Kabar One News – TENGGARONG, Di tengah pesatnya transformasi Kalimantan Timur sebagai jantung baru pemerintahan Indonesia, sosok Sultan Adji Muhammad Arifin berdiri kokoh sebagai simbol keberlanjutan sejarah.
Sebagai Sultan ke-21 dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, beliau memikul tanggung jawab besar untuk memastikan akar budaya tetap menghujam kuat di tengah modernitas Ibu Kota Nusantara (IKN).
Silsilah dan Masa Muda
Lahir di Wassenaar, Belanda, pada 9 Februari 1951, Sultan Adji Muhammad Arifin merupakan putra pertama dari pasangan Sultan Adji Mohammad Salehoeddin II dan Ratu Permaisuri Adji Ratu Aida.
Memasuki usia 75 tahun pada Februari 2026 ini, perjalanan hidup beliau mencerminkan perpaduan antara pendidikan modern dan nilai-nilai luhur keraton.
Beliau menyandang gelar akademik Dr. Drs. H. Adji Muhammad Arifin, M.Si, yang menunjukkan komitmennya terhadap intelektualitas.
Naik Takhta dan Peran Strategis
Beliau resmi dinobatkan pada 15 Desember 2018 di Kedaton Kutai Kartanegara, menggantikan ayahandanya yang wafat pada Agustus 2018.
Sejak saat itu, Sultan Arifin menegaskan bahwa kesultanan bukan lagi institusi politik, melainkan benteng pelestarian budaya (cultural heritage).
Di bawah kepemimpinannya, tradisi tahunan seperti Erau Adat Kutai telah bertransformasi menjadi magnet pariwisata internasional tanpa kehilangan esensi sakralnya.
Salah satu momen ikonik adalah tradisi Beseprah (makan bersama duduk bersila), yang selalu beliau galakkan sebagai simbol kesetaraan dan persatuan antara pemimpin dan rakyat.
Komitmen Lingkungan dan Sosial
Memasuki tahun 2026, peran Sultan Arifin menjadi kian vital sebagai mitra strategis pemerintah.
Beliau secara konsisten menyuarakan falsafah “Tuah Himba Untung Langgong”, yang berarti menjaga hutan dan alam untuk kemakmuran yang berkelanjutan.
Fokus beliau meliputi:
Pelestarian DAS Mahakam
Mendorong perlindungan ekosistem sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Pendidikan Generasi Muda
Mengimbau pemuda Kutai agar mengejar pendidikan setinggi mungkin namun tetap menjaga identitas adat.
Stabilitas Sosial
Aktif meredam provokasi dan menjaga kerukunan antarumat beragama dan suku di wilayah Kalimantan Timur.
Sosok Bersahaja
Masyarakat mengenal Sultan Arifin sebagai pemimpin yang inklusif dan rendah hati.
Meskipun berasal dari garis keturunan bangsawan tinggi, beliau senantiasa membuka pintu silaturahmi bagi berbagai lapisan masyarakat, menjadikannya sosok pengayom yang dicintai di tengah perubahan zaman yang serba cepat.
Sebagai pemegang takhta di salah satu kerajaan tertua di Nusantara, Sultan Adji Muhammad Arifin adalah bukti hidup bahwa tradisi tidak harus mati diterjang kemajuan, melainkan menjadi kompas bagi masa depan bangsa.
NK



















