Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom,SE.,SPd.,MSE
(Direktur INKRAFINDO Karya Abadi, Dekan FEB UNISLA, Wakil Dewan Pengupahan Kabupaten Lamongan)
Lamongan, KabarOneNews.com-Dalam perjalanan panjang universitas swasta, terdapat sebuah metafora yang cukup menarik untuk menggambarkan dinamika kekuasaan, yaitu “pekatik kuda raja”. Dalam tradisi kerajaan, pekatik adalah penjaga, pengarah, sekaligus pengendali kuda yang dinaiki sang raja. Mereka menjaga agar perjalanan raja tetap mulus, aman, dan sesuai arah. Jika metafora ini kita tarik ke dunia perguruan tinggi, pekatik dapat diibaratkan sebagai para aktor strategis di balik layar yang menjaga stabilitas kekuasaan institusi, memastikan ritme organisasi tetap seimbang, serta menjamin bahwa universitas mampu bergerak selaras dengan tuntutan zaman.
Universitas swasta layaknya kerajaan modern yang hidup dari kepercayaan masyarakat, kemampuan adaptasi, dan kekuatan pengelolaannya. Tidak ada jaminan pendanaan negara yang besar seperti perguruan tinggi negeri; karena itu, semua langkah harus dihitung secara cermat. Di titik inilah pekatik memegang peran sentral. Mereka mempersiapkan jalur kekuasaan melalui empat aspek besar: politik, sosial, ekonomi, dan hukum. Bukan untuk mempertahankan kekuasaan secara elitis, tetapi untuk menjaga keberlangsungan institusi agar tetap relevan dan dipercaya masyarakat.
Dari sisi politik, pekatik memastikan bahwa seluruh kekuatan internal universitas berjalan harmonis. Politik di perguruan tinggi bukanlah urusan perebutan kekuasaan seperti dalam dunia praktis, tetapi seni menjaga keseimbangan kepentingan. Universitas akan mudah goyah jika para pemangku kepentingan yayasan, rektorat, dekanat, lembaga penjamin mutu, dan unit-unit lain tidak berada dalam satu frekuensi. Maka, pekatik perlu menjaga komunikasi, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap kebijakan memiliki dasar rasional dan dukungan kolektif. Politik akademik yang sehat melahirkan organisasi yang solid, cepat mengambil keputusan, dan mampu merespons perubahan secara tepat.
Lebih jauh, politik eksternal universitas juga harus dijaga. Universitas bukan pulau yang berdiri sendiri; ia hidup bersama pemerintah daerah, kementerian, perusahaan, industri kreatif, lembaga swasta, hingga komunitas lokal. Jika hubungan ini tidak dikelola dengan baik, universitas akan kehilangan kesempatan besar untuk berkembang. Pekatik yang bekerja di ranah politik eksternal memastikan bahwa universitas tampil sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat, bukan sekadar institusi yang hanya meminta bantuan. Komunikasi yang hangat dan elegan dengan instansi pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, adalah bagian dari strategi penting menjaga posisi universitas dalam percaturan kebijakan pendidikan dan pembangunan daerah.
Pada aspek sosial, pekatik menjaga modal sosial universitas. Modal sosial adalah kekuatan yang tidak kasat mata tetapi sangat menentukan keberlangsungan institusi. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan, hubungan yang erat dengan alumni, keterlibatan aktif mahasiswa, kerja sama dengan komunitas, serta citra positif yang dibangun melalui berbagai program sosial menjadi pondasi kokohnya sebuah universitas. Pekatik sosial memastikan bahwa universitas tidak hanya hadir sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian, kampanye literasi, pemberdayaan UMKM, kolaborasi dengan desa wisata, hingga program lainnya, universitas memperkuat posisinya sebagai pusat manfaat dan solusi.
Di dunia yang serba digital, pekatik juga harus menjaga komunikasi publik universitas. Reputasi institusi kini banyak ditentukan oleh bagaimana ia hadir di ruang digital. Publik lebih cepat menilai, lebih cepat percaya, dan juga lebih cepat kehilangan kepercayaan. Oleh karena itu, pendekatan sosial harus menekankan transparansi, kehangatan interaksi, dan konsistensi pesan. Kekuatan sosial yang terjaga akan melahirkan loyalitas mahasiswa dan publik, menjadikan universitas sebagai pilihan utama, bukan pilihan terakhir.
