kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home News Daerah

Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
4 bulan yang lalu
Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu
107
VIEWS

PALU – kabaronenews.com – Di sebuah sudut sunyi Perumahan Puskud, Kelurahan Palupi, sebuah rumah berdiri bukan sekadar sebagai perlindungan dari hujan dan panas.IMG 20260416 WA0007

Ia adalah sebuah laboratorium kegelisahan—sebuah kawah candradimuka bagi gagasan yang mendidih.

Berita‎ Terkait

KKN-PPM UGM Berakhir, 134 PPM Dipaparkan di Kotabaru

Mantan Anggota BPD Datangi Camat Brondong, Soroti Dugaan Pungutan PTSL di Desa Brengkok

Sambut HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat dan Masyarakat Adat Suku Kaili Gelar Doa Bersama di Sigi

Di sinilah Endeng Mursalin, pria yang akrab disapa Aba, menghabiskan nafasnya bukan untuk memoles warna yang sekadar cantik, melainkan untuk “menjahit” kembali robekan sosial Kota Palu yang bernanah, yang selama ini luput dari sapuan pandangan mata publik.

Aba bukanlah pelukis dekoratif untuk pemanis ruang tamu.

Ia adalah seorang penyair visual yang menggunakan anatomi tubuhnya sebagai pena dan kanvasnya sebagai palagan perang.

Dengan aliran ekspresionisme yang meledak-ledak, setiap goresannya bukanlah sekadar warna, melainkan jeritan yang dibekukan dalam pigmen.

Kanvas yang Berdarah: Tekstur Protes yang Nyata

Bagi Aba, estetika tanpa kritik adalah kemunafikan artistik. Karya-karyanya adalah distorsi kenyataan yang jujur—mentah, kasar, dan sering kali menyakitkan untuk ditatap.

Ia menolak mengagungkan kemolekan Teluk Palu yang artifisial; ia justru memilih menguliti rintihan pesisir yang sekarat akibat eksploitasi dan kebijakan yang mencekik nadi rakyat jelata.

Karyanya yang bertajuk “Kudeta”—yang sempat menggetarkan dinding Galeri Nasional Indonesia pada 2013—adalah sebuah monumen peringatan.

Lukisan itu bukan sekadar komposisi warna, melainkan tamparan kinetik terhadap kebijakan impor yang membunuh perlahan para petani lokal.

Di tangan Aba, seni adalah sebuah “alarm darurat” yang harus segera dipadamkan dengan api kesadaran.

Tubuh sebagai Manifesto: Teatrikalitas “Sang Liyan”

Aba adalah seniman yang meruntuhkan sekat-sekat galeri yang angkuh dan steril.

Ia memilih debu jalanan dan amis pasar sebagai panggungnya.

Dengan tubuh bertelanjang dada dan lilitan sarung putih—metafora kesucian yang ringkih di tengah polusi kekuasaan—ia turun ke Pasar Inpres Manonda hingga pelataran Bank Indonesia.

Di sana, ia melakoni peran sebagai “orang gila”. Sebuah simbol ekspresionis yang getir: bahwa di dalam tatanan dunia yang telah kehilangan kewarasannya akibat ketidakadilan, hanya mereka yang “gila”-lah yang sanggup meneriakkan kebenaran tanpa filter, tanpa rasa takut, dan tanpa topeng.

“Lelah Otak”: Menolak Amnesia Kolektif
Tragedi 2018—saat tanah berguncang, air menyerbu, dan bumi menelan apa saja—bukan sekadar catatan kelam bagi Aba, melainkan luka terbuka yang terus mengucurkan trauma.

Melalui aksi “Lelah Otak” (2020), ia memprotes lambatnya pemulihan jiwa raga kota ini. Ia adalah musuh utama dari amnesia kolektif.

Di atas puing-puing sisa likuifaksi, Aba berdiri tegak, memaksa penguasa dan publik untuk tidak memalingkan muka dari janji-janji yang mulai memudar seperti cat murah di bawah terik matahari.

RoaKids: Menyemai Pigmen Harapan
Namun, di balik gertakan kuasnya yang liar dan penuh amarah, Aba menyimpan samudera kasih bagi masa depan.

Melalui “RoaKids” (Roa: Sahabat), ia menyemai bibit-bibit baru di atas tanah yang pernah retak.

