kabaronenews
No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata
No Result
Lihat semua
kabaronenews
Home Opini

Menambang Emas Tanpa Cangkul: Harta Karun Bernama Pasar Modal Indonesia

redaksi kabaronenews oleh redaksi kabaronenews
11 bulan yang lalu
Menambang Emas Tanpa Cangkul: Harta Karun Bernama Pasar Modal Indonesia
93
VIEWS

Oleh: Dr. Agung Hirmantono, SE., M.Ak. (Dosen Akuntansi FEB UNISLA)

Lamongan, KabarOne News.com-Kalau dulu orang berburu harta karun harus menyelam ke dasar laut, membawa peta tua dan kompas berkarat, kini harta karun itu sudah pindah tempat bukan di bawah ombak biru, tapi di layar ponsel Anda. Namanya Pasar Modal Indonesia. Di sanalah uang mengalir setiap hari hingga triliunan rupiah, berpindah tangan antara investor, emiten, dan perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berita‎ Terkait

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Bayangkan, lebih dari 900 perusahaan terbuka (Tbk) yang bergerak di berbagai sektor—dari energi, pangan, hingga teknologi saling berlomba mencari modal dan kepercayaan publik. Sementara itu, jutaan investor dari seluruh pelosok negeri menambang peluang keuntungan. Maka, kalau Anda masih hanya menyimpan uang di celengan ayam atau deposito yang bunganya tak seberapa, percayalah: Anda sedang menonton pesta ekonomi besar dari luar pagar.

Indonesia kini sedang menikmati masa emas perkembangan pasar modal. Hingga Oktober 2025, jumlah investor pasar modal telah menembus 19 juta orang angka fantastis yang beberapa tahun lalu mungkin terasa mustahil. Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Bonus demografi, kemajuan teknologi finansial, dan meningkatnya literasi keuangan membuat masyarakat, khususnya anak muda, lebih berani dan melek investasi. Generasi yang dulu hanya mengenal “menabung pangkal kaya” kini telah berevolusi menjadi “berinvestasi pangkal cuan.”

Kinerja pasar pun tidak main-main. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak delapan kali hanya dalam bulan Oktober 2025! Total nilai penawaran umum (termasuk IPO) mencapai Rp142,62 triliun hingga pertengahan tahun. Nilai transaksi harian juga tetap tinggi, menandakan likuiditas pasar yang sehat dan gairah investor yang tak surut meski dunia dilanda ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Namun, seperti pepatah “di mana ada gula di situ ada semut”, pasar modal bukan tanpa risiko. Fluktuasi harga, spekulasi berlebihan, dan faktor global bisa membuat harga saham naik-turun secepat status media sosial. Tapi bukankah setiap peluang besar selalu datang bersama risiko besar pula? Justru di situlah letak seninya: memahami bahwa berinvestasi bukan sekadar mengejar profit cepat, tapi juga belajar membaca arah ekonomi, mengendalikan emosi, dan membangun mental finansial yang matang.

Yang menarik, wajah pasar modal kini berubah drastis. Kalau dulu investor identik dengan jas rapi, dasi, dan grafik di monitor besar, kini investor bisa seorang mahasiswa, karyawan muda, atau bahkan ibu rumah tangga yang aktif di media sosial. Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per April 2025, dari lebih dari 16 juta investor individu, sekitar 54% adalah anak muda berusia 30 tahun ke bawah—generasi Z dan Alfa. Meski nilai aset mereka “baru” sekitar Rp40 triliun, secara jumlah mereka sudah menyaingi total investor senior usia di atas 31 tahun.

Generasi muda ini datang dengan gaya baru: mereka tidak hanya rasional, tapi juga emosional dan sosial. Mereka membeli saham bukan hanya karena laporan keuangan bagus, tapi juga karena faktor tren, komunitas, bahkan isu lingkungan. Fenomena FOMO (fear of missing out) dan YOLO (you only live once) menjadi warna tersendiri dalam perilaku investasi mereka. Ada yang ingin cepat kaya, ada yang sekadar ikut tren teman, tapi ada juga yang benar-benar belajar memahami strategi jangka panjang.

Tantangan kita, terutama sebagai akademisi dan pendidik di dunia keuangan, adalah bagaimana mengarahkan energi besar ini menjadi kekuatan ekonomi yang sehat dan produktif. Karena pasar modal bukan tempat berjudi, melainkan tempat menanam nilai jangka panjang. Butuh edukasi, kesabaran, dan mindset yang benar. Pemerintah sendiri sudah aktif memperluas literasi keuangan melalui program inklusi keuangan, kampanye “Yuk Nabung Saham”, hingga kerja sama dengan kampus-kampus. FEB UNISLA termasuk yang siap menjadi bagian dari upaya ini, mendorong mahasiswa agar tak hanya paham teori akuntansi, tetapi juga melek investasi dan paham bagaimana uang bekerja di dunia nyata.

Banyak yang belum sadar bahwa pasar modal adalah urat nadi perekonomian modern. Di sanalah perusahaan mencari modal untuk ekspansi, menciptakan lapangan kerja, dan menumbuhkan produk domestik bruto (PDB). Saat kita membeli saham, sejatinya kita sedang ikut membiayai pertumbuhan ekonomi bangsa. Jadi, menjadi investor bukan hanya soal mencari keuntungan pribadi, tapi juga bentuk partisipasi ekonomi yang patriotik.

Selain itu, potensi pengembangan pasar modal juga masih luas, terutama di luar Pulau Jawa. Data menunjukkan, aset dan jumlah investor di daerah-daerah mulai menunjukkan tren peningkatan. Artinya, kesadaran berinvestasi mulai merata dan tak lagi monopoli kota besar. Jika tren ini terus didorong, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi kekuatan investasi domestik terbesar di Asia Tenggara.

Namun, tentu saja pasar modal juga menghadapi tekanan dari faktor eksternal. Ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, perubahan iklim, hingga gejolak geopolitik bisa mengguncang indeks dalam sekejap. Tapi di sisi lain, setiap krisis selalu membawa peluang baru. Investor cerdas tahu kapan harus menahan, kapan harus menyerang. Dan di era digital seperti sekarang, informasi dan analisis tersedia di ujung jari tinggal bagaimana kita menggunakannya dengan bijak.

Maka, pesan sederhana saya: jangan takut memulai. Mulailah dari yang kecil, dengan ilmu yang cukup. Tidak perlu menunggu kaya untuk berinvestasi; justru investasi adalah cara menuju kekayaan. Yang penting, jangan asal ikut tren tanpa paham risiko. Karena pasar modal tidak mengenal kata “beruntung selamanya” ia mengenal kata “disiplin” dan “strategi”.

Pasar modal Indonesia ibarat tambang emas terbuka siapa pun bisa menambang asal tahu cara menggali. Dan menariknya, tidak perlu keringat bercucuran atau cangkul di tangan. Cukup pengetahuan, keberanian, dan smartphone di genggaman.

Jadi, jangan hanya menjadi penonton di pinggir lapangan. Saat triliunan rupiah berputar setiap hari di pasar modal, bukankah rugi kalau kita hanya menatap layar tanpa ikut ambil bagian?

Mari menambang emas di dunia finansial modern ini, bukan dengan sekop dan tambang, tapi dengan literasi dan strategi. Karena di era digital ini, mereka yang paham uang tidak bekerja untuk uang melainkan membuat uang bekerja untuk mereka.

Itulah harta karun sejati Indonesia hari ini: Pasar Modal.
Dan siapa pun yang mau belajar menggali, akan menemukan emasnya sendiri.

SendShareTweet

Related‎ Posts

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji
Opini

Di Lemah Pemilihan Anggota BPD di Lamongan: Ketika Demokrasi Desa Diuji

Agustus 25, 2026
80
Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif
Opini

Membangun Sinergitas Kesbangpol, LSM, dan Media Demi Lamongan yang Kondusif

Agustus 1, 2026
60
Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan
Opini

Pencurian Rp100.000 Berujung Ancaman Pidana Berat: Analisis Kritis Pasal Pencurian dengan Pemberatan

Juli 22, 2026
16
KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN
Opini

KDMP: SAAT KURIKULUM MENGKHIANATI TUJUAN

Juni 29, 2026
21
Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM
Opini

Traffic sebagai Nafas Baru Pemasaran UMKM

Maret 8, 2026
38
Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan
Opini

Cabai Turun, Stabilitas Menguat: Membaca Arah Inflasi Daerah dan Dampaknya bagi UMKM Lamongan

Maret 2, 2026
45
MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
Opini

MBG Sebagai Lokomotif Ekonomi Rakyat: Spillover Effect bagi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

Maret 1, 2026
45
Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri
Opini

Alumni Program Studi Akuntansi FEB UNISLA Diterima dalam Program MBG: Bukti Nyata Kualitas dan Integritas Lulusan untuk Negeri

Februari 24, 2026
53
Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart
Opini

Rekayasa Struktur Ekonomi Desa dengan Model Input–Output: Koperasi Merah Putih, UMKM, dan Konsekuensi Penghapusan (ritel modern) Indomaret–Alfamart

Februari 20, 2026
57
Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026
Opini

Ketika Pekerjaan Formal Tak Menjamin Sejahtera, UMKM Menjadi Jalan Rakyat di Momentum Ramadhan 2026

Februari 17, 2026
97

Media Siber :

Info Publik:

Kolom Ucapan :

Rekomendasi‎ Berita

Gema Takbir di Klandasan: Wali Kota Rahmad Mas’ud Tutup Ramadhan Vaganza 129, Janjikan Syiar yang Lebih Megah Menuju Madinatul Iman

Gema Takbir di Klandasan: Wali Kota Rahmad Mas’ud Tutup Ramadhan Vaganza 129, Janjikan Syiar yang Lebih Megah Menuju Madinatul Iman

7 bulan yang lalu
44
Aktivasi dan Otorisasi Akun Coretax di UNISLA, Langkah Nyata Menuju Layanan Pajak Digital yang Modern dan Terintegrasi

Aktivasi dan Otorisasi Akun Coretax di UNISLA, Langkah Nyata Menuju Layanan Pajak Digital yang Modern dan Terintegrasi

9 bulan yang lalu
46
CEO Sutra Tour Lamongan Rutin Gelar Santunan Anak Yatim dan Fakir Miskin

CEO Sutra Tour Lamongan Rutin Gelar Santunan Anak Yatim dan Fakir Miskin

2 minggu yang lalu
47

Advertorial Idul Fitri :

Advertorial :

Berita‎ Populer

  • PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    PN Jakut Tangguhkan Penahanan Rosmawati Gunawan Penipu 2.8 M, Tidak Memberikan Rasa Keadilan Terhadap Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUGAAN PENYALAHGUNAAN DANA BUMDES KETAHAN PANGAN RP158 JUTA DI DESA KEBUNAGUNG Sapi Beli 5 Ekor Tinggal 1, Pembangunan Kandang Tak Terealisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Serbu Waduk Gondang! Vespa Party 2 Bagi 500 Pecel Lele Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JPU Tuntut 4 Tahun Penjara Pelaku Importasi HP Ilegal, Berpotensi Melarikan Diri Sebelum Vonis Dibacakan Hakim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakim PN Jakut Diduga Langgar Kode Etik Membiarkan Terdakwa Bebas Demi Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Member Of :

kabaronenews

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA

Navigate Site

  • Kebijakan Privasi
  • Jasa Publikasi
  • Kode etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi KabaroneNews.com
  • Info Lainnya

Follow Us

No Result
Lihat semua
  • Beranda
  • News
    • Daerah
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Nasional
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hankam
  • Opini
  • Hukum
  • Lipsus
  • Politik
  • Ragam
  • Wisata

Copyright 2016 © PT. KABAR MEDIA INDONESIA