Lamongan, KabarOne News.com-Suasana ruang Adi Sukadana lantai 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Lamongan (Unisla) pagi itu terasa penuh makna dan semangat akademik yang mendalam. Hari itu menjadi momentum bersejarah bagi Azza Abidatin Bettaliyah, S.I.Kom., M.Med.Kom., yang tengah melaksanakan ujian disertasi terbuka tahap II dengan judul “Komunikasi Intergenerasi dalam Ruang Multikultural: Eksplorasi Harmoni Sosial melalui Praktek Budaya dan Digital.”Senin,(10/11/2025).
Disertasi ini tidak hanya menjadi bukti pencapaian akademik seorang peneliti, tetapi juga cerminan atas kepekaan sosial terhadap perubahan zaman. Dalam konteks global yang penuh tantangan dan disrupsi digital, penelitian Azza menjadi penting untuk memahami bagaimana komunikasi antar generasi bisa menjadi jembatan, bukan jurang, dalam kehidupan masyarakat yang semakin beragam secara budaya dan teknologi.
Ujian terbuka tersebut dipimpin langsung oleh Promotor: Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., seorang akademisi senior yang dikenal luas dalam kajian sosial dan pembangunan manusia. Didampingi Co-Promotor: Dr. Andria Saptyasari, S.Sos., MA., keduanya memberikan apresiasi terhadap kedalaman analisis, ketajaman metodologi, serta relevansi temuan yang disajikan dalam disertasi tersebut. Dalam paparannya, Azza dengan tenang dan penuh keyakinan menjelaskan bagaimana ruang digital saat ini menjadi arena baru bagi komunikasi lintas generasi mulai dari keluarga, komunitas, hingga ranah publik yang lebih luas.
Menurutnya, interaksi antara generasi tua dan muda tidak lagi terbatas pada ruang fisik seperti rumah atau tempat kerja. Dunia digital kini membuka kesempatan baru untuk saling belajar, berbagi nilai, dan memperkuat kohesi sosial. Namun, tanpa kesadaran budaya dan empati komunikasi, ruang digital juga bisa menjadi sumber kesalahpahaman yang memperlebar jurang antar generasi.
“Kuncinya adalah kesalingpahaman. Setiap generasi memiliki cara berpikir, berbahasa, dan menafsirkan budaya yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan harmoni di tengah perbedaan itu, baik melalui praktik budaya maupun teknologi komunikasi modern,” ujar Azza dalam pemaparannya yang disambut antusias oleh para penguji dan hadirin.
Dalam ujian terbuka tersebut, hadir pula Rektor Universitas Islam Lamongan, Dr. Abdul Ghofur, yang memberikan sambutan penuh kebanggaan. Beliau menekankan bahwa keberhasilan Azza bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika Unisla. Menurutnya, disertasi ini sejalan dengan semangat Unisla untuk menjadi kampus yang mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan intelektual dalam setiap karya akademiknya.
“Kita memasuki era di mana komunikasi menjadi kunci membangun peradaban. Penelitian Ibu Azza mengingatkan kita bahwa teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia, tetapi justru memperkuat jalinan sosial dan harmoni antar generasi. Unisla bangga memiliki peneliti-peneliti yang berpikir visioner seperti ini,” ujar Dr. Abdul Ghofur disambut tepuk tangan hadirin.
Selain para dosen dan mahasiswa FISIP, ujian disertasi ini juga dihadiri oleh sejumlah rekan sejawat dari berbagai fakultas, termasuk dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisla. Salah satu yang turut memberikan ucapan selamat adalah Dr. Abid Muhtarom, SE., MSE., yang saat ini menjabat sebagai Dekan FEB Unisla. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan rasa bangganya terhadap capaian sahabat sejawatnya itu.
“Atas nama keluarga besar FEB Unisla, saya menyampaikan selamat dan sukses untuk Ibu Azza. Semoga pencapaian akademik ini menjadi inspirasi bagi dosen dan mahasiswa Unisla lainnya untuk terus berkarya dan menebar manfaat melalui ilmu pengetahuan,” ungkap Dr. Abid Muhtarom dengan penuh kehangatan.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan seperti ini mencerminkan sinergi positif antar fakultas di Unisla dalam mengembangkan budaya akademik yang produktif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kian cepat, kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi kunci untuk menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
Disertasi Azza sendiri menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan interdisipliner dapat melahirkan gagasan yang segar dan berdampak. Dengan menggabungkan teori komunikasi, kajian budaya, dan teknologi digital, penelitian ini mengungkap cara-cara baru dalam membangun harmoni sosial di masyarakat multikultural. Di satu sisi, budaya lokal tetap dijaga sebagai identitas; di sisi lain, teknologi digital dimanfaatkan sebagai sarana memperluas jangkauan interaksi lintas generasi.
Dalam sesi tanya jawab, para penguji memberikan beragam pandangan kritis dan apresiasi. Mereka menilai bahwa temuan penelitian ini sangat relevan dengan tantangan komunikasi di era media sosial, di mana kesenjangan generasi sering kali muncul dalam bentuk perbedaan cara berpikir dan berinteraksi. Beberapa penguji bahkan menilai disertasi ini memiliki potensi kuat untuk diterbitkan dalam jurnal internasional, karena mengangkat isu global dengan perspektif lokal yang unik.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya dewan penguji dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa Azza Abidatin Bettaliyah, S.I.Kom., M.Med.Kom. dinyatakan lulus ujian disertasi terbuka tahap II dengan hasil sangat memuaskan. Keputusan ini disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin yang hadir di ruang sidang.
Momen ini bukan hanya penutup dari sebuah perjalanan akademik, melainkan juga titik awal bagi kontribusi baru dalam dunia ilmu komunikasi dan pembangunan sosial. Melalui disertasinya, Azza memberikan pesan kuat bahwa komunikasi bukan sekadar proses menyampaikan pesan, tetapi juga seni memahami dan merawat hubungan kemanusiaan dalam ruang sosial yang terus berubah.
Sebagai penutup, Azza menyampaikan rasa syukurnya kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan akademiknya. Ia mengucapkan terima kasih khusus kepada promotor dan co-promotor yang telah membimbing dengan sabar, kepada Rektor Unisla yang selalu memberikan motivasi, serta kepada seluruh keluarga besar Unisla yang menjadi rumah intelektualnya.
“Semoga penelitian ini bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat nilai-nilai harmoni sosial di tengah perbedaan generasi dan budaya. Karena sejatinya, keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan bersama dalam semangat saling memahami,” ujarnya dengan senyum haru.
Ujian disertasi terbuka Azza Abidatin Bettaliyah di FISIP Unisla menjadi simbol bahwa ilmu komunikasi terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Lebih dari sekadar gelar akademik, momen ini menegaskan peran penting dunia kampus sebagai penggerak dialog lintas generasi dan penjaga harmoni sosial di era digital yang serba cepat. Dengan semangat ini, Unisla kembali menunjukkan dirinya sebagai kampus unggulan yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga melahirkan pemikir-pemikir yang mampu menautkan nilai budaya, teknologi, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas keilmuan.(*).


















