PALU – kabaronenews.com – Di bawah naungan atap Aula Torabelo Polresta Palu, sebuah fragmen sejarah baru saja tertulis dengan tinta persaudaraan.
Ketegangan yang sempat menyelimuti persiapan Haul ke-58 ulama besar pencahaya Timur Nusantara, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua), akhirnya luruh berganti sujud syukur.
Dualisme kepanitiaan yang sempat memicu kekhawatiran akan retaknya ukhuwah, resmi disatukan dalam sebuah mufakat yang khidmat, Kamis (19/3/2026) sore.
Rapat krusial ini bukan sekadar pertemuan formal birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar langit untuk menjaga marwah sang guru.
Dimediasi langsung oleh jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah, pertemuan ini dihadiri oleh Kapolda Sulteng, Ketua DPRD Sulteng, Walikota Palu, Hadianto Rasyid dan Kapolresta Palu, hingga keluarga besar Al Khairaat.
Semua hadir dengan satu kesadaran: bahwa Guru Tua adalah milik umat, bukan milik satu golongan.
Satu Guru, Satu Cinta
Suasana haru menyeruak tatkala seluruh pihak sepakat untuk menanggalkan ego demi kelancaran haul yang dijadwalkan memuncak pada 12 Syawal 1447 Hijriah (1 April 2026).
Berdasarkan mandat UU No. 2 Tahun 2002, pihak kepolisian bergerak cepat menjadi jembatan wasilah demi menjaga kondusivitas bumi Tadulako.
“Hasil keputusan hari ini menegaskan bahwa tidak boleh ada perpecahan di rumah Guru Tua. Beliau adalah pemersatu, maka haulnya pun harus menjadi ajang pemersatu,” ungkap Hadianto Rasyid setempat dengan nada bergetar.
Sinergi dalam Pembagian Tugas (Kompartemenisasi)
Demi efisiensi dan ketertiban ibadah, forum menyepakati pembagian tanggung jawab yang harmonis antara Pemerintah Kota Palu dan internal Alkhairaat:
Festival Raudah : Menjadi amanah penuh Pemkot Palu untuk memastikan kenyamanan Peserta dan para Peziarah yang datang dari penjuru negeri.
Rauah (Tahlilan & Pembacaan Kitab): Dikelola secara khidmat oleh Keluarga dan Yayasan Al Khairaat.
Puncak Haul: Menjadi tanggung jawab penuh Pengurus Besar (PB) Al Khairaat sebagai benteng utama warisan dakwah beliau.
Menatap Masa Depan yang Bercahaya
Langkah ini diambil bukan hanya untuk tahun ini. Pemkot Palu dan PB Al Khairaat sepakat untuk membentuk kepanitiaan permanen jauh-jauh hari di masa mendatang guna menghindari riak serupa.
Harapannya, manajemen yang tertata akan mencerminkan kemuliaan ajaran Guru Tua dalam menata pendidikan dan dakwah Islam.
Camat Palu Barat, Khomaeni, S.Sos., yang hadir dalam rapat tersebut, mengungkapkan bahwa pertemuan berjalan kondusif dengan semangat menyatukan pandangan.
“Hasil keputusan rapat tadi, semua pihak sepakat bahwa Guru Tua adalah milik kita bersama. Tidak boleh ada perpecahan,” ujarnya.
Ketua Utama Al Khairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Alwi Aljufri, dalam pesan singkatnya mengingatkan bahwa keberhasilan haul ini adalah cermin dari kekuatan silaturahmi.
Dengan Festival Raudhah yang dikonsep lebih megah dan pengawalan ketat dari Garda Al Khairaat (GAL) serta aparat keamanan, Kota Palu siap menyambut ribuan “pencari berkah” yang akan membanjiri Masjid Al Khairaat.
Kini, tidak ada lagi dua panitia. Yang ada hanyalah ribuan tangan yang saling bertautan, bersiap menyambut hari kemenangan di bulan Syawal, seraya mengenang sang pembawa pelita dakwah di tanah air.
NK



















