kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home News Daerah

Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
2 bulan yang lalu
Liturgi Pigmen di Tanah Retak: Endeng Mursalin dan Estetika Perlawanan dari Jantung Palu
91
VIEWS

PALU – kabaronenews.com – Di sebuah sudut sunyi Perumahan Puskud, Kelurahan Palupi, sebuah rumah berdiri bukan sekadar sebagai perlindungan dari hujan dan panas.IMG 20260416 WA0007

Ia adalah sebuah laboratorium kegelisahan—sebuah kawah candradimuka bagi gagasan yang mendidih.

Berita‎ Terkait

Ketua DPRD Kotabaru Apresiasi Penutupan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Pulau Laut Timur

Ketua DPRD Kotabaru Tegaskan Dukungan Penuh Pembentukan DOB Tanah Kambatang Lima

Yayasan Pendidikan islam Al-Hidayah Adakan HAFLAH AKHIRUSSANAH dan PELEPASANs

Di sinilah Endeng Mursalin, pria yang akrab disapa Aba, menghabiskan nafasnya bukan untuk memoles warna yang sekadar cantik, melainkan untuk “menjahit” kembali robekan sosial Kota Palu yang bernanah, yang selama ini luput dari sapuan pandangan mata publik.

Aba bukanlah pelukis dekoratif untuk pemanis ruang tamu.

Ia adalah seorang penyair visual yang menggunakan anatomi tubuhnya sebagai pena dan kanvasnya sebagai palagan perang.

Dengan aliran ekspresionisme yang meledak-ledak, setiap goresannya bukanlah sekadar warna, melainkan jeritan yang dibekukan dalam pigmen.

Kanvas yang Berdarah: Tekstur Protes yang Nyata

Bagi Aba, estetika tanpa kritik adalah kemunafikan artistik. Karya-karyanya adalah distorsi kenyataan yang jujur—mentah, kasar, dan sering kali menyakitkan untuk ditatap.

Ia menolak mengagungkan kemolekan Teluk Palu yang artifisial; ia justru memilih menguliti rintihan pesisir yang sekarat akibat eksploitasi dan kebijakan yang mencekik nadi rakyat jelata.

Karyanya yang bertajuk “Kudeta”—yang sempat menggetarkan dinding Galeri Nasional Indonesia pada 2013—adalah sebuah monumen peringatan.

Lukisan itu bukan sekadar komposisi warna, melainkan tamparan kinetik terhadap kebijakan impor yang membunuh perlahan para petani lokal.

Di tangan Aba, seni adalah sebuah “alarm darurat” yang harus segera dipadamkan dengan api kesadaran.

Tubuh sebagai Manifesto: Teatrikalitas “Sang Liyan”

Aba adalah seniman yang meruntuhkan sekat-sekat galeri yang angkuh dan steril.

Ia memilih debu jalanan dan amis pasar sebagai panggungnya.

Dengan tubuh bertelanjang dada dan lilitan sarung putih—metafora kesucian yang ringkih di tengah polusi kekuasaan—ia turun ke Pasar Inpres Manonda hingga pelataran Bank Indonesia.

Di sana, ia melakoni peran sebagai “orang gila”. Sebuah simbol ekspresionis yang getir: bahwa di dalam tatanan dunia yang telah kehilangan kewarasannya akibat ketidakadilan, hanya mereka yang “gila”-lah yang sanggup meneriakkan kebenaran tanpa filter, tanpa rasa takut, dan tanpa topeng.

“Lelah Otak”: Menolak Amnesia Kolektif
Tragedi 2018—saat tanah berguncang, air menyerbu, dan bumi menelan apa saja—bukan sekadar catatan kelam bagi Aba, melainkan luka terbuka yang terus mengucurkan trauma.

Melalui aksi “Lelah Otak” (2020), ia memprotes lambatnya pemulihan jiwa raga kota ini. Ia adalah musuh utama dari amnesia kolektif.

Di atas puing-puing sisa likuifaksi, Aba berdiri tegak, memaksa penguasa dan publik untuk tidak memalingkan muka dari janji-janji yang mulai memudar seperti cat murah di bawah terik matahari.

RoaKids: Menyemai Pigmen Harapan
Namun, di balik gertakan kuasnya yang liar dan penuh amarah, Aba menyimpan samudera kasih bagi masa depan.

