Kabar One News.com- MARTAPURA – Meski telah berpulang lebih dari satu dekade silam, nama K.H. Muhammad Zaini Abdul Ghani, atau yang lebih akrab disapa Abah Guru Sekumpul, tetap hidup dan bersemi di hati jutaan umat Islam.
Ulama kharismatik asal Martapura, Kalimantan Selatan ini bukan sekadar sosok pendakwah, melainkan simbol persatuan umat melalui kedalaman ilmu, kelembutan akhlak, dan tradisi spiritual yang mendunia.
Silsilah Emas dan Kecerdasan Sejak Dini
Lahir pada 11 Februari 1942 di Desa Tunggul Irang, Martapura, Abah Guru Sekumpul membawa garis keturunan yang istimewa.
Beliau merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, penulis kitab legendaris Sabilal Muhtadin.
Kecerdasan spiritual beliau sudah tampak sejak masa kanak-kanak.
Dalam catatan sejarah hidupnya, beliau telah mampu menghafal Al-Qur’an secara sempurna pada usia 7 tahun, dan menguasai Tafsir Jalalain pada usia yang sangat muda, yakni 9 tahun.
Pusat Dakwah Sekumpul, Magnet bagi Dunia
Setelah menempuh pendidikan selama 12 tahun di Pondok Pesantren Darussalam Martapura (1949–1961) dan sempat mengabdi di sana, beliau memutuskan untuk memusatkan dakwah secara mandiri di kediamannya di wilayah Sekumpul.
Keputusan ini menjadi titik awal lahirnya Majelis Sekumpul yang fenomenal. Pengajian beliau bertransformasi menjadi pusat spiritual yang menarik jamaah dari berbagai pelosok Nusantara hingga mancanegara.
Keistimewaan dakwah Abah Guru terletak pada penyampaiannya yang santun dan menyejukkan, dengan penekanan pada ajaran cinta kasih, kesederhanaan, serta pembersihan hati (tazkiyatun nufus).
Karakteristik, Tawadhu dan Cinta Rasul
Salah satu ciri khas yang melekat kuat pada sosok beliau adalah sifat tawadhu (rendah hati) dan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah SAW.
Beliau mempopulerkan pembacaan shalawat dan maulid sebagai sarana menumbuhkan rasa mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad SAW.
Karisma ini mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat tinggi, dalam satu majelis yang penuh ketenangan.
Warisan Abadi, Fenomena Haul Terbesar
Abah Guru Sekumpul wafat pada 10 Agustus 2005 (5 Rajab 1426 H) di usia 63 tahun. Namun, wafatnya beliau tidak memutus ikatan batin dengan para jamaah. Setiap tahunnya, peringatan wafat atau Haul Abah Guru Sekumpul menjadi magnet spiritual yang luar biasa.
Jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia tumpah ruah memadati Martapura, menjadikan acara ini sebagai salah satu perkumpulan keagamaan terbesar di Asia Tenggara.
Fenomena Haul ini menjadi bukti nyata bahwa ajaran kasih sayang, ketulusan, dan keikhlasan yang ditanamkan beliau telah mengakar kuat dan melampaui batas zaman.
Sosok Abah Guru Sekumpul akan terus dikenang sebagai teladan bagi umat Islam dalam menjalankan agama dengan penuh kedamaian, ketenangan, dan cinta kasih yang abadi.
NK



















