Lamongan , KabarOneNews.com– Suasana berbeda terasa di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Lamongan (UNISLA). Tidak ada jarak kaku antara pimpinan dan dosen, tidak pula nuansa formal yang membatasi ide. Yang hadir justru diskusi hangat, obrolan santai, dan pertukaran gagasan strategis dalam kegiatan Ngobrol Santai dan Focus Group Discussion (FGD) dosen doktoral FEB UNISLA yang dipimpin langsung oleh Dekan FEB UNISLA, Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus akselerasi, mempertemukan para dosen bergelar doktor dengan pimpinan fakultas untuk menyamakan arah, memperkuat fondasi kelembagaan, dan menyusun langkah konkret pengembangan FEB UNISLA ke depan. Dalam suasana yang cair namun sarat substansi, diskusi mengalir dari isu strategis fakultas hingga penguatan kapasitas individu dosen doktoral.
Dr. H. Abid Muhtarom membuka forum dengan penekanan bahwa FEB UNISLA memasuki fase penting dalam sejarah perkembangannya. Menurutnya, bertambahnya jumlah dosen bergelar doktor bukan sekadar capaian akademik personal, tetapi merupakan modal intelektual besar yang harus dikelola secara kolektif untuk kemajuan fakultas dan universitas. Ia menegaskan bahwa forum ini bukan rapat biasa, melainkan ruang bersama untuk berpikir, menyusun, dan mengeksekusi gagasan besar FEB UNISLA.
Agenda pertama yang dibahas adalah rapat koordinasi pengembangan FEB UNISLA. Dalam diskusi ini, berbagai isu strategis mencuat, mulai dari penguatan tata kelola fakultas, penajaman roadmap akademik, hingga penyesuaian program kerja dengan dinamika kebijakan pendidikan tinggi nasional. Para dosen doktoral didorong aktif menyampaikan pandangan kritis sekaligus solutif, sehingga arah pengembangan fakultas tidak hanya top-down, tetapi lahir dari kesadaran kolektif sivitas akademika.
Diskusi berkembang ke pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi sebagai jantung aktivitas akademik FEB UNISLA. Pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat dibahas secara komprehensif dan saling terhubung. Dalam konteks pendidikan, muncul gagasan untuk memperkuat pendekatan pembelajaran berbasis riset dan kasus nyata UMKM, industri lokal, serta kebijakan publik di Lamongan dan sekitarnya. FEB UNISLA diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga adaptif dan kontekstual.
Pada aspek penelitian, para doktor baru dipandang sebagai motor penggerak peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah. Diskusi mengarah pada strategi kolaborasi riset lintas bidang, penguatan riset unggulan fakultas, hingga keberanian menembus jurnal bereputasi nasional dan internasional. Dr. Abid Muhtarom menekankan bahwa riset FEB UNISLA harus memiliki kebermanfaatan nyata, tidak berhenti pada angka sitasi, tetapi mampu memberi solusi atas persoalan ekonomi, bisnis, dan sosial masyarakat.
Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat diposisikan sebagai hilirisasi keilmuan. Para dosen doktoral didorong menjadikan hasil riset sebagai dasar program pendampingan UMKM, koperasi, desa binaan, dan komunitas ekonomi kreatif. Dalam forum ini, muncul kesepahaman bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan sarana memperkuat kehadiran FEB UNISLA di tengah masyarakat.
Topik berikutnya yang menjadi sorotan utama adalah fokus pada jabatan fungsional akademik (JAFA) dan pengembangan diri dosen doktoral. Dr. Abid Muhtarom secara terbuka mendorong para dosen doktoral untuk menata ulang peta karier akademiknya. Menurutnya, gelar doktor harus diiringi dengan perencanaan karier yang jelas, terukur, dan berkelanjutan. Forum ini menjadi ajang saling berbagi pengalaman, strategi, dan tantangan dalam proses pengajuan JAFA, mulai dari Lektor Kepala hingga Guru Besar.
Dalam suasana diskusi yang cair, berbagai persoalan teknis dan psikologis diungkapkan, dari manajemen waktu antara mengajar, meneliti, dan menulis, hingga tantangan menjaga konsistensi produktivitas akademik. Dekan FEB UNISLA menegaskan komitmen fakultas untuk mendampingi dosen doktoral, baik melalui kebijakan internal, fasilitasi pelatihan, maupun pembentukan ekosistem akademik yang saling menguatkan.
Agenda penting lainnya adalah evaluasi dan perbaikan buku panduan tesis dan skripsi FEB UNISLA. Dengan bertambahnya dosen doktoral, fakultas melihat kebutuhan mendesak untuk memperbarui panduan akademik agar lebih ilmiah, mutakhir, dan selaras dengan standar penelitian terkini. Dalam diskusi ini, para doktor baru memberikan masukan kritis terkait metodologi penelitian, pendekatan analisis data, hingga etika akademik dan integritas ilmiah.
Dr. Abid Muhtarom menegaskan bahwa pembaruan buku panduan tesis dan skripsi bukan sekadar perubahan teknis, tetapi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang kuat dan berkarakter. Mahasiswa FEB UNISLA diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi syarat kelulusan, tetapi juga layak dikembangkan menjadi artikel ilmiah atau rekomendasi kebijakan.
Sepanjang kegiatan, nuansa kebersamaan terasa kuat. Diskusi serius berpadu dengan candaan ringan, menciptakan atmosfer yang produktif sekaligus menyenangkan. Forum ini menjadi bukti bahwa budaya akademik yang sehat dapat tumbuh dari dialog terbuka, saling menghargai, dan visi bersama.
Menutup kegiatan, Dr. H. Abid Muhtarom menyampaikan harapannya agar FGD dan ngobrol santai ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi tradisi akademik FEB UNISLA. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat kolaborasi, keberanian berpikir besar, dan komitmen menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi secara utuh.
Kegiatan ini menegaskan bahwa FEB UNISLA tidak hanya bergerak membangun institusi, tetapi juga membangun manusia akademik di dalamnya. Dengan kekuatan dosen doktoral, visi kepemimpinan yang inklusif, dan budaya diskusi yang sehat, FEB UNISLA optimistis melangkah menuju fakultas yang unggul, berdaya saing, dan berdampak nyata bagi masyarakat.


















