PALU — kabaronenews.com – Ketika dunia mulai bebal oleh angka-angka statistik kematian, seni datang sebagai sebuah jembatan rasa untuk mengetuk kembali pintu-pintu kemanusiaan yang mulai berdebu.
Esok hari, Sabtu, 11 Juli 2026, jam 19:00 WITA Gedung Kesenian Kota Palu akan menjadi saksi sebuah ikhtiar langit yang membumi.
Kolektif seni Teater Jiwa, bersanding bahu dengan lembaga kemanusiaan Adara Relief International, siap menggelar sebuah mahakarya pertunjukan keliling bertajuk “Di Balik Langit Gaza: Persistensi dr. Yumna”.
Kota Palu, dengan sejarah ketangguhannya sendiri, dipilih sebagai perhentian kedua dari takdir safar empat kota di Indonesia.
Pertunjukan ini hadir menyusul gema kesuksesan pementasan perdana yang telah menguras air mata penonton di Gedung Graha Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Minggu (5/7) silam.
Selepas menyapa publik Bumi Tadulako, produksi sarat rida dari sutradara Adipatilawe ini akan meneruskan riwayat perjalanannya menembus Jakarta hingga bermuara di Solo pada November mendatang.
Keteguhan Iman di Atas Puing Reruntuhan
Naskah monolog ini bukanlah sebatas teatrikal teatrikal biasa, ia adalah potret jernih dari sebuah istiqamah di jalan jihad kemanusiaan.
Adalah dr. Yumna, seorang Dokter perempuan, yang ruh dan raganya dihidupkan dengan begitu takzim oleh aktris Firly RJ, menjadi poros utama cerita.
Di hadapan penonton, dr. Yumna menjelma sebagai representasi nyata dari bait-bait sabar yang hidup.
Ia tegak berdiri merawat luka, justru ketika rumah sakitnya telah menjadi puing, ketika sanak saudaranya telah mendahului sebagai syuhada, dan ketika maut menari-nari di atas kepalanya lewat desing peluru yang tak kenal jeda.
Sutradara pementasan, Adipatilawe, meramu pertunjukan ini dalam balutan estetika minimalis.
Sebuah pilihan artistik yang justru melahirkan resonansi psikologis yang magis dan mendalam.
“Ini bukan sekadar panggung yang menceritakan tentang misil atau dentuman bom. Ini adalah cermin sunyi tentang manusia yang perlahan kehilangan rumah duniawinya, kehilangan pelukan hangat keluarga, bahkan rasa aman, namun pundaknya tetap sekokoh batu karang demi sebuah kepasrahan kepada Sang Pencipta,” ungkap Adipatilawe dengan nada takzim.
Mengetuk Arsy Lewat Ruang Seni
Bagi Adara Relief International, pementasan ini adalah bentuk ikhtiar kultural untuk menyalakan kembali api solidaritas yang mulai meredup.
Direktur Utama Adara Relief International, Maryam Rachmayani, menegaskan bahwa kolaborasi yang menjadi kelanjutan dari estafet Palestine Festival II pada Desember 2025 lalu ini, ingin mengajak masyarakat memandang Gaza tidak lagi sekadar angka-angka dingin di layar gawai.
“Melalui panggung teater, kita sedang diajak melintasi batas geografis untuk merasakan denyut nadi saudara-saudara kita di Gaza. Kita melihat manifestasi ayat-ayat Tuhan tentang harapan yang tak boleh mati. Tentang seorang ibu yang merelakan bayinya terbang ke surga, dan tentang para pejuang medis yang memilih menetap di neraka dunia demi menjemput rida-Nya,” tutur Maryam, puitis sekaligus menyayat hati.
Masyarakat Kota Palu diundang untuk hadir menyaksikan pementasan ini tanpa dipungut biaya sepeser pun (gratis).
Lebih dari sekadar tontonan yang menjadi tuntunan, perhelatan ini juga menyediakan ruang refleksi lewat diskusi interaktif.
Penampilan Perfomance art oleh Seniman kawakan Kota Palu, Endeng Mursalin dan pembacaan Puisi yang mengelegar oleh Emhansaja.
Di sudut gedung, akan berdiri Gerai Adara yang menjajakan berbagai buah tangan khas bumi para nabi tersebut.
Seluruh hasil perniagaan dan donasi yang terhimpun dalam majelis kemanusiaan ini, seutuhnya akan diinfakkan demi membalut luka dan menghapus air mata warga yang bertahan di tanah berkah, Gaza.
NK



















