Oleh: Dr. H. Abdul Ghofur,SE.,M.Si. (Rektor, UNISLA)
Lamongan, KabarOneNews.com-Dunia kerja selalu menghadirkan realitas yang berbeda dengan bangku perkuliahan. Di kampus, mahasiswa terbiasa bekerja mandiri, menyelesaikan tugas individu, dan memahami teori melalui pendekatan akademik. Namun di dunia kerja, ukuran kompetensi tidak hanya ditentukan oleh “seberapa pintar” seseorang menguasai teori, tetapi “seberapa mampu” seseorang bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah dalam tim. Karena itu saya selalu mengingatkan para mahasiswa dan lulusan bahwa prinsip sederhana seperti Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) sering kali menjadi kunci percepatan adaptasi di dunia kerja. Kita mengamati praktik terbaik, meniru pola keberhasilannya, lalu memodifikasi sesuai kebutuhan sehingga menghasilkan nilai yang lebih tinggi. Prinsip ATM bukan tentang meniru secara mentah, tetapi tentang belajar secara cerdas dan responsif keterampilan yang sangat dihargai dalam dunia industri.
Saat ini, kemampuan kognitif semakin dipermudah oleh hadirnya Artificial Intelligence (AI). Jika dahulu mahasiswa harus membaca berlembar-lembar jurnal untuk memahami suatu konsep, kini ringkasan, analisis, hingga contoh penerapannya dapat dihasilkan dalam hitungan detik. AI membuat proses berpikir teknis menjadi cepat dan praktis. Namun kemudahan ini sekaligus menjadi alarm bahwa kompetensi yang membedakan lulusan bukan lagi pada aspek hafalan atau ketepatan menjawab teori, tetapi pada soft skills yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Dunia industri hari ini menghadapi masalah serius terkait soft skills: banyak lulusan yang menguasai teori, tetapi kurang mampu berkomunikasi, tidak percaya diri dalam menyampaikan pendapat, kurang adaptif dalam perubahan, atau kesulitan bekerja sama dalam tim. Padahal, komunikasi, leadership, manajemen konflik, empati, integritas, dan kemampuan mengambil keputusan adalah kemampuan dasar yang justru paling dicari. Soft skills inilah yang menentukan apakah seseorang bisa berkembang atau justru tertinggal meski secara intelektual unggul. Inilah tantangan terbesar yang harus dijawab oleh dunia pendidikan tinggi.
Karena itu, kolaborasi antara universitas dan dunia industri menjadi kebutuhan utama, bukan lagi pilihan. Kampus tidak boleh terisolasi dari kebutuhan nyata dunia kerja. Begitu pula industri membutuhkan energi baru dari kampus gagasan segar, kemampuan akademik, serta kreativitas mahasiswa dan dosen dalam melahirkan solusi. Kolaborasi ini harus bergerak dari sekadar acara seremonial menuju hubungan yang strategis dan produktif. Kampus perlu mendengar kebutuhan industri, memahami jenis kompetensi yang dibutuhkan, serta menyesuaikan materi ajar agar lebih kontekstual. Sebaliknya, industri dapat menjadi laboratorium hidup tempat mahasiswa belajar, bereksperimen, dan mengembangkan karakter profesionalitasnya.
Ada tiga langkah praktis agar lulusan lebih mudah diserap industri. Pertama, pengajaran berbasis industri, yaitu menghadirkan praktisi untuk mengajar, membimbing proyek mahasiswa, atau menjadi mitra evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung tentang ritme kerja, standar profesional, hingga jenis soft skills yang harus mereka kuasai. Selain itu, model pembelajaran berbasis proyek nyata (project-based learning) mendorong mahasiswa melatih kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Kedua, lulusan harus memiliki nilai tambah agar mampu bersaing. Nilai tambah ini bukan hanya IPK tinggi, tetapi juga portofolio magang, pengalaman organisasi, kemampuan menggunakan AI secara produktif, kemampuan presentasi, sertifikasi kompetensi, serta literasi digital. Lulusan yang membawa nilai tambah seperti ini tidak hanya dicari oleh industri tetapi juga lebih cepat beradaptasi dan berkembang dalam pekerjaannya. Ketiga, bentuk kolaborasi yang sangat strategis adalah hibah antara universitas dan industri. Hibah dapat berupa dukungan alat produksi, hibah dana riset terapan, kerja sama pengembangan produk, beasiswa magang, hingga dukungan laboratorium. Hibah ini memberikan manfaat dua arah: kampus memiliki fasilitas dan pengalaman praktis yang lebih kuat, sedangkan industri mendapatkan riset dan SDM yang mendukung produktivitas dan inovasi mereka.
Pada akhirnya, tujuan utama pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan berijazah, tetapi membentuk pribadi yang luwes, kreatif, komunikatif, dan mampu memberi nilai dalam lingkungan kerja. Lulusan yang dihasilkan harus siap menghadapi dunia industri yang kompetitif, cepat berubah, dan berlapis tantangan. Kampus dan industri harus berjalan dalam harmoni, saling menguatkan untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Kita tidak hanya menyiapkan pekerja, tetapi calon pemimpin masa depan. Dengan sinergi yang kuat antara universitas dan industri, kita dapat memastikan bahwa lulusan UNISLA khususnya FEB bukan hanya siap kerja, tetapi siap bersaing dan siap berkontribusi dalam pembangunan bangsa di era AI yang penuh peluang dan tantangan.(*)

















