kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home News Daerah

Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
5 bulan yang lalu
Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu
118
VIEWS

PALU – kabaronenews.com – Di sebuah sudut sunyi Perumahan Puskud, Kelurahan Palupi, sebuah rumah berdiri bukan sekadar sebagai perlindungan dari hujan dan panas.IMG 20260416 WA0007

Ia adalah sebuah laboratorium kegelisahan—sebuah kawah candradimuka bagi gagasan yang mendidih.

Berita‎ Terkait

Bupati Yes Ajak SMSI Lamongan Bersinergi Kawal Pembangunan Daerah

BPKAD Kotabaru Dorong Pengelolaan Aset Lebih Tertib dan Digital melalui E-BMD

Kemarau Panjang, PWI Kotabaru dan PTK Salurkan Air Bersih

Di sinilah Endeng Mursalin, pria yang akrab disapa Aba, menghabiskan nafasnya bukan untuk memoles warna yang sekadar cantik, melainkan untuk “menjahit” kembali robekan sosial Kota Palu yang bernanah, yang selama ini luput dari sapuan pandangan mata publik.

Aba bukanlah pelukis dekoratif untuk pemanis ruang tamu.

Ia adalah seorang penyair visual yang menggunakan anatomi tubuhnya sebagai pena dan kanvasnya sebagai palagan perang.

Dengan aliran ekspresionisme yang meledak-ledak, setiap goresannya bukanlah sekadar warna, melainkan jeritan yang dibekukan dalam pigmen.

Kanvas yang Berdarah: Tekstur Protes yang Nyata

Bagi Aba, estetika tanpa kritik adalah kemunafikan artistik. Karya-karyanya adalah distorsi kenyataan yang jujur—mentah, kasar, dan sering kali menyakitkan untuk ditatap.

Ia menolak mengagungkan kemolekan Teluk Palu yang artifisial; ia justru memilih menguliti rintihan pesisir yang sekarat akibat eksploitasi dan kebijakan yang mencekik nadi rakyat jelata.

Karyanya yang bertajuk “Kudeta”—yang sempat menggetarkan dinding Galeri Nasional Indonesia pada 2013—adalah sebuah monumen peringatan.

Lukisan itu bukan sekadar komposisi warna, melainkan tamparan kinetik terhadap kebijakan impor yang membunuh perlahan para petani lokal.

Di tangan Aba, seni adalah sebuah “alarm darurat” yang harus segera dipadamkan dengan api kesadaran.

Tubuh sebagai Manifesto: Teatrikalitas “Sang Liyan”

Aba adalah seniman yang meruntuhkan sekat-sekat galeri yang angkuh dan steril.

Ia memilih debu jalanan dan amis pasar sebagai panggungnya.

Dengan tubuh bertelanjang dada dan lilitan sarung putih—metafora kesucian yang ringkih di tengah polusi kekuasaan—ia turun ke Pasar Inpres Manonda hingga pelataran Bank Indonesia.

Di sana, ia melakoni peran sebagai “orang gila”. Sebuah simbol ekspresionis yang getir: bahwa di dalam tatanan dunia yang telah kehilangan kewarasannya akibat ketidakadilan, hanya mereka yang “gila”-lah yang sanggup meneriakkan kebenaran tanpa filter, tanpa rasa takut, dan tanpa topeng.

“Lelah Otak”: Menolak Amnesia Kolektif
Tragedi 2018—saat tanah berguncang, air menyerbu, dan bumi menelan apa saja—bukan sekadar catatan kelam bagi Aba, melainkan luka terbuka yang terus mengucurkan trauma.

Melalui aksi “Lelah Otak” (2020), ia memprotes lambatnya pemulihan jiwa raga kota ini. Ia adalah musuh utama dari amnesia kolektif.

Di atas puing-puing sisa likuifaksi, Aba berdiri tegak, memaksa penguasa dan publik untuk tidak memalingkan muka dari janji-janji yang mulai memudar seperti cat murah di bawah terik matahari.

RoaKids: Menyemai Pigmen Harapan
Namun, di balik gertakan kuasnya yang liar dan penuh amarah, Aba menyimpan samudera kasih bagi masa depan.