Melalui “RoaKids” (Roa: Sahabat), ia menyemai bibit-bibit baru di atas tanah yang pernah retak.

Di sini, anak-anak Palu tidak sekadar diajarkan teknik memegang kuas, tetapi diajak untuk mengasah “mata batin” yang peka.

Aba sedang memastikan bahwa kelak, Sulawesi Tengah tidak akan kekurangan suara-suara merdeka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Dialog Eksklusif: Estetika Luka dan Investasi Nurani

Wartawan (W): Aba, karya Anda terasa “berisik”, penuh tabrakan warna yang kasar, dan tidak nyaman dipandang. Mengapa Anda sengaja membiarkan ekspresionisme Anda begitu liar?

Aba (A): (Tersenyum getir, menatap tangannya yang terkena noda cat) Karena kenyataan kita memang sedang tidak cantik. Seni itu bukan bedak kosmetik untuk mendandani kebusukan. Bagi saya, ekspresionisme adalah kejujuran tanpa filter. Saat saya menggoreskan warna yang bertabrakan dan garis yang cacat, saya sedang memindahkan rintihan nelayan Teluk Palu atau jeritan petani yang tercekik impor ke atas kanvas. Kalau Anda merasa tidak nyaman melihat lukisan saya, artinya nurani Anda masih berfungsi. Seni perlawanan itu tugasnya satu: mengusik kenyamanan mereka yang tertidur lelap di atas penderitaan orang lain.

W: Artinya, kanvas bagi Anda bukan bidang datar, melainkan medan tempur?

A: Benar. Kanvas itu ruang kedaulatan terakhir yang saya miliki. Di sana, saya tidak bisa dibungkam oleh birokrasi. Tubuh saya saat menari di jalanan adalah manifesto bahwa manusia tidak boleh tunduk pada sistem yang mendehumanisasi. Setiap tetesan cat adalah peluru ideologi. Saya melukis bukan untuk mengisi dinding yang kosong, tapi untuk mengisi kekosongan jiwa bangsa ini yang mulai pikun terhadap keadilan.

W: Tentang RoaKids. Mengapa Anda menyebutnya “Investasi Nurani”?

A: RoaKids bukan tempat kursus menggambar agar anak bisa juara lomba dan membawa pulang piala plastik. Ini adalah bank nurani. Di tanah yang sering retak oleh bencana ini, yang paling pertama hancur biasanya adalah harapan. Saya investasi di situ agar 20 tahun lagi, Sulawesi Tengah punya pemimpin, pengusaha, atau guru yang punya “rasa”. Kalau mereka sejak kecil sudah berani mengekspresikan “kejujuran” di atas kertas, mereka tidak akan mudah disuap oleh kebohongan saat dewasa nanti.

W: Bagaimana cara Anda menanamkan benih perlawanan pada anak-anak tanpa merusak dunia bermain mereka?

A: Perlawanan bagi anak-anak itu sederhana: berani menjadi diri sendiri. Saya tidak mendikte mereka menggambar sawah dengan dua gunung yang monoton seperti pola pikir seragam zaman dulu. Saya biarkan mereka menggambar apa yang mereka rasakan saat bumi bergoyang, atau apa yang mereka lihat di pasar yang kumuh. Saya mengajar mereka untuk kritis terhadap warna. RoaKids adalah ruang merdeka. Mengajarkan mereka mencintai lingkungan dan sesama manusia adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap sifat rakus dan individualis.

W: Apa harapan terbesar Anda untuk masa depan Palu?

A: Saya ingin ketika nafas saya sudah tidak ada, teriakan saya tidak ikut padam. Saya ingin lahir “Endeng-Endeng” baru yang tidak takut lapar demi mempertahankan prinsip. Melalui anak-anak ini, saya sedang membangun benteng kebudayaan. Tanah boleh retak, gedung boleh rubuh, tapi nurani anak-anak Sulawesi Tengah harus tetap tegak. Itulah karya seni saya yang paling abadi.

