PALU – kabaronenews.com – Di sebuah sudut sunyi Perumahan Puskud, Kelurahan Palupi, sebuah rumah berdiri bukan sekadar sebagai perlindungan dari hujan dan panas.
Ia adalah sebuah laboratorium kegelisahan—sebuah kawah candradimuka bagi gagasan yang mendidih.
Di sinilah Endeng Mursalin, pria yang akrab disapa Aba, menghabiskan nafasnya bukan untuk memoles warna yang sekadar cantik, melainkan untuk “menjahit” kembali robekan sosial Kota Palu yang bernanah, yang selama ini luput dari sapuan pandangan mata publik.
Aba bukanlah pelukis dekoratif untuk pemanis ruang tamu.
Ia adalah seorang penyair visual yang menggunakan anatomi tubuhnya sebagai pena dan kanvasnya sebagai palagan perang.
Dengan aliran ekspresionisme yang meledak-ledak, setiap goresannya bukanlah sekadar warna, melainkan jeritan yang dibekukan dalam pigmen.
Kanvas yang Berdarah: Tekstur Protes yang Nyata
Bagi Aba, estetika tanpa kritik adalah kemunafikan artistik. Karya-karyanya adalah distorsi kenyataan yang jujur—mentah, kasar, dan sering kali menyakitkan untuk ditatap.
Ia menolak mengagungkan kemolekan Teluk Palu yang artifisial; ia justru memilih menguliti rintihan pesisir yang sekarat akibat eksploitasi dan kebijakan yang mencekik nadi rakyat jelata.
Karyanya yang bertajuk “Kudeta”—yang sempat menggetarkan dinding Galeri Nasional Indonesia pada 2013—adalah sebuah monumen peringatan.
Lukisan itu bukan sekadar komposisi warna, melainkan tamparan kinetik terhadap kebijakan impor yang membunuh perlahan para petani lokal.
Di tangan Aba, seni adalah sebuah “alarm darurat” yang harus segera dipadamkan dengan api kesadaran.
Tubuh sebagai Manifesto: Teatrikalitas “Sang Liyan”
Aba adalah seniman yang meruntuhkan sekat-sekat galeri yang angkuh dan steril.
Ia memilih debu jalanan dan amis pasar sebagai panggungnya.
Dengan tubuh bertelanjang dada dan lilitan sarung putih—metafora kesucian yang ringkih di tengah polusi kekuasaan—ia turun ke Pasar Inpres Manonda hingga pelataran Bank Indonesia.
Di sana, ia melakoni peran sebagai “orang gila”. Sebuah simbol ekspresionis yang getir: bahwa di dalam tatanan dunia yang telah kehilangan kewarasannya akibat ketidakadilan, hanya mereka yang “gila”-lah yang sanggup meneriakkan kebenaran tanpa filter, tanpa rasa takut, dan tanpa topeng.
“Lelah Otak”: Menolak Amnesia Kolektif
Tragedi 2018—saat tanah berguncang, air menyerbu, dan bumi menelan apa saja—bukan sekadar catatan kelam bagi Aba, melainkan luka terbuka yang terus mengucurkan trauma.
Melalui aksi “Lelah Otak” (2020), ia memprotes lambatnya pemulihan jiwa raga kota ini. Ia adalah musuh utama dari amnesia kolektif.
Di atas puing-puing sisa likuifaksi, Aba berdiri tegak, memaksa penguasa dan publik untuk tidak memalingkan muka dari janji-janji yang mulai memudar seperti cat murah di bawah terik matahari.
RoaKids: Menyemai Pigmen Harapan
Namun, di balik gertakan kuasnya yang liar dan penuh amarah, Aba menyimpan samudera kasih bagi masa depan.
Melalui “RoaKids” (Roa: Sahabat), ia menyemai bibit-bibit baru di atas tanah yang pernah retak.
Di sini, anak-anak Palu tidak sekadar diajarkan teknik memegang kuas, tetapi diajak untuk mengasah “mata batin” yang peka.
Aba sedang memastikan bahwa kelak, Sulawesi Tengah tidak akan kekurangan suara-suara merdeka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.
Dialog Eksklusif: Estetika Luka dan Investasi Nurani
Wartawan (W): Aba, karya Anda terasa “berisik”, penuh tabrakan warna yang kasar, dan tidak nyaman dipandang. Mengapa Anda sengaja membiarkan ekspresionisme Anda begitu liar?
Aba (A): (Tersenyum getir, menatap tangannya yang terkena noda cat) Karena kenyataan kita memang sedang tidak cantik. Seni itu bukan bedak kosmetik untuk mendandani kebusukan. Bagi saya, ekspresionisme adalah kejujuran tanpa filter. Saat saya menggoreskan warna yang bertabrakan dan garis yang cacat, saya sedang memindahkan rintihan nelayan Teluk Palu atau jeritan petani yang tercekik impor ke atas kanvas. Kalau Anda merasa tidak nyaman melihat lukisan saya, artinya nurani Anda masih berfungsi. Seni perlawanan itu tugasnya satu: mengusik kenyamanan mereka yang tertidur lelap di atas penderitaan orang lain.
W: Artinya, kanvas bagi Anda bukan bidang datar, melainkan medan tempur?
A: Benar. Kanvas itu ruang kedaulatan terakhir yang saya miliki. Di sana, saya tidak bisa dibungkam oleh birokrasi. Tubuh saya saat menari di jalanan adalah manifesto bahwa manusia tidak boleh tunduk pada sistem yang mendehumanisasi. Setiap tetesan cat adalah peluru ideologi. Saya melukis bukan untuk mengisi dinding yang kosong, tapi untuk mengisi kekosongan jiwa bangsa ini yang mulai pikun terhadap keadilan.
W: Tentang RoaKids. Mengapa Anda menyebutnya “Investasi Nurani”?
A: RoaKids bukan tempat kursus menggambar agar anak bisa juara lomba dan membawa pulang piala plastik. Ini adalah bank nurani. Di tanah yang sering retak oleh bencana ini, yang paling pertama hancur biasanya adalah harapan. Saya investasi di situ agar 20 tahun lagi, Sulawesi Tengah punya pemimpin, pengusaha, atau guru yang punya “rasa”. Kalau mereka sejak kecil sudah berani mengekspresikan “kejujuran” di atas kertas, mereka tidak akan mudah disuap oleh kebohongan saat dewasa nanti.
W: Bagaimana cara Anda menanamkan benih perlawanan pada anak-anak tanpa merusak dunia bermain mereka?
A: Perlawanan bagi anak-anak itu sederhana: berani menjadi diri sendiri. Saya tidak mendikte mereka menggambar sawah dengan dua gunung yang monoton seperti pola pikir seragam zaman dulu. Saya biarkan mereka menggambar apa yang mereka rasakan saat bumi bergoyang, atau apa yang mereka lihat di pasar yang kumuh. Saya mengajar mereka untuk kritis terhadap warna. RoaKids adalah ruang merdeka. Mengajarkan mereka mencintai lingkungan dan sesama manusia adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap sifat rakus dan individualis.
W: Apa harapan terbesar Anda untuk masa depan Palu?
A: Saya ingin ketika nafas saya sudah tidak ada, teriakan saya tidak ikut padam. Saya ingin lahir “Endeng-Endeng” baru yang tidak takut lapar demi mempertahankan prinsip. Melalui anak-anak ini, saya sedang membangun benteng kebudayaan. Tanah boleh retak, gedung boleh rubuh, tapi nurani anak-anak Sulawesi Tengah harus tetap tegak. Itulah karya seni saya yang paling abadi.
NK



















