Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE
Dekan FEB Universitas Islam Lamongan
Lamongan, KabarOneNews.com-Dinamika Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh modal, teknologi, atau akses pasar. Data empirik di lapangan menunjukkan bahwa faktor kepemimpinan memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberlanjutan usaha dan kinerja pelaku UMKM. Di tengah tekanan persaingan, fluktuasi harga bahan baku, serta tuntutan adaptasi digital, gaya kepemimpinan pemilik atau pengelola UMKM menjadi variabel kunci yang menentukan apakah sebuah usaha mampu bertahan, berkembang, atau justru stagnan.
Berdasarkan temuan data riil di sejumlah UMKM, pendekatan benevolent leadership kepemimpinan yang menekankan kepedulian, empati, dan perhatian tulus terhadap kesejahteraan karyawan terbukti berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja tugas (task performance). Pemimpin yang memahami kondisi personal karyawan, memberi dukungan saat menghadapi kesulitan, serta bersikap adil dalam pengambilan keputusan, mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif. Dalam konteks UMKM yang umumnya memiliki struktur organisasi sederhana dan hubungan kerja yang dekat, sikap pemimpin seperti ini menjadi energi sosial yang memperkuat loyalitas dan komitmen pekerja.
Pendekatan benevolent leadership ini semakin efektif ketika dipadukan dengan kualitas Leader Member Exchange (LMX) yang baik. LMX menggambarkan kualitas hubungan antara pemimpin dan anggota, yang tercermin dalam tingkat kepercayaan, komunikasi dua arah, serta penghargaan terhadap kontribusi individu. Data lapangan menunjukkan bahwa UMKM dengan tingkat LMX tinggi memiliki karyawan yang lebih proaktif, bersedia bekerja melampaui deskripsi tugas formal, serta memiliki rasa memiliki terhadap usaha. Hubungan kerja yang sehat membuat karyawan tidak sekadar bekerja untuk upah, tetapi juga untuk keberhasilan usaha secara keseluruhan.
Sebaliknya, temuan yang tidak kalah penting adalah dampak negatif dari gaya kepemimpinan yang otoriter. Dalam sejumlah UMKM, pemimpin yang menerapkan kontrol berlebihan, komunikasi satu arah, serta minim ruang dialog justru memicu penurunan kinerja tugas. Karyawan cenderung bekerja secara mekanis, takut berinisiatif, dan hanya berorientasi pada penyelesaian tugas minimum agar terhindar dari teguran. Kondisi ini secara nyata menurunkan produktivitas, kualitas kerja, dan kecepatan respons terhadap perubahan pasar.
Data empiris menunjukkan bahwa kepemimpinan otoriter juga memperlemah kualitas Leader Member Exchange. Hubungan antara pemimpin dan karyawan menjadi transaksional dan kaku, didominasi rasa takut alih-alih kepercayaan. Dalam jangka pendek, gaya ini mungkin terlihat efektif karena disiplin kerja terjaga, namun dalam jangka menengah dan panjang justru berdampak pada meningkatnya turnover, konflik laten, serta menurunnya semangat kerja. Task performance yang diharapkan meningkat justru mengalami penurunan karena karyawan kehilangan motivasi intrinsik.
Konteks UMKM yang sering kali mengandalkan kerja tim kecil membuat dampak kepemimpinan menjadi semakin terasa. Tidak adanya sistem manajemen sumber daya manusia yang formal menjadikan figur pemimpin sebagai pusat rujukan utama. Ketika pemimpin mampu bersikap bijaksana, peduli, dan membangun hubungan yang setara, UMKM memiliki ketahanan sosial yang kuat. Namun ketika pemimpin bersikap keras dan tertutup, masalah internal mudah membesar dan berujung pada penurunan kinerja usaha.
Menariknya, data juga menunjukkan bahwa benevolent leadership tidak berarti pemimpin menjadi lemah atau kehilangan otoritas. Justru pemimpin yang tegas namun peduli, disiplin namun manusiawi, mampu mendorong kinerja yang lebih tinggi. Karyawan memahami aturan, tetapi juga merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar alat produksi. Inilah keseimbangan kepemimpinan yang dibutuhkan UMKM di era persaingan yang semakin kompleks.
Temuan ini menjadi peringatan sekaligus peluang bagi para pelaku UMKM. Kepemimpinan tidak lagi bisa dipahami sebatas posisi atau kekuasaan, melainkan sebagai kemampuan membangun hubungan kerja yang produktif. Investasi dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan melalui pelatihan, pendampingan, dan refleksi praktik manajerial menjadi sama pentingnya dengan investasi modal dan teknologi.
Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, peningkatan kualitas kepemimpinan UMKM akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan, serta penguatan daya saing lokal. Oleh karena itu, hasil temuan data ini perlu menjadi dasar bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga pendamping UMKM untuk merancang program penguatan soft skills kepemimpinan, bukan hanya fokus pada aspek teknis usaha.
Akhirnya, masa depan UMKM Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar omzet atau seberapa luas pasar yang dijangkau, tetapi juga oleh bagaimana pemimpin memperlakukan orang-orang yang bekerja bersamanya. Benevolent leadership dan hubungan LMX yang berkualitas terbukti mampu menjaga bahkan meningkatkan task performance, sementara kepemimpinan otoriter justru menjadi faktor yang melemahkan. Di sinilah kepemimpinan menemukan makna strategisnya: bukan sekadar memerintah, tetapi menggerakkan, merangkul, dan menumbuhkan.

















