PALU – kabaronenews.com – Gema sholawat awat membuncah di langit Kompleks Bukit Tursina, menyatu dengan hembusan angin di pelataran Masjid Hijau Al-Amin. Minggu (29/03/2026), menjadi saksi bisu sebuah pengabdian tanpa tepi.
Majelis Dzikir Nuurul Khairaat Pusat Kota Palu kembali membuktikan bahwa kasih sayang kepada sesama adalah inti dari dakwah yang sesungguhnya melalui gelaran Khitanan Massal gratis tahunan yang penuh haru.
Pagi itu, tepat pukul 07.30 WITA, suasana khidmat menyelimuti kerumunan. Sang pembawa risalah cinta, Habib Muhammad Sholeh Al Aydrus, memimpin doa dengan suara bergetar, memohon rida Allah SWT agar langkah kaki ratusan anak yang hadir menjadi awal bagi mereka tumbuh sebagai generasi yang saleh dan terjaga kesuciannya.
Secara simbolis, Habib Sholeh memakaikan peci putih di kepala para peserta—sebuah mahkota kesucian yang serentak dikenakan oleh ratusan anak, mengubah pemandangan menjadi hamparan putih yang menyejukkan mata.
Kegiatan yang telah istiqamah berjalan selama 26 tahun sejak 2000 ini bukanlah sekadar rutinitas medis.
Habib Himyar, Humas Majelis, mengungkapkan bahwa meski biasanya digelar pada bulan Rajab, tahun ini jadwal bergeser ke bulan Syawal.
Penundaan ini menjadi bukti nyata perjuangan sang Habib yang sebelumnya terjun langsung ke medan bencana di Semeru, Aceh, hingga Sumatera Barat demi membasuh luka sesama lewat misi kemanusiaan dan penguatan dakwah.
“Animo masyarakat tahun ini benar-benar di luar dugaan. Hati kami terenyuh melihat orang tua yang datang dari jauh membawa harapan,” ujar Habib Himyar.
Ketulusan Majelis diuji ketika kuota 300 anak yang disediakan meluap hingga 349 peserta. Namun, di sinilah akhlak berbicara.
Habib Sholeh dengan keluasan hatinya menginstruksikan agar tak satu pun anak ditolak. Baginya, setiap anak yang datang adalah tamu Allah yang harus dimuliakan.
Indahnya toleransi pun terpotret nyata; di antara ratusan peserta, terselip lima anak beragama Nasrani dari Dusun Tambaga, Donggala, yang dilayani dengan kehangatan dan kesetaraan yang sama—sebuah potret Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin.
Di balik layar, jihad kemanusiaan ini didukung oleh 50 pejuang medis di bawah koordinasi Haji Rifain, melibatkan para Medis, dokter, tenaga penunjang dan apoteker dari RSUD Anutapura serta berbagai Puskesmas dikota Palu.
Sinergi kian kokoh dengan hadirnya rombongan TNI Angkatan Laut. Danlanal Palu, Letkol Marinir M. Ali Wardhana, bersama Danposal Donggala, Lettu Laut (E) Mosis Sulis, menerjunkan tim medis tambahan untuk memastikan tak ada satu pun anak yang tidak terlayani.
Lelah berubah menjadi lillah. Meski panitia sempat kewalahan, bantuan dari Lanal Palu dan relawan Madinah 517 membuat prosesi berjalan lancar. Kegiatan sempat terjeda sejenak untuk bersujud berjamaah saat Dzuhur tiba, mengisi kembali energi spiritual sebelum akhirnya tuntas sebelum kumandang Asar.
349 anak pulang dengan senyum dan status baru sebagai mukalaf yang suci, membawa serta doa-doa yang melangit dari Bukit Tursina—sebuah oase pengabdian yang tak akan pernah kering dimakan zaman.
NK



















