BALIKPAPAN – kabaronenews.com – Senja di Pujasera Kawasan Wisata Edukasi (KWE) Kang Bejo, Kelurahan Sumber Rejo, menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah perjalanan panjang.
Di bawah langit Balikpapan Tengah yang mulai meredup pada Rabu (18/02/2026), suasana kekeluargaan menyelimuti prosesi pembubaran Panitia Pelaksana HUT ke-129 Kota Balikpapan tingkat kecamatan.
Momen ini bukan sekadar seremoni laporan pertanggungjawaban, melainkan ruang refleksi yang diwarnai tawa, kritik tajam, hingga isak tangis yang pecah di tengah kerumunan.
Evaluasi: Antara Apresiasi dan Catatan Kritis
Acara dimulai pukul 16.00 WITA santap bersama dengan kehangatan sajian nasi rawon khas Jawa Timur dan tempe mendoan yang mengepul.
Namun, di balik suasana santai tersebut, sesi evaluasi berlangsung dinamis demi kesempurnaan di masa depan.
Lurah Karang Rejo sekaligus Plt. Lurah Sumber Rejo, Budi, S.Pd., mengapresiasi tinggi animo masyarakat yang membeludak menyaksikan acara HUT Kota Balikpapan.
Meski demikian, ia memberikan catatan kritis terkait teknis lapangan, seperti penempatan tumpeng yang sempat terpapar panas matahari dibawah panggung hingga koordinasi penyebutan nama donatur yang terlewat.
Menanggapi hal tersebut, Yethi Hirnawati yang di Plot secara spontan sebagai MC dadakan untuk acara pembubaran panitia, selaku koordinator acara, memberikan klarifikasi dengan tegar.
Ia mengakui adanya dinamika teknis yang memaksa panitia melakukan penyesuaian instan dari skenario awal.
“Ini adalah miskomunikasi dari apa yang sudah dipersiapkan saat GR (Gladi Resik)” ujarnya.
Yethi menambahkan makanya kami membuat acara potong tumpeng kedua kalinya dengan menaikan tumpeng dari Enam Kelurahan keatas panggung yang dipimpin oleh Camat.
Rekor Positif di Dunia Maya
Camat Balikpapan Tengah, Arifdah Aida Kuncoro, S.E., M.Si., memberikan testimoni yang menyejukkan dan membanggakan.
Ia menyoroti keberhasilan panitia dalam menjaga citra acara di ruang publik. Berdasarkan pantauan, hampir tidak ada sentimen negatif dari warganet di media sosial selama rangkaian acara berlangsung.
“Di era digital yang kritis, keberhasilan meredam ‘jempol pedas’ netizen adalah barometer kesuksesan koordinasi sebuah acara. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan loyalitas seluruh panitia,” ungkap Arifdah.
Puncak Emosional: Isak Tangis Sang Ketua
Suasana berubah haru saat Ketua Panitia, Yudhi Eka Putra, ST, berdiri menyampaikan laporan akhir. Sebagai sosok termuda di jajaran kepanitiaan, Yudhi tampak emosional saat menatap para senior yang telah bekerja keras melampaui batas lelah.
Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca hingga sempat terhenti sejenak.
“Jangan menangis Ketua, lanjutkan!” seru para anggota memberikan dukungan moral yang memecah keheningan.
Bagi Yudhi, perhelatan ini adalah wujud nyata slogan “Guyub Rukun” yang selaras dengan tema besar Kota Balikpapan: “Harmoni Menuju Kota Global”.
Semangat ini tercermin dari kemandirian anggaran, selain dukungan APBD sebesar Rp50 juta, panitia berhasil menghimpun swadaya donatur hingga Rp71 juta, termasuk sumbangan dari 6 LPM di Balikpapan Tengah masing-masing sebesar Rp2 juta.
“Ini adalah bukti kecintaan warga terhadap Balikpapan. Menjelang Ramadan ini, saya memohon maaf lahir batin atas segala kekurangan, dan semoga kita dipertemukan kembali pada HUT kota tahun depan,” tutur Yudhi menutup laporannya.
Acara tersebut dihadiri sekitar 30 orang yang terdiri dari anggota panitia, komunitas, anggota LPM, anggota LKM lingkup kelurahan sumber Rejo.
Tugas Mulia yang Tuntas
Prosesi pembubaran secara resmi dipimpin oleh Camat Balikpapan Tengah, didampingi Plt. Lurah Sumber Rejo dan Ketua Panitia, mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh yang hadir.
Diakhiri dengan sesi foto bersama-sama mengambil latar belakang kebun kangkung, tugas mulia bagi “Kota Beriman” ini resmi dinyatakan tuntas.
Mereka pulang dengan satu kebanggaan: telah memberikan dedikasi terbaik untuk Balikpapan Tengah.
NK


