NK

SendShareTweet

Related‎ Posts

Ketua DPRD Kotabaru Apresiasi Penutupan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Pulau Laut Timur
Daerah

Ketua DPRD Kotabaru Apresiasi Penutupan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Pulau Laut Timur

Juni 19, 2026
3
Ketua DPRD Kotabaru Tegaskan Dukungan Penuh Pembentukan DOB Tanah Kambatang Lima
Daerah

Ketua DPRD Kotabaru Tegaskan Dukungan Penuh Pembentukan DOB Tanah Kambatang Lima

Juni 19, 2026
4
Yayasan Pendidikan islam Al-Hidayah Adakan HAFLAH AKHIRUSSANAH dan PELEPASANs
Daerah

Yayasan Pendidikan islam Al-Hidayah Adakan HAFLAH AKHIRUSSANAH dan PELEPASANs

Juni 18, 2026
12
Miris, Proyek Rehab Madrasah PHTC Babel Rp 19 Milyar Diduga Pakai Rangka Atap Berkarat, Kualitas Diragukan
Daerah

Miris, Proyek Rehab Madrasah PHTC Babel Rp 19 Milyar Diduga Pakai Rangka Atap Berkarat, Kualitas Diragukan

Juni 18, 2026
75
Pemkab Kotabaru Gelar Gala Premier Film Dokumenter Budaya Lokal
Daerah

Pemkab Kotabaru Gelar Gala Premier Film Dokumenter Budaya Lokal

Juni 17, 2026
8
Sekda Lepas 120 Kafilah Kotabaru ke MTQ Kalsel XXXVII
Daerah

Sekda Lepas 120 Kafilah Kotabaru ke MTQ Kalsel XXXVII

Juni 16, 2026
7
Pemkab Tanah Bumbu Sampaikan Raperda Perubahan Perda BPD ke DPRD
Daerah

Pemkab Tanah Bumbu Sampaikan Raperda Perubahan Perda BPD ke DPRD

Juni 15, 2026
6
DPRD Kotabaru Gelar Fun Match Mini Soccer Meriahkan Hari Jadi ke-76 Kabupaten Kotabaru
Daerah

DPRD Kotabaru Gelar Fun Match Mini Soccer Meriahkan Hari Jadi ke-76 Kabupaten Kotabaru

Juni 15, 2026
8
Fraksi DPRD Setujui LPj APBD 2025 ke Tahap Berikutnya*
Daerah

Fraksi DPRD Setujui LPj APBD 2025 ke Tahap Berikutnya*

Juni 15, 2026
15
Fraksi PAN Apresiasi WTP ke-13 Sekaligus Soroti Tingginya SiLPA
Daerah

Fraksi PAN Apresiasi WTP ke-13 Sekaligus Soroti Tingginya SiLPA

Juni 15, 2026
10

Hari Besar Nasional:

Idul Fitri 1447 H/ 2026 M :

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Paripurna HUT ke-76 Kotabaru, Bupati Rusli Ajak Semua Elemen Bersatu Wujudkan Banua Rakat, Kotabaru Hebat

Paripurna HUT ke-76 Kotabaru, Bupati Rusli Ajak Semua Elemen Bersatu Wujudkan Banua Rakat, Kotabaru Hebat

2 minggu yang lalu
12
Dapur MBG Yayasan Bahagia Makmur Sentosa menjadi Dapur Pelopor di Lamongan yang menggunakan IPAL Sesuai Standar

Dapur MBG Yayasan Bahagia Makmur Sentosa menjadi Dapur Pelopor di Lamongan yang menggunakan IPAL Sesuai Standar

7 bulan yang lalu
93
Reses di Desa Cantung Kiri, Warga Apresiasi Kehadiran dan Komitmen Abdul Basir

Reses di Desa Cantung Kiri, Warga Apresiasi Kehadiran dan Komitmen Abdul Basir

1 tahun yang lalu
14

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • Ditengarai Memalsukan Skincare Produk Orang Lain, Dokter Lee Diseret Ke Persidangan

    Ditengarai Memalsukan Skincare Produk Orang Lain, Dokter Lee Diseret Ke Persidangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Miris, Proyek Rehab Madrasah PHTC Babel Rp 19 Milyar Diduga Pakai Rangka Atap Berkarat, Kualitas Diragukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hak Jawab Dinas Pendidikan Lamongan Terkait Buku Pendamping di Sekolah SD Bersifat Sukarela.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usut Tuntas Dugaan Penjualan Buku LKS Di Dinas Pendidikan Lamongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Lamongan Tegaskan LKS Tidak Boleh Diperjualbelikan Secara Paksa, Sekolah Diminta Patuhi Regulasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA