Bangka, Kabar One News. Com – Proyek pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi, yang salah satu lokasi pekerjaannya ada di Desa Paya Benua Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, Propinsi Babel yang dikerjakan tahun 2025 lalu menuai sorotan publik.
Berdasarkan pantauan, proyek ini diduga dikerjakan asal jadi. Dan untuk jaringan irigasi di Desa Paya Benua, jenis pekerjaan yang dikerjakan berupa mengganti 2 unit daun pintu saluran dan pengecatan 1 unit daun pintu saluran yang lama.
Kemudian ada pekerjaan perbaikan beton saluran irigasi dengan jenis pekerjaan yang telah dikerjakan berupa pemelesteran pada bagian tertentu dari rangkaian saluran beton tersebut pada titik yang memang perlu diperbaiki.
Hasil pekerjaan rehab plesteran terlihat kurang maksimal dan nampak asal-asalan, diperkirakan hanya saat awal pekerjaan saja yang terlihat mulus betonnya. Namun setelah beberapa bulan kemudian plesteran tersebut telah retak kembali, bahkan ada retak bercelah cukup besar dan celahnya ditumbuh rerumputan dengan keadaan retak memanjang dari pondasi keatas saluran.
Kondisi rehab plesteran yang kembali retak tersebut memunculkan pertanyaan terkait kekuatan plesteran apakah sudah sesuai dengan komposisi campuran maupun mutu yang tertera dalam.speksifikasinya, atau justru sebaliknya.
Ironisnya, pekerjaan rehab jaringan irigasi di Desa Paya Benua yang memakan uang Negara sangat besar ini dengan manfaat yang boleh dikatakan tidak ada sama sekali, dengan mengabaikan bagian pekerjaan yang seharusnya dikerjakan perbaikannya.
Seperti terlihat rangkaian saluran beton yang hampir roboh, ternyata tidak diperbaiki sama sekali. Terlihat sepanjang sekitar 2 meteran saluran tersebut, dari sisi atas belakang hingga kebawah arah pondasi masiih berongga yang apabila dibiarkan berterusan, dipastikan bisa ambruk tidak kuat menahan gerusan terutama air hujan.
Dan terkait penggantian daun pintu air sebanyak 2 unit, dengan 1 unit lagi hanya dilakukan pengecatan ulang daun pintu yang lama. Untuk 1 unit daun pintu air yang dicat ulang tersebut, pengecatannya nampak hanya pada sisi atas, dengan sisi bawah terlihat sudah mulai berkarat kembali.
Sementara untuk penggantian salah satu daun pintu air dari 2 unit yang diganti, ternyata daun pintu yang lama tidak dibongkar dan dibiarkan teronggok pada posisi lamanya. Hal ini membuat aliran air tertahan, sementara pemasangan daun pintu yang baru pada posisi disebelah daun pintu lama.
Kenyataan ini membuat daun pintu yang baru tidak ada kegunaan sama sekali walaupun memang bisa disetel naik turun. Tidak bergunanya daun pintu ini karena aliran air tertahan oleh daun pintu lama yang tidak dibongkar tersebut.
Seorang warga yang berhasil ditemui sebelumnya, yaitu Pendi bersama rekannya membenarkan hal tersebut.
“Pintu air yang baru ini tidak berguna karena tidak bisa mengatur aliran air. Hal ini karena daun pintu yang lama dan tertanam dibeton tidak dibongkar. Oleh karena daun pintu lama tersebut macet, otomatis menahan aliran air. “Ujarnya.
Warga tersebut juga mempertanyakan manfaat proyek ini, sebab disekitaran area proyek tidak ada lagi kegiatan penanaman padi ataupun persawahan.
“Disini tidak ada lagi aktifitas penanaman padi. Sekitar 10 tahun yang lalu memang ada aktifitas persawahan, tetapi kini terhenti sama sekalinya. “Katanya.
Dilanjutkan, aktifitas yang dilakukan masyarakat dilokasi tersebut hanya berupa penanaman sayur-sayuran saja.
“Paling sekarang adalah petani yang mengusahakan kawasan ini untuk menanam sayuran seperti timun dan cabe. “Jelasnya.
Pihak warga juga mempertanyakan urgensi dari diadakannya proyek yang memakan anggaran cukup besar tersebut yang mereka nilai mubazir.
“Tampaknya proyek ini hanya memubazirkan uang Negara saja tanpa manfaat yang jelas, “ungkap mereka.
Dibagian hilir dari jaringan irigasi yang direhab tersebut hanya terlihat hamparan semak belukar. Saat ditelusuri mengikuti jalanan kebun yang ada, terlihat hanya segelintir warga memanfaatkan lahan untuk menanam aneka sayuran, dan ada juga yang mengusahakan lahan untuk beternak sapi. Tidak nampak sama sekali areal yang ditanami padi.
Pihak PPK Proyek dari Balai Wilayah Sungai Propinsi Babel yaitu Bernard telah berusaha dihubungi melalui Pesan WA dengan nomor yang tersedia pada Rabu (22/7/2026). Pesan terlihat contreng dua, namun hingga berita ini tayang (23/7/2026) belum ada respon.
Sebelumnya di plang informasi proyek yang berupa spanduk yang digantung dipohon besar tertera jika proyek ini berupa Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I/D.I.R Kewenangan Daerah Propinsi Babel. Proyek berada dibawah Kementerian PU Dirjen Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka belitung SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Babel.
Lokasi pekerjaan D. I. R Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Selatan. Nilai Kontrak Rp 14,1 milyar, dengan Sumber Dana APBN 2025. Untuk tanggal dan nomor kontrak : HK. 02.01./08/IKD-Babel/Bws 23.7.1/2025 dan 24 Juni 2025, dengan jangka waktu pelaksanaan 90 hari Kalender, serta masa pemeliharan 90 hari. Dengan Kontraktor PT Brantas Abipraya.
Dan sesuai prinsip keberimbangan dalam Kode Etik Jurnalistik, sebagaimana tertera dalam UU Pers nomor 40 tahun 1999, Media memberikan ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada seluruh pihak terkait yang disebutkan dalam berita, agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. (Har)



















