BALIKPAPAN – kabaronenews.com – Meski diklaim telah rampung 100 persen oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) pada akhir 2025, proyek normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal di koridor Jalan MT Haryono kembali menuai polemik.
Memasuki awal Februari 2026, kawasan tersebut justru terendam banjir parah meski hanya diguyur hujan dengan intensitas singkat.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Komisi III DPRD Kota Balikpapan yang menilai adanya ketidaksesuaian antara realita lapangan dengan anggaran jumbo sebesar Rp136 miliar yang telah digelontorkan.
Kegagalan Fungsi dan Tuntutan Audit Independen
DPRD Balikpapan secara vokal mendesak dilakukannya evaluasi total dan audit forensik terhadap proyek tahun jamak (multi-year contract) tersebut.
Setidaknya ada tiga poin utama yang menjadi dasar desakan ini:
1. Kegagalan Fungsi Drainase
Banjir yang tetap terjadi menunjukkan bahwa sistem drainase yang dibangun tidak mampu menjalankan fungsinya secara teknis.
2. Dugaan Cacat Perencanaan
Parlemen menyoroti potensi kegagalan pada Detail Engineering Design (DED) dan kajian hidrologi.
Besarnya anggaran dianggap tidak sebanding dengan hasil penanganan banjir di lapangan.
3. Kualitas Material:
Mengacu pada tuntutan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), kualitas material proyek juga diragukan menyusul banyaknya insiden kendaraan yang terperosok di area proyek sebelum resmi dinyatakan selesai.
DPU Balikpapan Bakal Dipanggil
Menindaklanjuti ketimpangan ini, DPRD telah menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk meminta pertanggungjawaban DPU Balikpapan.
“Jika kajian teknis mengklaim proyek efektif namun banjir tetap terjadi, maka terdapat kegagalan fatal sejak tahap perencanaan awal. Kami butuh jawaban transparan,” tegas perwakilan Komisi III DPRD Balikpapan.
Kontradiksi Data dan Klaim Pemerintah
Sebagai catatan, pada November 2025, Kepala DPU Balikpapan sempat menyatakan bahwa proyek di koridor MT Haryono telah selesai sepenuhnya dan tinggal memasuki tahap perapian (finishing).
Namun, realita banjir di awal tahun 2026 ini seolah menggugurkan klaim tersebut.
Hal ini memperkuat dorongan agar pihak independen melakukan audit guna memastikan apakah terjadi penyimpangan spesifikasi atau kelalaian teknis dalam pengerjaan.
Rincian Proyek DAS Ampal
Sebagai informasi, megaproyek pengendalian banjir DAS Ampal ini mencakup enam titik pekerjaan utama, di antaranya:
Kawasan MT Haryono (depan Global Sport).
Saluran sekunder Inhutani.
Saluran Wika.
Saluran Global Sport sebagai sistem drainase terpadu.
Selain kontrak utama senilai Rp136 miliar, pemerintah juga mengalokasikan tambahan dana sebesar Rp13,9 miliar pada tahun 2024 khusus untuk pelebaran jalan dan perbaikan trotoar di sepanjang koridor MT Haryono.
Dengan total investasi yang mendekati Rp150 miliar, publik kini menanti kejelasan mengapa masalah banjir di jalur utama Kota Beriman ini tak kunjung tuntas.
NK



















