PALU, kabaronenews.com – Langit Kota Palu seakan merunduk khidmat, berselimut keberkahan yang tumpah ruah saat ribuan pencinta zuriat Rasulullah memadati kawasan suci Al Khairaat.
Di bawah naungan bulan Syawal yang fitri, sebuah simfoni cinta bertajuk Festival Raudah SIS Al-Jufri 1447 H resmi dibuka pada Sabtu malam (28/03/2026).
Acara yang akan berlangsung hingga 30 Maret ini bukanlah sekadar seremoni tahunan.
Ia adalah sebuah manuskrip pengabdian spiritual, sebuah ikhtiar langit untuk merawat warisan akhlak Sang Pembawa Cahaya di Tanah Kaili, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang akrab di telinga umat sebagai Guru Tua.
Dengan mengusung tema “Spirit dan Energi Membangun Akhlak Bangsa”, festival ini menjelma menjadi oase di tengah dahaga spiritual masyarakat.
Sejak pertama kali digagas pada tahun 2010 di era kepemimpinan Hi. Rusdi Mastura, perhelatan ini telah bertransformasi menjadi agenda sakral yang disokong penuh oleh Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pariwisata.
Nadi Ekonomi di Tengah Gema Dzikir
Tak hanya membasuh jiwa, festival ini juga menghidupkan raga. Sebanyak 50 tenan UMKM yang didukung APBD Kota Palu turut berjejer rapi, menjadi simbol bahwa ekonomi umat tetap berdenyut kencang di tengah lantunan zikir yang melangit.
Ketua Panitia pelaksana menegaskan bahwa keberlanjutan acara ini adalah janji setia pemerintah untuk terus menjaga nilai-nilai religi sebagai fondasi pembangunan.
Getaran Sanubari dan Khidmatnya Doa
Suasana seketika hening saat Ketua Yayasan Alkhairaat, Khoirul Anam, naik ke podium mewakili Ketua Umum PB Alkhairaat.
Dengan nada suara yang bergetar penuh haru, beliau menyampaikan pesan yang menyentuh relung hati terdalam para jamaah.
“Kehadiran kita di sini adalah saksi bisu bahwa api cinta kepada Sang Guru tak akan pernah padam oleh zaman. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi wasilah (perantara) terlaksananya khidmah mulia ini,” tuturnya.
Ketegasan di Balik Haru
Mewakili Walikota Palu, Wakil Walikota Imelda Muhidin menyampaikan sambutan yang emosional.
Beliau menegaskan bahwa Festival Raudah adalah bagian tak terpisahkan dari peringatan Haul Guru Tua ke-58.
“Guru Tua bukan sekadar barisan nama dalam buku sejarah. Beliau adalah orang tua kita, pelita bagi jiwa yang redup, dan kompas moral bagi masyarakat Palu. Festival ini adalah penghormatan tertinggi kami terhadap leading sektor keagamaan,” tegas Imelda.
Puncak emosi massa pecah saat Imelda membakar semangat jamaah terkait status kepahlawanan sang ulama besar.
“Kami tidak akan berhenti mengetuk pintu Pemerintah Pusat. Sosok Guru Tua harus segera disahkan sebagai Pahlawan Nasional. Jasa beliau dalam mencerdaskan bangsa melalui cahaya pendidikan Islam adalah warisan abadi yang melampaui batas waktu!” seru Imelda, yang langsung disambut pekikan takbir “Allahu Akbar!” dari ribuan pengunjung.
Simfoni Budaya dan Religi
Dentuman Gimba yang dipukul bersama oleh jajaran Forkopimda dan PB Alkhairaat menjadi tanda dimulainya perjalanan spiritual ini.
Malam pembukaan semakin magis dengan penampilan Opera Mini dari Majelis Seni Budaya Alkhairaat yang mengangkat lakon keteladanan Guru Tua dan sosok P.K Entoh.
Kolaborasi musik tradisional Kakula, Gimba, dan Hadroh pun menyatu, melahirkan harmoni sholawat yang menggetarkan arsy.
Hadir dalam malam yang penuh barokah tersebut segenap jajaran PB Alkhairaat, para Habib, para pejabat lingkup Pemkot Palu, dan lingkup Pemerintah Provinsi Sulteng, Forkopimda Kapolresta Palu, hingga Camat Palu Barat dan para Lurah, tokoh agama dan ormas.
Kini, di sepanjang koridor Jalan Sis Al-Jufri, wangi dupa dan semerbak gaharu menyatu dengan kerinduan umat.
Festival Raudah bukan lagi sekadar acara, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjemput rida Ilahi melalui jejak dakwah Sang Guru yang takkan lekang oleh waktu.
NK



















