No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
Home Opini

UMKM Terjepit di Negeri Sendiri: Ketika Perdagangan Murah Asing Menggerus Keadilan Pasar

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
3 bulan yang lalu
UMKM Terjepit di Negeri Sendiri: Ketika Perdagangan Murah Asing Menggerus Keadilan Pasar
19
VIEWS

Oleh: DR. H. Abid Muhtarom
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA

Lamongan, KabarOneNews.com-UMKM selama ini dipuja sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Mereka menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja dan menjadi bantalan ekonomi saat krisis. Namun di balik narasi heroik tersebut, realitas yang dihadapi UMKM hari ini semakin kompleks dan ironis. Di tengah upaya digitalisasi, literasi keuangan, dan dorongan naik kelas, muncul persoalan serius yang kerap luput dari diskursus publik: praktik perdagangan oleh warga negara asing (WNA) yang menetap di kota-kota besar Indonesia menggunakan visa wisata, lalu berdagang secara daring dengan harga jauh lebih murah dibanding produk UMKM lokal.

Berita‎ Terkait

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Fenomena ini bukan sekadar isu ekonomi mikro, melainkan menyentuh aspek kedaulatan ekonomi, keadilan usaha, dan konsistensi penegakan hukum. Ketika UMKM berjuang memenuhi izin usaha, sertifikasi halal, pajak, standar produksi, dan biaya logistik yang tidak murah, justru muncul pedagang asing yang beroperasi di ruang digital tanpa beban regulasi serupa. Persaingan pun menjadi timpang sejak garis start.

Perdagangan daring memang telah membuka pasar tanpa batas. Namun keterbukaan pasar tanpa pengawasan yang adil justru melahirkan distorsi. Produk dengan harga sangat murah yang kerap tidak mencerminkan biaya produksi wajar membanjiri marketplace dan media sosial. UMKM yang selama ini mengandalkan kualitas, kedekatan budaya, dan keberlanjutan usaha, terpaksa tersisih oleh perang harga yang tidak sehat. Dalam jangka pendek, konsumen mungkin diuntungkan. Namun dalam jangka panjang, ekosistem UMKM bisa runtuh perlahan.

Masalah utama dari fenomena ini bukan semata pada siapa yang berdagang, melainkan bagaimana mereka berdagang. Visa wisata sejatinya bukan untuk aktivitas ekonomi produktif. Ketika visa disalahgunakan untuk berdagang secara aktif dan menetap, maka terjadi pelanggaran administratif sekaligus ketidakadilan struktural. UMKM lokal yang taat aturan justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Negara hadir dengan regulasi ketat kepada warganya sendiri, namun tampak longgar terhadap pelanggaran oleh pihak luar.

Lebih jauh, harga murah yang ditawarkan tidak selalu mencerminkan efisiensi, melainkan bisa jadi hasil dari praktik tidak fair: tidak membayar pajak, tidak memiliki izin usaha, tidak mengikuti standar ketenagakerjaan, bahkan tidak berkontribusi pada ekonomi lokal. UMKM Indonesia harus membayar listrik mahal, logistik antar pulau, sewa tempat, serta biaya produksi yang terus naik akibat inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin mereka bersaing dengan pedagang yang nyaris tanpa biaya kepatuhan?

Ironisnya, UMKM sering diminta beradaptasi, berinovasi, dan “jangan mengeluh kalah bersaing”. Padahal, persaingan yang sehat mensyaratkan aturan main yang sama. Adaptasi bukan berarti menerima ketidakadilan sebagai keniscayaan. Negara tidak boleh sekadar menjadi penonton yang menyarankan UMKM “naik kelas”, sementara di sisi lain membiarkan praktik dagang abu-abu yang merusak pasar domestik.

Isu ini juga berkaitan erat dengan perlindungan konsumen. Produk murah yang masuk melalui jalur informal sering kali tidak jelas standar mutu, keamanan, dan legalitasnya. UMKM dipaksa mematuhi standar BPOM, SNI, dan sertifikasi lainnya, sementara produk pesaing bebas beredar tanpa pengawasan memadai. Jika terjadi kerugian konsumen, siapa yang bertanggung jawab? Dalam konteks ini, pembiaran bukan hanya merugikan UMKM, tetapi juga membahayakan konsumen.