Di sektor ekonomi, peran pekatik menjadi semakin krusial. Universitas swasta harus memiliki daya tahan ekonomi yang baik agar tidak mudah goyah. Kestabilan ekonomi menentukan kualitas layanan, kesejahteraan dosen, kelayakan fasilitas, dan keberlanjutan program akademik. Pekatik ekonomi bertugas memastikan bahwa universitas memiliki strategi pendapatan yang beragam, efisien dalam pengelolaan anggaran, dan berani berinovasi. Pendapatan universitas tidak boleh bergantung pada satu sumber; harus ada diversifikasi melalui program pelatihan, penelitian kolaboratif, unit bisnis, hingga kerja sama industri. Sebagai direktur INKRAFINDO Karya Abadi, saya melihat langsung bagaimana kreativitas dalam mengelola usaha dapat menjadi inspirasi bagi universitas untuk membangun unit usaha yang produktif. Ekonomi yang kuat bukan hanya menunjang keberlangsungan lembaga, tetapi juga memberikan ruang bagi universitas untuk berkembang lebih jauh tanpa tekanan yang membatasi.
Sementara itu, dimensi hukum menjadi pagar pelindung jalur kekuasaan universitas. Pekatik hukum memastikan bahwa universitas berjalan sesuai aturan: mulai dari perizinan, akreditasi, tata kelola yayasan, regulasi ketenagakerjaan, hingga perlindungan hak mahasiswa dan dosen. Dalam era yang semakin kompleks, hukum tidak lagi sekadar urusan administratif. Ada banyak regulasi baru terkait teknologi, perlindungan data pribadi, hak cipta, etika penelitian, hingga tata kelola digital. Bila universitas tidak mematuhi aturan hukum, dampaknya bisa fatal: akreditasi terancam, izin operasional terganggu, hingga reputasi tercoreng. Oleh karena itu, pekatik hukum harus berperan sebagai penjaga arah, memastikan bahwa setiap langkah universitas berada dalam jalur yang aman dan legal.
Keempat aspek ini politik, sosial, ekonomi, dan hukum adalah jalur kekuasaan yang harus dijaga dengan seksama. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana pekatik menjalankan kegiatan eksternal untuk menjaga hubungan dengan eksekutif dan legislatif. Sebagai wakil dewan pengupahan kabupaten Lamongan, saya melihat secara langsung bagaimana komunikasi elegan dan data-driven membuat sebuah lembaga lebih dihargai di mata pembuat kebijakan. Universitas, dengan kapasitas keilmuannya, harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah, bukan sebagai pihak yang pasif atau menunggu perhatian. Pekatik harus mampu membawa universitas masuk dalam percakapan penting di tingkat daerah dan nasional, menyampaikan masukan, memberikan rekomendasi kebijakan, serta menjadi rujukan dalam berbagai persoalan publik.
Hubungan baik dengan eksekutif membantu universitas membuka peluang program kolaborasi, dukungan kegiatan mahasiswa, bantuan sarana, hingga kerja sama penelitian. Sementara hubungan baik dengan legislatif memberi ruang bagi universitas untuk dipertimbangkan dalam penyusunan regulasi, pembahasan anggaran, dan program strategis daerah. Semakin aktif pekatik menjaga relasi ini, semakin kuat posisi universitas dalam ekosistem pembangunan.
Pada akhirnya, pekatik tidak bekerja untuk memperkuat kekuasaan individu, tetapi untuk memastikan bahwa universitas berjalan di jalur yang benar, stabil, dan berkelanjutan. Jalur kekuasaan yang dijaga bukan untuk kepentingan struktural semata, tetapi untuk kebermanfaatan masyarakat. Universitas yang kuat secara politik, sosial, ekonomi, dan hukum akan melahirkan lulusan berkualitas, penelitian yang bermanfaat, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Seperti halnya pekatik kuda raja yang menjaga perjalanan raja tetap lurus dan aman, pekatik universitas swasta menjaga agar lembaga tetap berada di jalur kehormatan. Bila pekatik bekerja dengan integritas, ketelitian, dan visi besar, maka universitas tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi pilar peradaban dan kemajuan masyarakat.



















