PALU – kabaronenews.com – Matahari 1 April 2026 menyingsing di ufuk Kota Palu, menjadi saksi bisu sebuah perjalanan rohani yang menggetarkan arsy.
Ribuan pasang kaki melangkah dengan satu ritme, satu suara, dan satu tujuan: Menjemput barakah dan menghidupkan kembali memori suci keteladanan Sang Pembawa Cahaya di Tanah Sulawesi, Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, dalam peringatan Haul Guru Tua ke-58, 12 Syawal 1447 H.
Bermula dari Bukit Tursina: Menjemput Rida di Puncak Doa
Suasana syahdu menyelimuti Bukit Tursina, Kelurahan Kabonena. Di markas pusat Majelis Dzikir Nurul Khairaat ini, gema takbir dan untaian doa membubung tinggi menembus langit.
Sebelum debu jalanan menyentuh kaki, Sang Khadimul Majelis, Habib Muhammad Sholeh bin Abu Bakar Al-Aydrus, mengajak sekitar 1.200 jemaah dari berbagai pelosok Nusantara untuk bersimpuh menghadap Kiblat.
Sholat Dhuha berjamaah menjadi fondasi perjalanan ini. Sebuah awal yang penuh khidmat, memohon rida Allah SWT agar setiap derap langkah dicatat sebagai amal saleh yang berat di timbangan mizan kelak.
Barisan Cinta: Sungai Cahaya Membelah Kota
Tepat pukul 09.00 WITA, gelombang manusia mulai bergerak. Formasi barisan tersusun indah laksana pasukan langit yang turun ke bumi.
Sang Saka Merah Putih berkibar tegak di garda terdepan—sebuah penegasan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).
Di belakangnya, panji-panji Majelis berwarna Putih, Hijau, dan Kuning berkibar, melambangkan kesucian hati, kesejukan dakwah, dan kemuliaan ilmu.
Tabuhan Hadroh yang ritmis memecah keheningan, mengiringi bait-bait Sholawat yang mengalir deras dari lisan para jemaah.
Di susul barisan anak anak dan kelompok Hadroh. ditengah barisan, tampak Habib Sholeh Al-Aydrus berjalan kaki dengan penuh ketawadhuan.
Beliau memilih menyatu dengan tanah, merasai keletihan jemaah, memimpin langsung rombongan yang mengular sepanjang 300 meter menempuh rute kurang lebih 4 kilometer.
Pemandangan ini bak sungai cahaya yang mengalir tenang, membelah hiruk-pikuk kota menuju muara rindu.
“Jalan kaki ini bukan sekadar perpindahan fisik dari Bukit Tursina menuju Al Khairaat. Ini adalah riyadhah batin yang sudah menjadi tradisi tahunan sejak 2000, juga sebagai edukasi bagi generasi muda bahwa Guru Tua adalah matahari pendidikan yang sinarnya tak pernah padam bagi umat Islam di Timur Indonesia,” ungkap Sayyid Husein Al Aydrus dengan suara yang bergetar penuh haru.
Samudra Zikir di Rumah Allah
Langkah kaki terhenti sejenak di Masjid Al-Kautsar kelurahan Kamonji untuk menunaikan sholat Dzuhur.
Di bawah naungan rumah Allah ini, suasana kian magis. Habib Idrus bin Abdillah menyampaikan nasihat haul yang menyentuh relung sanubari, mengingatkan jamaah akan fana-nya dunia dan kekalnya ilmu.
Puncaknya, pembacaan Yasin, Tahlil dan doa yang dipimpin oleh Habib Sholeh membuat suasana menjadi hening dan mengharukan.
Kerinduan kepada Sang Guru terasa begitu nyata. Gema Sholawat yang dipanjatkan ribuan lisan seolah menggetarkan pintu-pintu langit, mendoakan sang pendidik yang telah mewakafkan seluruh detak jantungnya untuk syiar Islam.
Puncak Ziarah: Air Mata Syukur di Pusara Sang Kekasih
Perjalanan ini bermuara di tempat peristirahatan terakhir Guru Tua di Mushola Al Khairaat SIS Al Jufri Kelurahan Kamonji.
Di hadapan makam sang ulama besar, qasidah kerinduan dilantunkan dengan nada yang menyayat hati. Ribuan lidah serentak melangitkan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, hingga Ayat Kursi.
Suasana memuncak saat doa ziarah dipanjatkan. Air mata jatuh membasahi pipi, namun itu bukanlah tangis duka. Itu adalah air mata syukur atas warisan iman yang tak ternilai harganya.
Usai berziarah, rombongan kembali menuju Bukit Tursina dengan jiwa yang terbasuh, membawa pesan abadi: bahwa mencintai ulama adalah salah satu jalan terdekat menuju cinta kepada Sang Khaliq dan Baginda Nabi Muhammad SAW.
NK


