Sebagai akademisi dan pelaku pendidikan ekonomi, saya melihat persoalan ini sebagai sinyal penting bahwa transformasi ekonomi digital harus diiringi dengan ketegasan regulasi. Digitalisasi tidak boleh menjadi alasan untuk melonggarkan pengawasan imigrasi dan perdagangan. Justru di era digital, negara dituntut lebih cerdas dan responsif dalam menjaga keadilan pasar.

Solusi atas persoalan ini tentu tidak sederhana, namun bukan mustahil. Pertama, perlu penguatan sinergi antara otoritas imigrasi, perdagangan, dan platform digital. Marketplace harus didorong atau diwajibkan melakukan verifikasi penjual secara lebih ketat, termasuk status kewarganegaraan dan legalitas usaha. Kedua, penegakan hukum terhadap penyalahgunaan visa harus dilakukan secara konsisten dan transparan, bukan insidental atau reaktif terhadap tekanan publik.

Ketiga, UMKM tidak cukup hanya diberi pelatihan dan subsidi, tetapi juga dilindungi ruang usahanya. Negara-negara maju sangat protektif terhadap pelaku usaha kecilnya. Indonesia pun harus berani bersikap tegas demi keberlangsungan UMKM. Keempat, edukasi konsumen juga penting agar masyarakat memahami bahwa membeli produk lokal bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga pilihan moral untuk menjaga keberlanjutan bangsa.

UMKM bukan hanya entitas bisnis, melainkan representasi kemandirian ekonomi rakyat. Ketika mereka kalah bukan karena kualitas atau inovasi, melainkan karena ketidakadilan sistemik, maka yang terancam bukan hanya UMKM, tetapi masa depan ekonomi nasional. Negara harus hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai penjaga keadilan.

Jika UMKM terus dibiarkan berjuang sendirian di tengah persaingan yang timpang, maka slogan “UMKM tulang punggung ekonomi” hanya akan menjadi retorika kosong. Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: di negeri ini, siapa yang sebenarnya dilindungi oleh sistem? UMKM, atau justru praktik ekonomi murah yang menggerus kedaulatan pasar domestik?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah keberpihakan ekonomi Indonesia ke depan.

SendShareTweet

Related‎ Posts

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
26
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
24
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
25
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
39
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
35
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
85
“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”
Opini

“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”

Februari 15, 2026
47
Indonesia Nomor Satu Dunia dalam Global Flourishing Study: Energi Sosial bagi Kebangkitan UMKM
Opini

Indonesia Nomor Satu Dunia dalam Global Flourishing Study: Energi Sosial bagi Kebangkitan UMKM

Februari 11, 2026
20
Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?
Opini

Koperasi Merah Putih: Menguatkan Ekonomi Desa atau Menyisihkan Warung UMKM?

Februari 10, 2026
28
Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)
Opini

Pers Nasional, Penjaga Nalar Publik dan Nurani Demokrasi (Selamat Hari Pers Nasional)

Februari 10, 2026
25

Hari Besar Nasional:

Idul Fitri 1447 H/ 2026 M :

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Benarkah? Pengurus Partai Banteng Bag Cacing Kepanasan Adanya Gugatan No.113 di PTUN

Benarkah? Pengurus Partai Banteng Bag Cacing Kepanasan Adanya Gugatan No.113 di PTUN

11 bulan yang lalu
29
“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”

“Promosi Bisa Ditiru, Cerita Tidak: Brand Storytelling UMKM Berbasis Sejarah sebagai Strategi Menjadi Kebutuhan Pasar”

3 bulan yang lalu
47
Amin Thohari Kritik Langsung Kinerja Buruk Bulog Bojonegoro Serap Gabah

Amin Thohari Kritik Langsung Kinerja Buruk Bulog Bojonegoro Serap Gabah

1 tahun yang lalu
16

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • PT. Delta Mega Persada Digugat, Dituding Melakukan Perbuatan Melawan Hukum

    PT. Delta Mega Persada Digugat, Dituding Melakukan Perbuatan Melawan Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang Pemalsuan Surat Kuasa, Pengacara Sopar Napitupulu Dapat Rp 140 Juta Notaris 5,5 M

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Demi Kepastian Hukum Majelis Hakim Diminta Kabulkan Sita Jaminan Lahan Apartemen Yang Diduga Diserobot PT.Summarecon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Launching lembaga bahasa Al Fattah Yayasan pondok pesantren Al Fattah Siman Lamongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Razia Parkir Liar Mobil Jaksa dan Pengacara Dikempesin Didepan PN Jakarta Utara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA