PALU – kabaronenews.com – Tabuh rebana dan lantunan Sholawat yang membelah langit Kota Palu seakan menjadi saksi bisu kembalinya sebuah fragmen sejarah yang menggetarkan jiwa.
Di bawah naungan langit Festival Raudah SIS Al-Jufri 1447 Hijriah, Majelis Seni dan Budaya Al Khairaat menghidupkan kembali memori tentang kemuliaan akhlak sang ulama karismatik, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang lebih akrab di hati umat sebagai Guru Tua.
Melalui panggung opera mini yang sarat air mata dan kekaguman, ratusan pasang mata seolah ditarik melintasi lorong waktu menuju tahun 1957.
Bukan sekadar tontonan, lakon bertajuk “Keteladanan Guru Tua dan Sosok P.K. Entoh” ini adalah sebuah risalah visual tentang bagaimana Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin dipraktikkan secara nyata di Tanah Kaili.
Ketika Ilmu Menembus Sekat Perbedaan
Alkisah, pada masa itu, Perguruan Alkhairaat yang tengah mekar didera kegelisahan. Kursi pengajar Aljabar dan Bahasa Inggris kosong tak bertuan.
Di sinilah letak keajaiban hikmah sang Guru Tua. Bukannya menutup diri, beliau justru menunjukkan keluasan samudera hati yang didasari luhurnya adab Islam.
Demi memastikan santri-santrinya tidak tertinggal oleh zaman, Guru Tua mengundang P.K. Entoh, seorang pendeta Pantekosta, untuk berdiri di depan kelas Alkhairaat.
Bagi Guru Tua, ilmu adalah hikmah yang tercecer, dan ia berhak diambil oleh siapa pun demi kemaslahatan umat.
Beliau mengajarkan bahwa fanatisme sempit tidak boleh menjadi penghalang bagi tegaknya tiang peradaban pendidikan.
Pesan Langit: Alkhairaat Adalah Rumah Pengabdian
Emhansaja, aktor yang dengan apik memerankan sosok Guru Tua, menuturkan bahwa dialog antara sang Ulama dan sang Pendeta adalah manifestasi dari ketulusan tanpa batas.
“Alkhairaat bukan sekadar bangunan, ia adalah rumah pengabdian yang pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin berkhidmat untuk ilmu. Perbedaan keyakinan bukanlah tembok, melainkan jembatan untuk menjawab kebutuhan zaman,” ungkap Emhansaja dengan nada bergetar.
Lirik-lirik yang mengalun dalam pertunjukan tersebut menggambarkan Guru Tua sebagai Pelita bagi Jiwa yang Kosong.
Beliau membangun peradaban manusia bukan di atas tumpukan batu, melainkan di atas fondasi keikhlasan yang murni.
Sosoknya yang teduh dan penuh wibawa membuktikan bahwa seorang Muslim yang bertaqwa adalah mereka yang mampu membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.
Harmoni dalam Kolaborasi
Keberhasilan pementasan yang mengharu biru ini tidak lepas dari tangan dingin para seniman Majelis Seni dan Budaya Alkhairaat yang mendedikasikan karya ini sebagai kado bagi sejarah:
Sutradara: Faizal Rasyid
Pemeran Utama: Emhansaja (Guru Tua) & Andreas (P.K. Entoh)
Pemeran Murid: Sophian, Maragau, dan Wawan
Penata Musik & Dubbing: Ipang
Melalui panggung seni ini, warisan toleransi yang ditinggalkan Guru Tua seakan kembali berbisik kepada generasi hari ini: bahwa di Lembah Kaili, keberagaman adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dengan kasih sayang, sebagaimana Guru Tua memuliakan setiap manusia tanpa memandang kasta maupun agama.
NK



















