SULAWESI TENGAH ,kabaronenews.com – Matahari di langit Sulawesi Tengah hari itu tidak sekadar bersinar, ia seolah menjadi saksi bisu atas sebuah perjalanan yang melampaui sekadar kunjungan kerja.
Ini adalah sebuah perjalanan cinta, sebuah ittiba’ terhadap perintah Allah untuk menyambung tali asih di tanah yang pernah diguncang hebat oleh takdir-Nya.
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Pusat, melakukan napak tilas kemanusiaan yang mendalam.
Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa Dana Abadi Umat (DAU) tidak hanya menjadi angka di atas kertas, melainkan menjadi “darah” yang mengalir menghidupkan kembali nadi ekonomi dan spiritualitas warga.
Ziarah di Atas Tanah yang Pernah Terbelah: Tadabbur Alam dan Takdir
Perjalanan dimulai dengan keheningan yang menyesakkan dada namun penuh khidmat.
Rombongan yang dipimpin langsung oleh Habib Muhammad Sholeh bin Abu Bakar Al-Aydrus, dengan pengawalan setia dari laskar PEMAL (Pengawal Majelis), mendampingi rombongan Kepala BPKH, Dr. Sulistyowati, M.E., CFP. (Hj. Lilis), serta CEO Rumah Zakat, H. Irvan Nugraha.
Mereka menyisir Balaroa, tempat di mana bumi pernah “menelan” kehidupan dalam sekejap melalui likuefaksi, lalu melintasi jejak banjir bandang di Desa Bangga.
Di hadapan reruntuhan, rombongan tertegun seraya sang Habib memimpin doa mengirimkan nya kepada arwah yang menjadi korban.
Di sinilah ayat Allah dalam QS. Ar-Rum: 41 terasa nyata, bahwa kerusakan di bumi adalah ujian agar manusia kembali ke jalan-Nya.
“Kehancuran ini bukanlah akhir, melainkan pengingat bahwa di atas puing-puing kesombongan manusia, hanya pertolongan Allah yang kekal,” bisik sanubari para peziarah.
Labuhan Berkah di Masjid Quba: Menanam Akar di Kampung Haji
Langkah kemudian tertuju pada Kampung Haji (Kampung BPKH) di Desa Sibalaya.
Kehadiran rombongan disambut hangat di Masjid Quba, jantung spiritual para penyintas yang kini menghuni Hunian Tetap (Huntap).
Masjid ini berdiri kokoh layaknya Masjid Quba di zaman Rasulullah—simbol keteguhan iman di masa awal hijrah.
Di tempat ini, Hj. Lilis menyerahkan bantuan strategis berupa Pembangunan Rumah Pembibitan dan 3.000 bibit tanaman Kakao.
“Uang yang kami kelola adalah Dana Abadi Umat. Ini adalah titipan dari mereka yang rindu Baitullah. Hari ini, kami kembalikan dalam bentuk bibit-bibit harapan. Kami ingin ekonomi Sibalaya tumbuh sekuat akar kakao ini, menghujam bumi dan menjulang ke langit,” tutur Hj. Lilis dengan suara bergetar penuh ketulusan.
Hal ini senada dengan firman Allah: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261).
Kampung Haji di Desa Sibalaya sendiri merupakan hunian tetap (huntap) terintegrasi yang dibangun atas kolaborasi BPKH, Rumah Zakat dan Majelis Dzikir Nuurul Khairaat sejak tahun 2019 bagi penyintas gempa dan likuefaksi.
Selain hunian ramah gempa, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti Masjid, Taman Ornamen Haji, dan pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Habib Sholeh kemudian mengangkat tangan, memimpin doa yang menggetarkan arsy, memohon agar bantuan ini menjadi pembuka pintu-pintu rezeki yang thayyib bagi seluruh warga.
Puncak Syiar: Mercusuar Iman di Atas Awan Doda 2
Setelah urusan kemaslahatan di lembah usai, rombongan mendaki menuju ketinggian Desa Doda 2.
Di sana, berdiri megah Masjid Nuurul Amiin, sebuah mahakarya hasil ikhtiar tanpa lelah dari Majelis Dzikir Nuurul Khairaat.
Warga menyambut dengan binar mata yang tak mampu menyembunyikan rasa syukur. Mereka mengisahkan syahdunya shalat Jumat perdana bersama Habib Sholeh pekan lalu—sebuah momentum yang seolah membasuh luka masa lalu.
Dari ketinggian ini, Masjid Nuurul Amiin tampak seperti mercusuar iman yang menatap panorama Kota Palu yang mulai bersinar kembali.
Petuah Bijak dari Ketinggian Bantaya
Kunjungan berakhir di Bantaya, Desa Doda. Di tempat yang lebih terbuka, mata rombongan dimanjakan dengan hamparan lembah Palu yang luas.
Sambil berdialog hangat dengan para mustahik yang kini mulai berdikari di bawah bimbingan Habib Sholeh, suasana terasa begitu syahdu, rombongan BPKH sangat terpukau dengan panorama alam terutama kepala BPKH yang perdana kunjungan ke Sulawesi Tengah.
Sebuah petuah bijak dari Sang Murobbi, Habib Sholeh, menjadi penutup yang menghujam jantung:
“Anak-anakku, jangan pernah melihat bantuan ini sebagai sekadar materi. Lihatlah ia sebagai tali ukhuwah.
Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.’
Tugas kita bukan hanya membangun gedung, tapi membangun kembali harapan yang sempat patah. Biarlah dunia melihat bahwa dari bekas luka bencana, tumbuh peradaban yang lebih mulia karena pondasinya adalah iman.
“Perjalanan dari “lembah luka” Balaroa menuju “puncak spiritual” Doda 2 menegaskan satu pesan kuat: BPKH dan para pejuang kemanusiaan ini sedang tidak hanya menyalurkan dana, mereka sedang menjahit kembali kepingan-kepingan harapan umat, memastikan bahwa setiap rupiah menjadi saksi pembela di akhirat kelak.
NK



