Melalui “RoaKids” (Roa: Sahabat), ia menyemai bibit-bibit baru di atas tanah yang pernah retak.

Di sini, anak-anak Palu tidak sekadar diajarkan teknik memegang kuas, tetapi diajak untuk mengasah “mata batin” yang peka.

Aba sedang memastikan bahwa kelak, Sulawesi Tengah tidak akan kekurangan suara-suara merdeka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Dialog Eksklusif: Estetika Luka dan Investasi Nurani

Wartawan (W): Aba, karya Anda terasa “berisik”, penuh tabrakan warna yang kasar, dan tidak nyaman dipandang. Mengapa Anda sengaja membiarkan ekspresionisme Anda begitu liar?

Aba (A): (Tersenyum getir, menatap tangannya yang terkena noda cat) Karena kenyataan kita memang sedang tidak cantik. Seni itu bukan bedak kosmetik untuk mendandani kebusukan. Bagi saya, ekspresionisme adalah kejujuran tanpa filter. Saat saya menggoreskan warna yang bertabrakan dan garis yang cacat, saya sedang memindahkan rintihan nelayan Teluk Palu atau jeritan petani yang tercekik impor ke atas kanvas. Kalau Anda merasa tidak nyaman melihat lukisan saya, artinya nurani Anda masih berfungsi. Seni perlawanan itu tugasnya satu: mengusik kenyamanan mereka yang tertidur lelap di atas penderitaan orang lain.

W: Artinya, kanvas bagi Anda bukan bidang datar, melainkan medan tempur?

A: Benar. Kanvas itu ruang kedaulatan terakhir yang saya miliki. Di sana, saya tidak bisa dibungkam oleh birokrasi. Tubuh saya saat menari di jalanan adalah manifesto bahwa manusia tidak boleh tunduk pada sistem yang mendehumanisasi. Setiap tetesan cat adalah peluru ideologi. Saya melukis bukan untuk mengisi dinding yang kosong, tapi untuk mengisi kekosongan jiwa bangsa ini yang mulai pikun terhadap keadilan.

W: Tentang RoaKids. Mengapa Anda menyebutnya “Investasi Nurani”?

A: RoaKids bukan tempat kursus menggambar agar anak bisa juara lomba dan membawa pulang piala plastik. Ini adalah bank nurani. Di tanah yang sering retak oleh bencana ini, yang paling pertama hancur biasanya adalah harapan. Saya investasi di situ agar 20 tahun lagi, Sulawesi Tengah punya pemimpin, pengusaha, atau guru yang punya “rasa”. Kalau mereka sejak kecil sudah berani mengekspresikan “kejujuran” di atas kertas, mereka tidak akan mudah disuap oleh kebohongan saat dewasa nanti.

W: Bagaimana cara Anda menanamkan benih perlawanan pada anak-anak tanpa merusak dunia bermain mereka?

A: Perlawanan bagi anak-anak itu sederhana: berani menjadi diri sendiri. Saya tidak mendikte mereka menggambar sawah dengan dua gunung yang monoton seperti pola pikir seragam zaman dulu. Saya biarkan mereka menggambar apa yang mereka rasakan saat bumi bergoyang, atau apa yang mereka lihat di pasar yang kumuh. Saya mengajar mereka untuk kritis terhadap warna. RoaKids adalah ruang merdeka. Mengajarkan mereka mencintai lingkungan dan sesama manusia adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap sifat rakus dan individualis.

W: Apa harapan terbesar Anda untuk masa depan Palu?

A: Saya ingin ketika nafas saya sudah tidak ada, teriakan saya tidak ikut padam. Saya ingin lahir “Endeng-Endeng” baru yang tidak takut lapar demi mempertahankan prinsip. Melalui anak-anak ini, saya sedang membangun benteng kebudayaan. Tanah boleh retak, gedung boleh rubuh, tapi nurani anak-anak Sulawesi Tengah harus tetap tegak. Itulah karya seni saya yang paling abadi.

NK

SendShareTweet

Related‎ Posts

Bupati Yes Ajak SMSI Lamongan Bersinergi Kawal Pembangunan Daerah
Daerah

Bupati Yes Ajak SMSI Lamongan Bersinergi Kawal Pembangunan Daerah

September 24, 2026
17
BPKAD Kotabaru Dorong Pengelolaan Aset Lebih Tertib dan Digital melalui E-BMD
Daerah

BPKAD Kotabaru Dorong Pengelolaan Aset Lebih Tertib dan Digital melalui E-BMD

September 23, 2026
13
Kemarau Panjang, PWI Kotabaru dan PTK Salurkan Air Bersih
Daerah

Kemarau Panjang, PWI Kotabaru dan PTK Salurkan Air Bersih

September 22, 2026
10
Layanan Bercerita Dispersip Kotabaru Jangkau 131 Anak, Tumbuhkan Minat Baca
Daerah

Layanan Bercerita Dispersip Kotabaru Jangkau 131 Anak, Tumbuhkan Minat Baca

September 21, 2026
10
Pemda FC Kotabaru Tundukkan Batola 3-2, Laga Persahabatan Sarat Sportivitas
Daerah

Pemda FC Kotabaru Tundukkan Batola 3-2, Laga Persahabatan Sarat Sportivitas

September 19, 2026
12
Jelang 38 Tahun, KIW Garap Perluasan Lahan Tambahan Hingga 1000 Hektare
Daerah

Jelang 38 Tahun, KIW Garap Perluasan Lahan Tambahan Hingga 1000 Hektare

September 19, 2026
19
Proyek JLU Rampung, Giliran Jalan Dapur Utara Lamongan Diperbaiki
Daerah

Proyek JLU Rampung, Giliran Jalan Dapur Utara Lamongan Diperbaiki

September 19, 2026
17
Bupati Yes Rombak Masal 60 Pejabat Lamongan, Birokrasi Bergeser Ekstrem
Daerah

Bupati Yes Rombak Masal 60 Pejabat Lamongan, Birokrasi Bergeser Ekstrem

September 18, 2026
24
Lamongan Mencekik! Khofifah Gedor Mantup Bawa 15 Ribu Liter Air
Daerah

Lamongan Mencekik! Khofifah Gedor Mantup Bawa 15 Ribu Liter Air

September 18, 2026
17
PTK Dorong Kesadaran Kesehatan Gigi Anak, 848 Siswa Ikuti Gerakan Gigi Bersih
Daerah

PTK Dorong Kesadaran Kesehatan Gigi Anak, 848 Siswa Ikuti Gerakan Gigi Bersih

September 18, 2026
19

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

HUT ke-129 Kota Balikpapan: DPRD Tekankan Refleksi Pembangunan dan Penguatan Kolaborasi

HUT ke-129 Kota Balikpapan: DPRD Tekankan Refleksi Pembangunan dan Penguatan Kolaborasi

8 bulan yang lalu
44
Pemprov Kalsel Perkuat Pengawasan dan Koordinasi Penyaluran KUR untuk Dorong Pertumbuhan UMKM

Pemprov Kalsel Perkuat Pengawasan dan Koordinasi Penyaluran KUR untuk Dorong Pertumbuhan UMKM

11 bulan yang lalu
31
Polsek Gambir Kunjungi Posyandu RW 02 RPTRA Flamboyan Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat

Polsek Gambir Kunjungi Posyandu RW 02 RPTRA Flamboyan Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat

4 bulan yang lalu
55

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUGAAN PENYALAHGUNAAN DANA BUMDES KETAHAN PANGAN RP158 JUTA DI DESA KEBUNAGUNG Sapi Beli 5 Ekor Tinggal 1, Pembangunan Kandang Tak Terealisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JPU Tuntut 4 Tahun Penjara Pelaku Importasi HP Ilegal, Berpotensi Melarikan Diri Sebelum Vonis Dibacakan Hakim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakim PN Jakut Diduga Langgar Kode Etik Membiarkan Terdakwa Bebas Demi Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ada Apa dengan Penegak Hukum Kita? Kasus Penganiayaan di Jakarta Utara Sudah Hampir 2 Tahun Berlalu Kok Belum Tuntas Juga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA