PALU — kabaronenews.com – Gemuruh sholawat dan isak tangis haru memecah keheningan Bumi Tadulako saat rombongan Majelis Dzikir Nuurul Khairaat Pusat Kota Palu resmi diberangkatkan menuju Kota Gresik, Jawa Timur, pada Sabtu (30/5/2026).
Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah rihlah ruhani suci demi menghadiri Haul Akbar kekasih Allah, Al-Imam Al-Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf.
Perjalanan ini menjadi bukti nyata atas sabda Rasulullah SAW: “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Langkah kaki para pemburu keberkahan yang terdiri dari 35 jemaah pria, wanita, dan anak-anak ini bermula dari pelataran Masjid Hijau Al Amin, Kompleks Bukit Tursina, Kelurahan Kabonena Kecamatan Ulujadi.
Nama “Tursina” seolah menggenapi atmosfer spiritual hari itu, mengingatkan kita pada tempat sakral di mana mukjizat dan wahyu diturunkan.
Tepat pukul 09.30 WITA, dilingkupi doa dari keluarga yang melepas, rombongan bergerak menuju Kompleks Pemakaman Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al Jufri), sang pembawa pelita Islam di tanah Kaili.
Ziarah di makam Guru Tua dipimpin langsung oleh Sayyid Husain bin Muhammad Al Aydrus dan dihadiri sekitar 100 orang termasuk para pengantar.
Suasana khidmat seketika berubah menggetarkan jiwa saat Sayyid Husain melantunkan qasidah ziarah. Minta.
Di depan pusara sang waliyullah, air mata jemaah tumpah, menyadari bahwa ziarah adalah pengingat akhirat yang paling nyata, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Ziarahilah kubur, karena ia dapat mengingatkanmu kepada kematian” (HR. Muslim).
Doa-doa panjang membubung ke langit, diamini dengan kepasrahan yang mendalam oleh seluruh jemaah yang hadir.
Usai merengkuh berkah di makam Guru Tua, rombongan bertolak menuju Pelabuhan Donggala untuk mengarungi lautan menggunakan Kapal Motor (KM) Dharma Kencana V.
Mereka siap membelah ombak demi mengejar majelis ilmu dan haul yang dijadwalkan berlangsung mulai 2 Juni 2026 untuk acara Rauha, dan puncaknya pada Rabu, 3 Juni 2026.
Perjuangan menyeberangi lautan ini senada dengan firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 31: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya.
“Puncak keharuan meledak di pelataran Pelabuhan Donggala. Momen perpisahan itu terasa begitu menyayat hati sekaligus indah.
Garis takdir seolah diuji saat suami melepas kepergian istri, istri mencium tangan suami, dan anak-anak memeluk erat orang tua mereka yang hendak pergi beribadah.
Di balik air mata yang berlinang, terselip keyakinan akan janji Allah bagi mereka yang saling mencintai karena-Nya.
Momen sarat emosi ini diabadikan melalui kamera ponsel sebagai saksi sejarah cinta mereka kepada para ulama.
Tepat pukul 12.00 WITA, pintu gerbang dermaga dibuka. Rombongan haul yang dikoordinasi dengan penuh amanah oleh duo Syarifah, Ifa Sofa dan Marwah Al Aydrus, mulai bergerak memasuki area pemeriksaan bagasi.
Langkah-langkah kaki jemaah diiringi lambaian tangan perpisahan dan isak tangis yang pecah dari sanak saudara.
Di balik deru mesin kapal dan lambaian tangan yang kian mengecil, ada doa yang terus mengalir agar perjalanan ini bernilai jihad di sisi Allah SWT dan kembali membawa keberkahan bagi Kota Palu.
NK


















