PALU – kabarOnenews.com – Ratusan penonton memadati Gedung Kesenian Kota Palu pada Sabtu malam (11/7/2026) untuk menyaksikan pementasan monolog bertajuk “Di Balik Langit Gaza: Persistensi dr. Yumna”.
Pertunjukan seni yang sarat dengan pesan kemanusiaan ini merupakan hasil kolaborasi antara Teater Jiwa dan Adara Relief International, bekerja sama dengan sejumlah komunitas seni lokal di Kota Palu.
Pementasan ini bertujuan untuk menyuarakan perjuangan warga Palestina, khususnya para tenaga medis perempuan, sekaligus menggalang dana bantuan kemanusiaan.
Kota Palu menjadi titik kedua dari rangkaian tur empat kota di Indonesia, setelah sebelumnya sukses digelar di Surabaya, Jawa Timur.
Rangkaian tur ini nantinya akan berlanjut ke Jakarta Barat dan Solo, Jawa Tengah.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Rahman Ansari, yang hadir mewakili Gubernur Sulawesi Tengah.
Dalam sambutannya, Rahman mengapresiasi para pekerja seni di Bumi Tadulako yang dinilai mampu memanfaatkan panggung seni sebagai media penggerak sosial yang berdampak luas bagi kemanusiaan.
Direktur Adara Relief International, Maryam Rachmayani, menjelaskan bahwa tokoh dr. Yumna yang diangkat dalam monolog ini merupakan representasi nyata dari ribuan tenaga medis di Gaza.
Menurutnya, mereka tetap memilih bertahan merawat kehidupan di tengah keterbatasan fasilitas medis dan reruntuhan bangunan akibat konflik.
Maryam menegaskan bahwa melalui seni, batasan geografis dapat dijembatani untuk menghubungkan empati masyarakat Palu dengan warga di Gaza.
Pertunjukan utama menampilkan aktris Firly R.J yang membawakan karakter dr. Yumna di bawah arahan sutradara Adipatilawe.
Alih-alih mengeksploitasi visual kekerasan secara vulgar, sutradara memilih pendekatan emosional yang mendalam.
Fokus pementasan terletak pada konflik batin dan keteguhan seorang tenaga medis perempuan yang bertahan di garis depan pertempuran.
Rangkaian ekspresi tubuh dan vokal yang dibawakan berhasil membawa penonton menyelami atmosfer psikologis warga Gaza.
Sebelum monolog dimulai, acara diawali dengan penampilan teatrikal luar ruangan oleh Karang Taruna Teater lokal setelah ibadah shalat Isya.
Di dalam gedung, suasana diperkuat dengan pembacaan puisi bertema Palestina oleh Abu Sultan dan Alya Tsurayya, serta kolaborasi lintas disiplin “Seni dan Rupa” oleh sastrawan Emhansaja dan seniman rupa Endeng Mursalin yang menghasilkan sebuah karya lukis di atas panggung.
Selain sebagai media ekspresi seni, acara ini juga diisi dengan diskusi interaktif dan aksi solidaritas nyata berupa penggalangan dana melalui lelang barang-barang khas Palestina.
Seluruh donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan hidup warga yang bertahan di tanah konflik.
Keberhasilan penyelenggaraan acara ini didukung penuh oleh gotong royong kolektif berbagai lembaga dan komunitas lokal di Kota Palu, termasuk MS Radio, Dewan Kesenian Rakyat (DKR), Seni Lobo, dan Lembaga Seni Budaya Bantaya (LSBB).
NK



















