NUSANTARA – kabaronenews.com – Di tengah riuh rekonstruksi fisik Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah manifesto estetika sedang dideklarasikan.
Cadio Art Studio hadir bukan sekadar sebagai partisipan visual, melainkan sebagai katalisator yang mengintervensi ruang publik demi menghidupkan ekosistem seni rupa yang sempat sunyi di tanah masa depan ini.
Melalui strategi penetrasi kultural yang masif, studio seni monumen ini membelah energinya ke dalam dua palung kreativitas sekaligus, mengokohkan eksistensi mereka mulai 27 Mei hingga 1 Juni 2026.
Eksperimentasi Ruang: Dialektika Kreatif di Sentra Massa
Lokasi pertama, yang mengokupasi Sentra Massa/Visitor Area, menjelma menjadi sebuah laboratorium estetika bertajuk “Ruang Kreasi”.
Ritus seni ini diinisiasi oleh Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif di bawah Kedeputian Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN (OIKN).
Di sini, seni rupa tidak diposisikan sebagai benda mati yang berjarak, melainkan sebuah entitas yang hidup dan berdialog dengan audiensnya.Dinding-dinding stan dipadati oleh kurasi karya orisinal yang sarat akan semiotika filosofis pembangunan IKN.
Barisan perupa lintas generasi—Ariyadi (Cadio Tarompo), Marty, Alodian Vandora Tarompo, Tory Tofoji Tarompo, dan Iffah Hanifah Tarompo—menampilkan distingsi visual yang kuat.
Mereka meruntuhkan sekat eksklusivitas seni lewat demonstrasi proses kreatif langsung (live act creation) menggunakan medium sketchbox dan sketsa wajah.
Keberagaman material—mulai dari goresan pensil yang rapuh namun presisi, transparansi cat air, ketegasan spidol, hingga intimasi pena gambar—menjadi bukti kepiawaian teknis yang diadopsi dari disiplin seni akademis.
Dimensi seni rupa terapan turut menguat lewat kehadiran Maya Damayanti, yang mengeksplorasi tubuh manusia sebagai kanvas organik melalui seni gambar temporer pada kulit.
Tidak sekadar memamerkan keterampilan, tim Cadio Art Studio mengambil peran edukatif secara metodologis, mentransfer pengetahuan teknik dasar sketsa dan melukis secara interaktif kepada publik yang dahaga akan stimulasi visual.
Kompleksitas stan ini kian kaya berkat peleburan interdisipliner.
“Ruang Kreasi” menjelma menjadi sebuah peristiwa budaya total (total art event) yang mengintegrasikan permainan rakyat, resonansi mistis musik Sape, ritme tarian tradisional, pameran produk kriya lokal, hingga lokakarya kontemporer seperti teknik ecoprint, seni merajut, dan analisis warna personal (personal color analysis).
Nilai edukasi finansial pun berkelindan lewat sesi interaktif dari Bank Indonesia IKN.
Kehadiran Drs. H. Alimuddin, M.Si. (Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN) bersama Dr. Muhsin Palinrungi, S.S., M.S. (Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif) pada hari pertama, menegaskan validasi struktural atas gerakan ini.
Sebuah diskursus strategis lahir dari pertemuan tersebut: sebuah rancangan besar (grand design) untuk menggelar perhelatan seni lukis monumental yang diplot sebagai puncak selebrasi estetika pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia mendatang di IKN.
Situs Kedua: Transendensi dan Lokalitas di Nusantara Park
Bergerak ke radius ruang yang berbeda, Cadio Art Studio mengeksplorasi jangkar kulturalnya di Nusantara Park atas undangan Creative Event Entertainment.
Jika lokasi pertama bersifat eksperimental-kontemporer, maka situs kedua ini adalah ruang transendensi spiritualitas dan kearifan lokal.
Di bawah asuhan para perupa andal—Cadio Tarompo, Marty, Aji Pranyoto, Alodia Vandora Tarompo, Tory Tofoji Tarompo, dan Iffah Hanifah Tarompo—dinding pameran Nusantara Park dipenuhi oleh lukisan kaligrafi yang magis dan representasi visual kearifan lokal yang mendalam.
Aktivitas performatif seperti sketchbox, sketsa langsung, dan guratan ornamen tubuh oleh Maya Damayanti tetap dipertahankan sebagai benang merah interaksi subjek-objek seni.
Suasana kontemplatif pameran dilebur secara apik dengan lanskap auditori lewat penampilan musik akustik dari Bambang Sugianto (Bang Bento) dan David Wulandhani pada 27–28 Mei.
Perjumpaan estetis ini ditutup dengan bazar kuliner yang menyajikan harmoni rasa tradisional dan modern. Pertemuan antara seni tinggi (high art) dan budaya pop-kuliner ini berhasil meruntuhkan dinding menara gading, menjadikan seni rupa sebagai bagian organik dari denyut nadi masyarakat di Ibu Kota Nusantara.
NK



