Di sini, anak-anak Palu tidak sekadar diajarkan teknik memegang kuas, tetapi diajak untuk mengasah “mata batin” yang peka.

Aba sedang memastikan bahwa kelak, Sulawesi Tengah tidak akan kekurangan suara-suara merdeka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Dialog Eksklusif: Estetika Luka dan Investasi Nurani

Wartawan (W): Aba, karya Anda terasa “berisik”, penuh tabrakan warna yang kasar, dan tidak nyaman dipandang. Mengapa Anda sengaja membiarkan ekspresionisme Anda begitu liar?

Aba (A): (Tersenyum getir, menatap tangannya yang terkena noda cat) Karena kenyataan kita memang sedang tidak cantik. Seni itu bukan bedak kosmetik untuk mendandani kebusukan. Bagi saya, ekspresionisme adalah kejujuran tanpa filter. Saat saya menggoreskan warna yang bertabrakan dan garis yang cacat, saya sedang memindahkan rintihan nelayan Teluk Palu atau jeritan petani yang tercekik impor ke atas kanvas. Kalau Anda merasa tidak nyaman melihat lukisan saya, artinya nurani Anda masih berfungsi. Seni perlawanan itu tugasnya satu: mengusik kenyamanan mereka yang tertidur lelap di atas penderitaan orang lain.

W: Artinya, kanvas bagi Anda bukan bidang datar, melainkan medan tempur?

A: Benar. Kanvas itu ruang kedaulatan terakhir yang saya miliki. Di sana, saya tidak bisa dibungkam oleh birokrasi. Tubuh saya saat menari di jalanan adalah manifesto bahwa manusia tidak boleh tunduk pada sistem yang mendehumanisasi. Setiap tetesan cat adalah peluru ideologi. Saya melukis bukan untuk mengisi dinding yang kosong, tapi untuk mengisi kekosongan jiwa bangsa ini yang mulai pikun terhadap keadilan.

W: Tentang RoaKids. Mengapa Anda menyebutnya “Investasi Nurani”?

A: RoaKids bukan tempat kursus menggambar agar anak bisa juara lomba dan membawa pulang piala plastik. Ini adalah bank nurani. Di tanah yang sering retak oleh bencana ini, yang paling pertama hancur biasanya adalah harapan. Saya investasi di situ agar 20 tahun lagi, Sulawesi Tengah punya pemimpin, pengusaha, atau guru yang punya “rasa”. Kalau mereka sejak kecil sudah berani mengekspresikan “kejujuran” di atas kertas, mereka tidak akan mudah disuap oleh kebohongan saat dewasa nanti.

W: Bagaimana cara Anda menanamkan benih perlawanan pada anak-anak tanpa merusak dunia bermain mereka?

A: Perlawanan bagi anak-anak itu sederhana: berani menjadi diri sendiri. Saya tidak mendikte mereka menggambar sawah dengan dua gunung yang monoton seperti pola pikir seragam zaman dulu. Saya biarkan mereka menggambar apa yang mereka rasakan saat bumi bergoyang, atau apa yang mereka lihat di pasar yang kumuh. Saya mengajar mereka untuk kritis terhadap warna. RoaKids adalah ruang merdeka. Mengajarkan mereka mencintai lingkungan dan sesama manusia adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap sifat rakus dan individualis.

W: Apa harapan terbesar Anda untuk masa depan Palu?

A: Saya ingin ketika nafas saya sudah tidak ada, teriakan saya tidak ikut padam. Saya ingin lahir “Endeng-Endeng” baru yang tidak takut lapar demi mempertahankan prinsip. Melalui anak-anak ini, saya sedang membangun benteng kebudayaan. Tanah boleh retak, gedung boleh rubuh, tapi nurani anak-anak Sulawesi Tengah harus tetap tegak. Itulah karya seni saya yang paling abadi.

NK

SendShareTweet

Related‎ Posts

KKN-PPM UGM Berakhir, 134 PPM Dipaparkan di Kotabaru
Daerah

KKN-PPM UGM Berakhir, 134 PPM Dipaparkan di Kotabaru

Agustus 10, 2026
5
Mantan Anggota BPD Datangi Camat Brondong, Soroti Dugaan Pungutan PTSL di Desa Brengkok
Daerah

Mantan Anggota BPD Datangi Camat Brondong, Soroti Dugaan Pungutan PTSL di Desa Brengkok

Agustus 10, 2026
5
Sambut HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat dan Masyarakat Adat Suku Kaili Gelar Doa Bersama di Sigi
Daerah

Sambut HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat dan Masyarakat Adat Suku Kaili Gelar Doa Bersama di Sigi

Agustus 10, 2026
34
Kapolres Sigi Bersimpuh Bersama Suku Kaili Da’a Gelar Dzikir Akbar Menyambut HUT RI ke-81
Daerah

Kapolres Sigi Bersimpuh Bersama Suku Kaili Da’a Gelar Dzikir Akbar Menyambut HUT RI ke-81

Agustus 10, 2026
15
Paripurna DPRD Tanah Bumbu Sampaikan Dua Raperda Desa
Daerah

Paripurna DPRD Tanah Bumbu Sampaikan Dua Raperda Desa

Agustus 10, 2026
7
Pemkab Kotabaru-PLN Percepat Pemerataan Listrik, Desa Limbur Jadi Prioritas 2026
Daerah

Pemkab Kotabaru-PLN Percepat Pemerataan Listrik, Desa Limbur Jadi Prioritas 2026

Agustus 9, 2026
7
DPRD Kotabaru Gelar Paripurna Penyampaian KUPA dan PPAS Perubahan APBD 2026
Daerah

DPRD Kotabaru Gelar Paripurna Penyampaian KUPA dan PPAS Perubahan APBD 2026

Agustus 8, 2026
9
GOW Kotabaru Dorong Perempuan Jaga Kesehatan Mental, Usia 40 Bukan Akhir untuk Berkualitas
Daerah

GOW Kotabaru Dorong Perempuan Jaga Kesehatan Mental, Usia 40 Bukan Akhir untuk Berkualitas

Agustus 8, 2026
6
DPRD dan Pemkab Tanah Bumbu Sepakati KUA-PPAS Perubahan 2026
Daerah

DPRD dan Pemkab Tanah Bumbu Sepakati KUA-PPAS Perubahan 2026

Agustus 5, 2026
13
Klarifikasi Pemberitaan, BWS Babel Sebut Proyek Rehab Irigasi Rp 14 M di Desa Paya Benua Tidak Mubazir Dan Kerusakan Akan Diperbaiki
Daerah

Klarifikasi Pemberitaan, BWS Babel Sebut Proyek Rehab Irigasi Rp 14 M di Desa Paya Benua Tidak Mubazir Dan Kerusakan Akan Diperbaiki

Agustus 4, 2026
22

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Taman Budaya Kalsel Gelar Pergelaran Seni Sastra, Angkat Tema Kepedulian Lewat Puisi

Taman Budaya Kalsel Gelar Pergelaran Seni Sastra, Angkat Tema Kepedulian Lewat Puisi

1 tahun yang lalu
32
Trabas Hebat 2 Guncang Kotabaru, Ketua DPRD Suwanti Dukung Penuh Olahraga Otomotif Daerah

Trabas Hebat 2 Guncang Kotabaru, Ketua DPRD Suwanti Dukung Penuh Olahraga Otomotif Daerah

1 tahun yang lalu
11
BPBD Kalsel Imbau Warga Pesisir Waspadai Potensi Banjir Rob Akibat Fenomena Supermoon

BPBD Kalsel Imbau Warga Pesisir Waspadai Potensi Banjir Rob Akibat Fenomena Supermoon

9 bulan yang lalu
15

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Sambut HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat dan Masyarakat Adat Suku Kaili Gelar Doa Bersama di Sigi

    Sambut HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat dan Masyarakat Adat Suku Kaili Gelar Doa Bersama di Sigi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korupsi Sewa Pesawat Terbang Senilai Rp 5 Miliar, Kejari Kota Tangerang Tahan Vice President PT. Angkasa Pura Kargo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Greenlove Edelweiss Ibanna Hutabarat’ Siswi SMAN 1 Kota Tangerang, Raih Tiga Gelar Sekaligus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga Lamongan Adukan Penjarahan Waduk Rawa Sekaran ke Presiden Prabowo, Fungsi Pengendali Banjir Hilang 80%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolres Sigi Bersimpuh Bersama Suku Kaili Da’a Gelar Dzikir Akbar Menyambut HUT RI ke-81

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA