Oleh: Rochman Arif (kaprodi akuntansi Fakultas ekonomi dan bisnis UNISLA)
Lamongan, KabarOne News.com-Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang merevolusi hampir seluruh bidang profesi, dan profesi akuntan bukan pengecualian. Di satu sisi, AI menghadirkan peluang efisiensi dan ketepatan dalam pengolahan data keuangan, audit, serta pelaporan keuangan. Namun di sisi lain, AI menantang esensi profesi akuntan itu sendiri yakni peran manusia sebagai penjaga integritas, penilai profesional, dan pengambil keputusan etis.
Salah satu tantangan terbesar adalah otomatisasi tugas rutin. Proses pencatatan transaksi, rekonsiliasi, hingga analisis rasio kini dapat dilakukan oleh sistem berbasis AI dengan kecepatan dan akurasi yang jauh melampaui kemampuan manusia. Hal ini berpotensi menggeser peran akuntan dari fungsi teknis ke fungsi strategis. Akuntan masa depan tidak lagi dinilai dari kemampuannya mengolah angka, melainkan dari kapasitasnya menginterpretasikan data, memberi insight bisnis, dan menjaga akuntabilitas dalam keputusan berbasis teknologi.
Namun, muncul pula tantangan etika dan tanggung jawab. Ketika algoritma AI melakukan kesalahan dalam analisis atau prediksi, siapa yang harus bertanggung jawab? Akuntan dituntut memiliki literasi digital dan etika teknologi, agar dapat mengawasi serta memvalidasi hasil kerja sistem. Tanpa pemahaman mendalam tentang bagaimana AI beroperasi, akuntan berisiko menjadi sekadar operator, bukan lagi pengendali proses akuntansi.
Selain itu, pendidikan akuntansi juga menghadapi ujian. Kurikulum yang masih berfokus pada bookkeeping konvensional tidak lagi relevan. Perguruan tinggi harus menanamkan kemampuan data analytics, pemrograman dasar, dan pemikiran kritis agar lulusan akuntansi siap menghadapi disrupsi digital. Profesi akuntan harus berevolusi dari sekadar number cruncher menjadi strategic advisor yang mampu menjembatani teknologi dan nilai-nilai etis bisnis.
Pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan akuntan yang mampu beradaptasi tetapi akuntan yang tidak mampu beradaptasi akan tergantikan oleh AI. Oleh karena itu, tantangan utama profesi ini bukanlah melawan AI, melainkan berkolaborasi dengannya secara cerdas dan bertanggung jawab.

















