Kotabaru,KabarOnenews.com- Ratusan karyawan eks PT Hillconsaya sakti (PJS) bersama sejumlah pekerja dari kontraktor lainnya mendatangi Kantor Desa Bekambit, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, Senin (2/3/2026).
Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi terkait pembekuan sementara operasional PT SSC oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM.
PT Hillconjaya sakti diketahui merupakan salah satu kontraktor dari PT SSC yang beroperasi di wilayah Pulau Laut Timur. Sejak aktivitas PT SSC dibekukan, seluruh kegiatan operasional para kontraktor otomatis terhenti, sehingga berdampak langsung terhadap ribuan pekerja.
M. Safie, salah seorang karyawan eks PT Hillcon, mengatakan kebijakan tersebut memicu pengangguran massal di wilayah setempat.
“Sejak operasional PT SSC dibekukan, kami para pekerja kontraktor tidak bisa bekerja lagi. Dampaknya sangat terasa, banyak yang sekarang menganggur,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pekerja PT Hillcon, tetapi juga karyawan dari perusahaan lain seperti PUI dan SMAS, serta karyawan internal PT SSC sendiri. Dari ribuan pekerja yang terdampak, hanya sebagian kecil yang hadir untuk mewakili rekan-rekan mereka dalam penyampaian aspirasi.
Ia menegaskan, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sangat signifikan. Perputaran uang di lingkungan sekitar perusahaan menurun drastis. Warung, usaha kecil, hingga penyedia jasa lokal turut terdampak akibat berhentinya aktivitas operasional perusahaan.
“Poin utama tuntutan kami adalah agar pembekuan operasional PT SSC dapat dipertimbangkan kembali. Kami berharap permasalahan yang ada bisa diselesaikan secara administratif tanpa harus menghentikan aktivitas di lapangan, sehingga masyarakat bisa kembali bekerja,” jelasnya.
Para pekerja juga berharap apabila operasional kembali dibuka, kontraktor baru dapat masuk dan memberikan peluang kerja bagi eks karyawan PT Hillcon maupun pekerja lainnya.
Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan secara serius dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan pembekuan tersebut, mengingat ribuan kepala keluarga kini kehilangan sumber penghasilan utama.
By: Herpani


















