menjadi penguat urat nadi ibadah kita. Jangan kendor! Semangat yang membara di bulan suci harus tetap menyala, bahkan kian berkobar setelah ia berlalu,” pesan beliau yang menghujam jantung sanubari para jamaah.
Rangkaian ibadah suci ini ditutup dengan pelaksanaan Sholat Dhuha berjamaah, sebuah simbol komitmen bahwa ketaatan kepada Sang Khalik akan terus berlanjut meski bulan seribu bulan telah pergi meninggalkan kita.
Di Bukit Tursina pagi itu, mereka tidak hanya pulang membawa kemenangan, tapi membawa pulang rindu yang mendalam kepada Sang Nabi.
NK



















